Kepekaan untuk membiarkan diri mengekspresikan rasa senang, sedih, jengkel, maupun haru atas hal yang tidak terduga adalah manusiawi. Tindakan kita setelahnya merupakan langkah kecil yang berani untuk memulai hal yang kita sadari adalah baik. Kita punya kontrol atas diri ini. Mari apresiasi diri kita atas langkah yang kita pilih. Tak apa memulai dengan langkah kecil, selama di depan ada muara yang kita tuju.
Setujukah bahwa kondisi pandemi yang terjadi sejak awal 2020 hingga kini menjadikan kita pribadi yang lebih matang?

Kondisi yang memposisikan kita dengan perasaan cukup melalui pencapaian hidup yang begitu-begitu saja, membuat kita kerap menjadi auto-pilot. Menerima, bersyukur, tanpa sadar malas menggali potensi lain dari dalam diri. Aku menyadari, kemalasan memang akar dari kebodohan. Hari ini, aku mulai menyimpulkan bahwa kemalasan merupakan akar dari segala degradasi yang ada dalam diri kita. Fatalnya, malas itu mengakar, malas itu mengasyikan, tapi ada kalanya kita berkeringat dingin melihat pencapaian diri yang itu-itu saja. Tidak ada progress signifikan, hanya aku yang gini-gini aja.
Kemudian kita mulai mencari teman yang senasib. Menyuntikkan semangat-semangat senada yang berujung pada pemakluman ketidakproduktivitasan diri yang terbentuk. Kita semakin terbuai dengan stagnasi. Kita memeluk diri kita yang telah bebal, tapi lidah kerap kelu saat menerima pertanyaan, "sudahkah kamu mendapati pencapaian dalam hidup?" Inikah yang benar-benar kamu inginkan, Ni?
Terkadang kamu perlu dipecut, supaya terluka dan paham rasa sakit. Rasa sakit yang menghasilkan pergeseran maju atau bahkan membuatmu berlari. Bukan berlari dari rasa takut, tapi berlari untuk melampaui batasmu yang seharusnya telah kamu capai dari kemarin-kemarin. Apakah kamu terus-terusan mau kerja keras bagai kuda, namun kamu hanyalah moda penggerak Pak Kusir hingga sampai tujuan?
Ni, sebelum kemalasan makin mengakar, ayo bangkit. Lakukan peregangan, bersiaplah berlatih, untuk berlari sekuat tenaga. Bukan untuk menjadi kuda empunya Sang Tuan, tapi menjadi kuda tak bertuan dengan kamulah pemilik diri yang paling hakiki. Tak apa sedikit terlambat, tapi kesungguhan ini, semoga menjadi awal titik baru yang kamu sadari meski telah lebih dari satu kuarter abad kamu menginjakkan kaki di dunia ini.
Aku yang kerap kali monolog dalam balutan kata-kata abstrak
Hari ini aku menyadari bahwa aku adalah pemalas
Bila beberapa tahun lalu aku berharap ditempa
Tahun ini aku berharap mendapat 1 pecutan
Sebelum kemalasan jadi akar penyesalan
Jangan malas kalau tidak mau menyesal
Masih ada waktu, bersiaplah berlari
Jakarta, 29 Maret 2021
@niiakaroon

Flashback ke 18 tahun lalu, di kelas 5 SD, ternyata gue sudah membangun motto hidup yang konsisten gue bawa sampe sekarang. Pas dulu baru bisa bahasa Inggris dikit (sekarang juga nggak jago-jago amat sih), gue ngerasa gue itu perlu jadi choosy tapi nggak mau juga jadi keliatan orang yang cheesy. Sampe akhirnya, kepikiran untuk bikin singkatan ala-ala dengan kependekkan CHOOSC yang berarti clear, hope, open, optimist, smile, and, creative yang kalo dibaca singkatannya ya jadi choosy tadi. Kala itu, gue ngerasa singkatan ini keren banget. Sampe beberapa hari gue hafalin pake jari kata per kata untuk mengurai singkatan CHOOSC itu kepanjangan dari apa aja (paham kan hafalin kayak ngitung pake jari sambil nunjuk jari? Misalnya, jempol untuk C yang artinya Clear, telunjuk untuk H yang artinya Hope, jari tengah untuk O yang artinya Open, dan seterusnya).
Dulu gue ngerasa kalo gue emang ngerasa perlu merangkum beberapa kata sifat yang cukup menggambarkan diri gue sekaligus karakter yang mau gue bentuk di kemudian hari. Gue inget banget, saking ingin internalisasi karakter-karakter ini ke diri gue, akronim CHOOSC ini sempet gue jahit di taplak meja as signature untuk mata pelajaran Kertakes alias Kerajinan Tangan dan Kesenian. Kalau dipikir-pikir sekarang, gue yang dulu kala bisa dibilang cukup visioner dan udah tahu gimana ngebentuk fondasi di diri gue untuk bekal di masa depan tanpa disadari. So, I thank to myself when I was 11 years old. These 6 magic words shaped me. Sedikit banyak 6 kata ini yang jadi pegangan pribadi gue dalam melihat keadaan yang gue udah alami selama 18 tahun setelahnya (sudah tua ya? Memang, tapi I see my age as a number that actualize my existence on this Earth). Enam kata ini juga yang bikin gue bisa recall lagi kalau lagi ngerasa low dan butuh semangat lagi.
Mungkin sebagian dari kalian ngerasa kalau motto hidup itu nggak perlu atau bahkan udah nggak relevan, atau ada juga yang mengambil motto atau falsafah hidup orang kenamaan untuk dipegang jadi acuan pribadi karena relate banget sama diri kalian. Well, entah mengapa, gue yang masih hijau kala itu udah berpikir untuk punya motto diri yang otentik ingin dibangun.
Trus, hari ini kepikiran soal gue yang masih kecil cenderung lebih matang untuk mengetahui apa yang dimau sama diri gue sendiri. Kalau dipikir-pikir, buat apa gue harus punya motto hidup di umur 11 tahun? Buat apa juga nilai-nilai ini perlu gue bawa sampe sekarang? Kalau kita hidup dalam suatu pranata udah pasti dong perlu punya nilai-nilai yang akan diimplementasi semacam nilai sosial, susila, kesopanan, dll dandengan mempraktikkannya sebagai penyerta bahwa lo adalah bagian dari pranata itu. Kalau dibaratin kayak gitu, 6 kata ini adalah nilai dalam pranata yang anggotanya gue sendiri. Tujuannya, sebagai mantra yang menjaga gue tetap waras.
Gue suka banget perhatiin pola perilaku dari orang-orang yang ada di sekitar gue. Tapi, gue kadang malah abai sama pola yang ada di diri gue sendiri. Pas lagi kontemplasi soal 2020, kok gini amat ya, mikir bengongnya tuh sambil liatin profil Instagram gue. Orang-orang pada berubah, circle gue pun berubah. Orang yang sebelumnya adalah sahabat gue trus sekarang jadi strangers-pun banyak, tapi ada satu hal yang berubah dari diri gue: Nia yang sekarang udah heartless, udah nggak terlalu ambil perasaan atau sedih berlarut-larut dengan kenyataan ditinggal orang-orang terdekat. Kehilangan adalah suatu keniscayaan. Kondisi kehilangan orang-orang yang dulunya deket banget karena intensitas komunikasi kita yang berkurang adalah salah satu kemungkinan yang perlu dihadapi semakin kita bertambah umur. Oke sebelum makin ngelantur, kita balik lagi yuk soal perhatian gue mengenai pola perilaku yang suka gue perhatiin. Kali ini, fokusnya ke bio Instagram gue. Di situ tertulis:"𝒄𝒍𝒆𝒂𝒓, 𝒉𝒐𝒑𝒆, 𝒐𝒑𝒆𝒏, 𝒐𝒑𝒕𝒊𝒎𝒊𝒔𝒕, 𝒔𝒎𝒊𝒍𝒆, & 𝒄𝒓𝒆𝒂𝒕𝒊𝒗𝒆". Dari situlah, gue jadi flashback beberapa belas tahun lalu dan akhirnya kerangkai deh kata-kata buat nulis blog ini lagi.
Filosofi untuk berpikiran bersih, penuh harap, tetap terbuka, hidup dalam keoptimisan, melengkapinya dengan senyuman, dan berpikir kreatif secara implisit ngebantu banget diri gue untuk get back on track ke nilai-nilai positif yang udah gue buat. Intinya, as positive self-affirmation. Sekarang, dari 6 kata ini, gue bisa ngeliat diri gue dari sisi yang berbeda. So, here we go...
Aku Anaknya Cenderung Visioner
Gue baru sadar kalau gue ada kecenderungan ini. 5-6 tahun terakhir gue memiliki lebih banyak peran sebagai eksekutor. Orang yang kerjaannya ngejalanin tugas, sampai sekarang masih sih, tapi perannya lebih banyak ke strategi, planning, dan kasih arahan. Makin ke sini mungkin kedengerannya sok bijak, tapi gue meyakini apa yang gue share ke circle teman-teman di kantor, khususnya tim gue, based on empirical experiences. Nggak semata-mata karena gue harus bersikap simpati atau empati, tapi segala masukan, saran, atau tips & trick berdasarkan apa yang pernah gue lakukan, rasakan, dan lewati. Kadang gue ngerasa terlalu matang di umur gue yang sekarang, tapi hal ini juga yang bikin gue jadi maju. So, I embrace it anyway.
I'm appreciating all the thinking process
Butuh 18 tahun buat gue sadar, kalau 6 kata afirmasi ini terbentuk dan terbangun sejak gue SD dan gue konsisten untuk jalaninnya. Bahkan tetep inget itu juga sebuat prestasi personal. Semakin bertambah umur pikiran makin banyak ya, kan? Tapi hal-hal yang sifatnya prinsip atau pegangan nilai yang melekat di diri kita rasanya itu hal yang fundamental ada di diri kita. Bukan berarti gue mendorong buat pembaca blog ini untuk menjadi seperti diri gue, enggaaa. Tapi, tiap orang punya prosesnya masing-masing. Gimana dia memaknai hidup, gimana dia ngeliat suatu hal dan memilah-milah mana nilai yang paling pas buat diri sendiri, mana yang nggak harus diikutin.
Proses mikir sedikit banyak bisa ngebantu kita menyesuaikan penggunaan energi dan skill yang kita punya, trus bisa ngebantu kita untuk fokus ngeliat jalan keluar yang memungkinkan. Tapi balik lagi, proses mikir kita fokus kemana? Kalau fokusnya ke masalah, kita cuma muter-muter di situ doang, blaming someone else or ourselves atau mencari alasan-alasan sebagai justifikasi kalau kita nggak bersalah atas suatu masalah yang terjadi. Beda cerita, kalau fokus kita curahin ke solusi, mungkin kita bisa nemuin pola pemikiran terstruktur untuk mencari jalan keluar dan meminimalisir waktu yang terbuang dari proses mikirin masalahnya doang.
Gue yang di umur 11 tahun, ngeliat bahwa proses mikir sesuatu yang bisa jadi motto hidup yang outputnya adalah 6 kata yang terbentuk itu merupakan potensi yang gue udah punya dan potensi-potensi yang gue bisa kembangin karena pada saat itu gue masih memiliki kekurangan-kekurangan.
Leadershipless leads me to have a leaderships
Gue dibesarkan dari keluarga yang sederhana dan bisa dibilang bukan siapa-siapa. Bukan petinggi atau orang yang punya harta dan tahta. Gue bersyukur dibesarkan oleh ayah yang keras tapi sayang anak dengan caranya yang unik (dulu sih gue bilangnya ini overprotective banget) serta oleh seorang ibu yang kuat dan suportif banget atas segala langkah yang gue ambil. Kontradiksi pendapat antara ayah dan ibu kerap dimenangkan si bapak tapi dibalik itu, ibu selalu tahu apa yang betul-betul anaknya butuhkan sehingga gue nggak pernah merasa ditinggalkan. Gue dibesarkan bukan untuk menjadi orang besar di masa depan, tapi dididik untuk saling mengerti kondisi satu sama lain baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekitar.
Gue bukan orang kerap mendapatkan ilmu kepemimpinan di bangku sekolah. Kalau kalian familiar atau sempat jadi bagian anggota BEM. Gue nggak sama sekali pernah menjadi bagian itu di sekolah. Antara mereka nggak melihat gue memiliki potensi jadi pemimpin dalam proses rekruitmen atau ya gue udah sibuk nyari uang jajan jadi guru privat door to door atau kerja paruh waktu jadi guru bimbel. Hidup itu pilihan ya 'kan. Kalau gue sibuk organisasi, gue nggak bisa nabung beli hape Cina atau bayar cicilan laptop merk Compaq kala itu (masih inget banget ini gue cicil sama owner di bimbel tempat gue kerja).
Dari kehidupan leadershipless ini, gue malah belajar how to lead myself naturally. I'm being my own leader. At least, gue bisa atur diri gue sendiri tanpa harus ngerepotin orang lain.
Sekarang, mungkin karena udah beberapa kali punya pengalaman kerja yang cukup konsisten dan milestones, I'm being the leader of a small team. Sekarang gue malah kebentuk leadershipness itu dengan sendirinya dan gue bangga dengan progress dari hidup gue sejauh ini.
Tugas gue selanjutnya hanyalah gimana caranya stay sane, have a meaningful and joyfulness in life.
Sekarang-sekarang, kita banyak takut untuk berkata, apalagi tanpa data. Katanya hoax, katanya informasi palsu. Kali ini, bukan maksud saya mendukung apa yang disebut-sebut hoax, bukan juga membudidayakan kebiasaan menyebarkan informasi palsu. Tapi ada kalanya bicara itu berupa artikulasi kata-kata, namun banyak kata-kata yang tak harus didukung data-data. Contohnya, lewat gubahan sebuah puisi~
permulaan selalu mampu memacu semangat
ada angan yang ingin disegerakan nyata
ada tujuan terencana yang ingin dipanjat
permulaan ialah babak baru semata
proses selalu berjalan di tengah
dia perantara antara prediksi dan proyeksi
proses pun tak selalu berjalan dengan mudah
kadang sesuai ambisi, kadang menyulut emosi
berkisah tentang seseorang yang dijuluki sayang
dia sumber rasa girang, meski tak pernah sembahyang
girang dan sembahyang tentu tak berkaitan saling silang
keduanya hanya membentuk kontras untuk tayang
sadarkah, sayang...
kita tak lagi saling bertatap?
mengendurkan ikatan, saat pertalian tak lagi mantap
masih adakah rasa sayang?
kita terbentuk dalam pekat,
kini meluntur seiring waktu
meluntur tidak mengurangi sifat pekat
ia hanya membentuk warna yang baru
warna yang tak sempat terselamatkan
termakan akibat gesekan dan penyusutan
warna baru yang tak lagi otentik
akibat waktu yang terus berdetik
Aku dengar Tuhan suka dengan yang ganjil
Mungkin saja manusia dibekali kekuatan oleh penciptaNya
Untuk hidup dengan dirinya sendiri
Atau hidup dalam tiga, atau bisa juga berlima, dan seterusnya (?)
Atau hidup dengan keganjilan-keganjilan
Keganjilan yang mereka ciptakan sendiri
Keganjilan yang mereka suburkan sendiri
Karena pencipta, memang suka yang ganjil-ganjil bukan?
Bumi ini ganjil
Karena cuma satu
Kalau ada dua
Bukankah akan menjadi genap?
Mulai sekarang, cobalah hidup secara ganjil
Karena, ganjil itu bukan sekadar angka
Tapi bisa dipandang sebagai hal yang lain
Seperti:
Cara melihat
Cara memandang yang berani
Untuk menjadi berbeda; melihat yang berbeda
Untuk menyikapi hal yang di luar kapasitas kita
Untuk menyadari tak semua perlu ada jawaban
Untuk belajar bahwa menjadi ganjil itu manusiawi
Dan ilahi menyukai kegasalan semesta
untuk menyempurnakan dan menggenapkannya
dalam sebuah keseimbangan.
***
Beberapa bulan belakangan, aku kerap tergugu. Berkata-kata tapi tak cakap. Mengangguk-angguk seolah udara, dinding, dan pendingin ruangan adalah lawan bicaraku dan mereka sudah paham dengan bahasa bisuku. Saat ini, aku tak punya alasan untuk berpaling; Tak ada alasan untuk memilih yang lain. Aku tertuju pada satu.
Akhirnya... setelah sekian lama, aku menemukan jawaban. Tentu yang membahagiakan. Namun, caraku mengekspresikan perasaan ini sangatlah kontradiksi dengan yang seharusnya aku tunjukkan. Caranya pun selalu sama: menangis.***

"Embrace uncertainty. Some of the most beautiful chapters of our lives won't have a title until much later." - Bob Goff
Disclaimer: Tulisan lama yang tersimpan di-draft, dan baru diselesaikan untuk dipublikasikan. Tulisan ini bukan tentang menceritakan siapa-siapa, tapi mengajak untuk saling berkaca. Ojo baper.
"Sometimes we argue, and sometimes we have made a fallacy. Sometimes we can't think logically in anger, and at the same time, we demand into something that we think it is right but it's not. At that time, we forgot all those moments and realized, only regrets was remain because of bad words that we spitted out."


Disclaimer: All characters in this story might be are real, might be fictional too. But, the writer's story is real.
"Kamu kapan nikah?" tanya dokter Budiman.Lagi-lagi pertanyaan itu, pikirku. Untungnya aku sudah kebal menjawab pertanyaan macam ini. Aku awali dengan menjawabnya lewat senyuman. Dokter Budiman melihat mimikku sambil mempersiapkan peralatannya untuk memeriksaku. Aku dibantu suster untuk naik ke meja periksa pasien.
"Belum ada lamaran datang atau belum ada yang sesuai, Ni?" lagi-lagi dokter Budiman kepo."Ya, begitulah, dok... he he he," tutupku. Lalu dokter Budiman mengambil alat USG dan memeriksa perutku. Hal rutin yang aku lakukan setahun belakangan ini selama dua bulan sekali.
***
Aku datang ke klinik ini selalu dengan pikiran optimis. Tanpa rasa takut, apalagi sedih.
Teringat tahun lalu, aku melihat mimik keluargaku yang panik bahwa aku harus melakukan proses operasi khusus untuk pengangkatan seluruh rahimku. Ada massa padat di dalamnya sebesar 10 x 11 cm dengan CA 125 di atas 5,000.
Aku tak takut, karena fokusku adalah mengangkat massa asing ini segera supaya aktivitas sehari-hari bisa berjalan dengan semestinya. Aku tak takut, ada keyakinan aku bisa melewati ini semua.
Dari proses operasi hingga selesai aku lewati dengan lancar. Bukan sombong, di belakang sana ada orang-orang tersayang yang mendoakan selalu. Terima kasih ya...
Keesokan harinya, dokter Budiman mengunjungi kamarku, memeriksa jahitan dan bercerita sedikit mengenai proses operasi kemarin. Dia mengatakan karena statusku masih single, maka dia dan tim dokter mengusahakan untuk menyelamatkan yang bisa diselamatkan dan tidak mengangkat seluruh rahimku. Akhirnya indung telur sebelah kiri berhasil diselamatkan. Aku dikatakan sebagai wanita yang beruntung karena dalam usiaku, aku bisa melewati proses semua ini.
Walau pada akhirnya, aku menangis juga. Menangis karena bersyukur, ternyata aku masih disayang Tuhan. Aku masih diberikan 1 nikmat yang harus dijaga untuk menghasilkan keturunan. The one and only my left ovary.
Sekarang sudah beberapa kali aku memeriksakan diriku dan datang ke sini. Aku ingin CA 125 ku turun total hingga <35 . Ya, batas aman yang seharusnya.
Kali ini, aku pun semangat memeriksakan diriku datang untuk check up setelah aku menerima hasil lab pada pagi harinya. Hasilnya menunjukkan penurunan drastis, dari beberapa bulan lalu 100, 90an dan hari ini turun hingga 88. Lega rasanya...
***
Dokter Budiman masih mengobservasiku. Aku tak yakin dengan raut wajahnya.
“Gimana, dok?” tanyaku."Ada lagi, Ni... di sebelah sini," kata dokter saat mengarahkan alat USG-nya ke indung telur sebelah kiriku. Dia kemudian menuliskan bahwa besarnya 3 x 2.4 cm, memeriksa apakah massa tersebut memiliki pembuluh darah aktif atau tidak, lalu mencetak hasil USG-nya dan menyudahi pemeriksaan.
Aku terdiam. Sambil membereskan segalanya dan menuju ke kursi konsultasi lagi."Kenapa bisa muncul lagi, dok?" pertanyaan ini akhirnya muncul memecah keheningan antara aku, dokter, dan suster.
Dokter Budiman pun menjelaskan bahwa hal yang terjadi padaku adalah proses dari tubuhku sendiri yang membuat alien kecil itu muncul kembali. Tidak bisa disalahkan. Takdir.
Dia hanya bisa mengobservasi, dan melihat perkembangannya.
Mau tahu apakah ada banyak pantangan dari makanan ataupun gaya hidup? Jawabannya tidak banyak. Dokter hanya menyarankan supaya tidak makan ayam potong. Di luar saran dokter, keluarga dan kerabat pun turut memberi tambahan pantangan lain untuk mengontrol makanku supaya tidak makan ini dan itu. Aku pun mengiyakan saja. Karena memang tujuan mereka baik.Pikirku, diperlukan 5-10 bulan lagi untuk membuatnya menjadi normal di bawah 35. Karena setiap bulan turun 10 poin. Maka, untuk membebaskanku dari segala risiko pada rahimku, aku butuh waktu 10 bulan. Aku tak menyangka, ternyata prediksi dengan hitungan-hitungan matematika sederhana tidak bisa diterapkan untuk hal ini. Dia bisa muncul tiba-tiba, begitu cepat, dan tanpa tanda.
"Kalau begitu, saya mau lihat lagi (perkembangannya) bulan depan ya. Kita lakukan pemeriksaan yang sama dan melihat apakah dia bertambah besar atau tidak."Aku mengiyakan. Membayar biaya konsultasi, dan berjalan pulang dengan tatapan kosong.
Rasanya tahun lalu aku tak begini. Tahun lalu aku adalah orang yang berani. Seseorang yang berani menghadapi segalanya. Kali ini, aku merasa tidak berani melewatinya. Entah mengapa...
***
*Bersambung*

Aku selalu suka hujan. Aku pandangi. Tidak mengapa bila basah. Hujan membawaku pada pikiran-pikiran yang absurd. Pikiran yang terkadang tak sempat terpikirkan. Pikiran yang hanya muncul pada saat hujan.
Dulu hujan membuatku gampang sendu, karena dunia dianggap bubar dan hajat jadi berantakan bilamana hujan datang. Padahal hujan tak pernah salah apa-apa...
Sekarang hujan lebih banyak membuat aku tersenyum bahkan menertawakan hal-hal baru yang belum pernah aku temukan sebelumnya, dan semestinya memang disikapi begitu. Bukankah datangnya hujan harus disikapi dengan kebersyukuran?
Dear hujan,
Mengingat kamu menyisakan senyuman-senyuman kecil yang tak berkesudahan.
Ada kesulitan yang dialami tapi dengan mudah dihadapi dengan konklusi akhir: "Yasudah, mau gimana?"
Mengingat kamu bikin waspada. Mengira-ngira apakah perlu sedia payung sebelum hujan atau membawa jas hujan sebelum basah (?)
Mengingat kamu juga menyisakan cerita-cerita saat sulit dan terjepit, lucunya, tak pernah terpikir untuk menangisi kondisi tersebut dan malah lebih memilih menertawakan kebodohan itu sendiri.
Mengingat kamu mengajarkan bahwa kesabaran menunggu itu akan segera terbayar. Sabar, karena kamu akan segera reda.
Mengingat hujan menyisakan cerita-cerita baru. Tentang kerjasama yang berakhir dengan kebodohan bersama. Tentang kewaspadaan pada jalan yang licin. Tentang bisik-bisik cerita yang sama di antara orang-orang yang berteduh.
Sejauh mata memandang ada jalanan basah akibat derasmu.
Sedekat mata melihat ada hati bahagia akibat genggaman hangat dengan baju setengah basah.
Dear hujan,
Sampai bertemu lagi di lain waktu. Dengan antusias aku nantikan cerita-cerita baru darimu.

"Proses menemukan dan mendapatkan itu bukan sesuatu yang gampang. Terkadang kita suka menggampangkan sesuatu saat sedang emosional. Alhasil, jadi gagal mendapatkan karena kita pikir hal tersebut gampang saja untuk dicapai. Ada pula yang bilang cara yang gampang itu adalah shortcut. Bukankah dengan menemukan 'jalan pintas' kita akan lebih cepat mencapai tujuan? Mempercepat proses menemukan dan mendapatkan memang bukan hal yang gampang, tapi mengetahui seni mendapatkan dengan cara yang tidak rumit adalah kunci."
Ngomong apa sih gue? LOL
Quotes di atas nggak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang mau gue tulis.
Gue hanya ini menyampaikan, "Ini lho tulisan pertama gue di 2018!" hehehehe
Gue berterima kasih sama Tuhan karena bisa sampai di titik ini. Gue berterima kasih sama Tuhan karena diberikan kesempatan hidup yang luar biasa. Padahal, dengan mudahnya Dia bisa ambil nyawa gue Februari 2017 lalu. Tapi, inilah kehendak Dia. Gue dikasih kesempatan. *sujud syukur*
Tahun ini gue punya resolusi untuk menekan diri gue supaya bisa bermanfaat bagi sekitar gue. Salah satunya dengan menulis.
Selama ini tulisan gue hanyalah sebatas kegundah-gulanaan gue soal sesuatu yang abstrak dan random.
Tahun ini (semoga kesampean), gue berencana untuk menulis sesuatu yang berkaitan dengan ranah yang udah gue jalani sejak 4 tahun ke belakang. Ya, tentang media sosial.
Semoga, gue bisa nulis sedikit agak intelek ya dengan topik yang sebenernya selalu gue hindari untuk tulis, karena gue merasa masih jauh dari sempurna, perlu banyaaaaaaakkkk banget belajar, dan masih ngeri dihajar massa karena gue sotoy.
So, yeah!
Welcome 2018!
Btw, ada yang mau baca tulisan gue tentang socmed gak ya? *tetiba ku ngeri sendiri*
Brb


"Ada titik di mana kita merasa tidak akan mampu merasakan proses kehilangan, namun ada titik di mana kita bangkit dan sadar bahwa kita akan baik-baik saja. Manusia, punya kemampuan mempertahankan diri, juga memulihkan diri.
Ya, kamu benar! Sekarang, aku baik-baik saja."
Apa kabar mimpi buruk kemarin?
Rasanya, gue sudah mulai bisa melupakannya.
Dari sekian kesempatan tidur yang gue punya, beragam mimpi yang gue rasakan, hingga beragam igauan yang secara nggak sadar terucapkan kala pagi buta, gue menakar-nakar setiap terbangun, apakah rasa kehilangan itu sudah memudar?
Nggak ada luka kasat mata di sekujur tubuh. Tapi, rasanya perih bahkan bisa sampai bikin menangis.
Kadang, rasa perih itu datang saat malam hari, tanpa diduga-duga.
Keesokannya, membekas pada gumpalan kelopak bekas air mata semalam. Jujur deh, kalian pernah kan merasakan momen begini? Atau cuma gue yang aneh? (Somehow, gue emang freak, sih!)
Rasa perih yang muncul bukan soal rindu dan mempertanyakan apakah rasa itu akan berbalas(?), tapi untuk lebih meresapi bahwa proses penyembuhan luka itu memakan waktu dan menyiksa.
Bukan soal mengharapkan lagi yang sudah tiada dan tak mampu tergapai, namun untuk lebih menyadari—tanpa menghakimi—, bahwa kematangan itu tidak mudah dicapai. Dia baru bisa kita resapi saat kita ikhlas melepaskan sesuatu.
Di penghujung tahun ini, ada sesuatu yang hendak aku katakan, "Kamu benar! Sekarang, aku baik-baik saja."
Terima kasih, 2017, kamu hadir berbalut makna dan kabut, memukau dari segala sudut, dan berakhir tanpa lupa memberi rasa kejut.

Well yeah, instead of telling everyone that life is bitter, we better put ourselves to contemplate and say that life has its uniqueness and also makes us itchy sometimes.
We made mistakes. A lot. And repeated.
Even it happened again and again, we knew that what a dumb kiddo we are! But, a good thing, we learnt, we grew up.
We made mistakes. Say sorry all the time. And repeat all over again like we never did it before.
Even we're pretty sure they can forgive us eventually, we realized that what a useless person we are! But, a good thing, we learnt more, we grew up more.
We made mistakes. We scare. And run.
Even we knew the problem will never ever disappeared if we’re kept hiding in secret place and hopefully people will forget it anyway, we’ll find ourselves as the most coward mankind. At the end, all we need to do: face it like a man until it solved.
Nobody can feel it exactly, but us. What they feel is not necessarily the same as what we feel.
That’s why I said it is unique.
And yeah, it’s ultimately provoke intense itching.
Itchy, itchy, itchy and ready to get scratch, scratch, and scratch.
Oh dear, this life could be end just only by a blink of an eye. Why do we tend to be too ambitious and ultimately ignoring the real things that are important? We run for pursuing our need in this world.
Sometimes, life was just unique and itchy, but one thing, we might be realized that life is not only about wealth and the throne but also a matter of a balanced conscience and a life that comforts us both in the world and the hereafter. So, have you set your direction better? Tell me.
We Can Never Depend on People...
We did it, then we regret. So, just don't.
But, the only good thing of depend on people is the moment when we realized that the best place ever to depend on is only to God.
Gue percaya bahwa kita pasti pernah berada dalam situasi bergantung terhadap seseorang ataupun sesuatu. Yang namanya bergantung, sudah pasti candu. Dan yang namanya candu, sudah pasti karena cinta, atau kita sudah dibuat mabuk.
Karena gue sudah keceplosan ngomong cinta, pasti pada bayangin contoh yang sama deh! Yakin banget gua...
Padahal, bukan cuma cinta yang bisa dijadiin contoh.
Selain cinta, yang bisa bikin kita bergantung, candu, dan mabuk kepayang adalah yang namanya mirasantika. Ya, mirasantika. Meminjam istilah Bang Haji Rhoma Irama, kita bisa juga dibuat bergantung minuman keras dan narkotika.
Tapi, bukan mirasantika yang mau gue bahas dalam tulisan kali ini.
Balik lagi ke rasa bergantung. Menurut gue, dari rasa bahasanya aja, kata bergantung itu terdengar negatif. Iya? Ya, iyalah! Bergantung itu bikin kita gak bisa berdiri sendiri, cenderung mengandalkan orang/sesuatu, dan tentunya gak produktif.
Sebenarnya, momen bergantung itu muncul dari kata positif yang namanya percaya. Dari percaya kita yakin bahwa apa yang kita sudah percayai dan yakini itu mampu membuat hidup kita lebih baik.
Sebenarnya, gak ada yang salah dari rasa percaya, as long as, rasa percaya itu tepat sasaran dan kita berikan pada zat yang maha dapat dipercaya. Bukan pada sesuatu atau pun seseorang!
Karena segala sesuatu dan setiap orang itu diciptakan dengan segala ketidaksempurnaan. Ibarat prototipe robot, kita dibuat dengan segala kecanggihan (kelebihan) dan segala kemungkinan error (kekurangan) yang beragam dan dikondisikan untuk saling melengkapi satu sama lain. Lebih parahnya, kalau permesinan kita gak pernah di-upgrade oleh teknisi atau gak di-update otomatis secara berkala, prototipe mesin ini akan menjadi sebuah mesin tua yang dalam hitungan waktu dimuseumkan dan menjadi legenda.
Rasa bergantung dalam konteks yang gue tulis ini, mungkin lebih masuk untuk hubungan pertemanan, persahabatan, maupun perpacaran.
Pasti pernah dong, kita percaya sama seseorang yang ujung-ujungnya membuat kita kecewa?
Dari rasa kecewa itu, kita menyesal, kenapa sudah percaya sama orang tersebut. Padahal momen itu terjadi karena rasa bergantung yang kita sudah biarkan melenggang masuk ke dalam sanubari kita serta telah diberikan tempat yang nyaman di rongga perut sebelah kanan kita (read: hati). Salah kita sih... (atau salah gue?)
Menurut gue, ada beberapa indikator tanda kita sudah mulai bergantung dengan seseorang.
Pertama, rasa nyaman. Ibarat hunian rumah yang ber-AC dengan ruang yang luas, kita bisa bebas ngegelosor, guling-guling, salto, dan melakukan aktivitas senam lantai lainnya di dalam ruang yang nyaman itu. Kita lupa, bahwa hunian itu bukan sepenuhnya milik kita (karena masih nyicil misalnya... hehehe).
Alhasil, suatu ketika kita tidak merawat hunian itu dengan baik, tiba-tiba, muncul masalah.
Entah gentingnya bocor, lantainya retak, atau pasaknya rapuh. At the end, tinggal nunggu waktu ketiban rumah deh! (Amit-amit ya)
Untuk mencapai momen ketiban rumah itu butuh waktu yang tidak sedikit, sama halnya momen ketika dikecewakan. Untuk membangun kepercayaan itu juga membutuhkan waktu; untuk membangun kenyamanan butuh waktu juga, dan untuk merasa dikecewakan itu butuh waktu yang lebih lamaaa. Jadi, kalo belum siap dikecewakan, jangan cepat percaya dan nyaman sama orang.
Kedua, rasa pasrah (bukan sikap pasrah, apalagi gaya pasrah ya!)
Terjemahan bebas ala gue dari rasa pasrah itu adalah ketika kita menyerahkan seluruh jiwa dan raga atas apa yang akan terjadi pada diri kita, namun rasa pasrah itu diberikan semata-mata tidak tanpa syarat.
Syaratnya adalah akses yang utuh dan pemberian timbal balik yang sama terhadap seseorang yang kita sudah berikan rasa pasrah kita secara sukarela. Seems like sacrifice ourselves, but we demand sacrifice from her/him too.
Dari rasa pasrah, kita mulai menggantungkan hidup. Awal mula menggantungkan hidup itulah yang merupakan cikal bakal kecewa dikemudian hari. Khususnya, bila orang itu tidak memberikan timbal balik yang sama atas apa yang telah kita lakukan.
Pasrah juga identik ketika kita has no power atau dengan sengaja menjadi orang yang powerless.
Power itu seperti sistem imun, sehingga kondisi powerless ini bisa diibaratkan sistem imun yang melemah dan akan membuat kita lebih mudah menjadi kecewa bilamana timbal balik yang kita dapatkan tidak setimpal atas rasa pasrah yang sudah kita berikan. (Gimana sih, katanya pasrah, kok tetep ngarep timbal balik (?))
Ketiga, kita tidak menggunakan logika untuk mempertimbangkan segala risiko.
Artinya apa? Artinya ente baper (read: bawa perasaan)!
Susah deh kalo udah baper, apapun diputuskan tanpa logika. Padahal, rasa bergantung terhadap seseorang itu sudah pasti nggak ada faedahnya apa lagi dibentuk atas visi dan misi yang nggak terlalu sejalan dan nggak terlalu kuat pondasinya. Tinggal tunggu waktu aja, rasa baper berubah menjadi rasa super-baper lalu menjadi rasa super-combo-baper, dan lalu menjadi rasa super-highest-combo-baper-is-starting-to-explode. DHUARRRR!
Pelajaran yang bisa diambil apa?
Pertama, kita belajar bahwa hidup itu nggak ada yang sempurna, dan pasti begitu. Kita memang makhluk yang diciptakan paling sempurna di antara makhluk yang ada di dunia, tapi bukan berarti kita adalah makhluk yang paling sempurna sejagat raya. Kita sengaja dibentuk sebagai makhluk sempurna yang dari pabrikannya pasti memiliki tanda reject (cacat).
Sedikit banyaknya tanda reject (cacat) yang terlihat maupun yang tersirat itu menentukan kualitas kita di mata manusia dan di hadapan Tuhan.
Kedua, kita belajar untuk lebih bertanggung jawab. Rasa kecewa akibat bergantung pada seseorang biasanya terjadi ketika orang yang sudah terlanjur kita gantungi tidak bertanggung jawab/kurang bertanggung jawab atas diri kita. Alhasil, rasa kecewa kian terpampang nyata.
Dari fenomena ini, kita dituntut untuk lebih mawas diri di masa depan untuk tidak menjadi sosok yang tidak/kurang bertanggung jawab itu dan lalu menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, setidaknya tanggung jawab atas diri sendiri, supaya diri ini tidak kecewa dengan diri sendiri. (NEEEETTT... Mengulang kata ‘diri’ dan ‘sendiri’!)
Ketiga, belajar dari kesalahan diri. Bila menilik tiga indikator di atas, pasti kita sadar, bahwa rasa bergantung itu sumber kesalahan dari diri kita sendiri. Kesalahan ketika kita membuat diri kita merasa nyaman, kesalahan ketika kita mulai pasrah, dan kesalahan ketika kita berpikir tanpa logika.
Maka dari itu, tiga kesalahan tersebut, wajib kita ingat lekat-lekat untuk lebih bijaksana lagi dalam mengeluarkan amunisi rasa percaya, pasrah, dan rasa baper.
Keempat, terimalah apa yang telah terjadi, terima diri kita, terima situasi yang kurang baik untuk digali hikmahnya. Poin ini merupakan hasil penyempurnaan dari pembelajaran poin pertama.
Percaya deh, rasa kecewa itu bisa menjadi pelajaran yang berharga.
Untuk bangkit dari rasa kecewa itu nggak mudah, tapi dalam proses menjalani hidup ke depan dan kita akan (sangat) mengusahakan bahwa rasa menerima itu adalah sikap terbaik supaya kita bisa lebih mudah menjalani hidup dibanding melakukan hal yang tidak berfaedah seperti memberi ruang untuk beragam penyakit hati, misalnya rasa sesal dan dendam. BIG NO NO!
Kelima, percaya sama Tuhan aja, jangan sama manusia.
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang ditakdirkan untuk benar-benar melengkapi manusia yang
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama...
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang dengan kedewasaan yang dapat saling mengimbangi...
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang telah menemukan landasan yang paling kuat sebagai pondasi dan pegangan hidup...
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang menyadari bahwa keputusan bersama selalu memiliki dampak di masa depan baik berdampak kecil maupun besar...
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang sadar bahwa komitmen dan tanggung jawab bersama itu adalah kunci...
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang berani mengambil langkah bersama untuk melengkapi ketidaksempurnaan dengan kesempurnaan (rasa syukur)...
Sampai pada masanya kita menemukan seseorang yang sadar bahwa setibanya pada awal hidup yang sempurna itu tidak ada jalan untuk kembali lagi...
(Boro-boro kembali, keluar dari track aja nggak boleh!)
Sampai saat itu datang, mungkin kita perlu merasa kecewa lagi, lagi, dan lagi hingga kita cukup dewasa secara emosional, mental, fisik, dan logika untuk mencipta prototipe-prototipe yang lebih sempurna dari hasil pembelajaran hidup bersama yang sudah dilalui dan menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan yang berkelanjutan.
Hingga saat itu datang, percayalah, Tuhan sedang menyiapkan rencana terbaik untukmu, untuk kita semua!
Kesimpulan: Ngomong apa sih, Ni? 😂
"PR alias pe er alias pekerjaan rumah identik dengan tugas tambahan yang memang sengaja didelegasikan untuk diselesaikan di rumah, dan keesokkannya dikumpulkan, diperiksa dan diberi nilai sebagai penanda apakah kita benar-benar menyimak pelajaran yang telah kita dapatkan di tempat menimba ilmu. Namun, adakalanya PR juga dapat diasosiasikan dengan suatu hal yang kita harus selesaikan. Segera. ASAP. Salah satu penyebabnya, masalah yang ada sebelumnya memang belum sempat terselesaikan, belum dapat diselesaikan, atau sengaja dibebankan untuk kita sebagai tantangan baru untuk melihat apakah kita mampu menguji batas kita untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Setuju?"
![]() |
| PR ( Pe-er) |
Itu pengertian bebas ala gue soal PR.
PR kadang-kadang bikin pikiran ruwet apalagi kalau kita belum tahu rumusnya, atau belum punya buku penunjang yang super lengkap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari PR kita.
Bukan hal yang tidak mungkin kita mengimitasi alias nyontek jawaban orang lain semata-mata agar PR kita rampung. Bukan hal yang tidak mungkin kita tanya Mbah Google supaya kita bisa menemukan jawaban-jawaban yang tepat dari berbagai sumber. Bukan hal yang tidak mungkin juga kita tanya ke sana-sini, supaya kita mendapat jawaban dari sudut pandang yang berbeda.
Hikmah dari PR itu adalah bikin kita belajar. Belajar dari apa yang sudah dipelajari, belajar dari sesuatu yang belum pernah kita temukan, bahkan belajar dari soal-soal yang belum pernah diajarin. Kan biasanya suka ada tuh PR yang lebih susah dari soal latihan pas lagi di kelas, nah, PR yang kayak gini nih yang suka bikin ruwet.
Sebenernya, PR juga bisa menjadi bahan evaluasi guru untuk mengevaluasi kompetensi kelas. Dari PR yang maha ajaib, sang guru bisa tahu seberapa hebat kualitas kelasnya dalam mencari solusi; dalam memecahkan suatu masalah.
Ya, implikasinya ke gue saat ini, PR yang saat ini gue hadapi sangat tricky, dan butuh waktu buat menyelesaikannya. Harapan gue, semoga aja gue bisa menyelesaikannya dengan baik...
You know that I'm a good eater, rite? I'm eating a lot, so that I have an energy to transform it to be something meaningful. Bismillah...
"Tuhan itu hebat ya, Dia bisa membuat jalan hidup seseorang menjadi sedemikian rupa, sehingga seseorang mampu melihat dengan sudut pandang berbeda."
![]() |
| Selalu Ada Celah Untuk Melihat Hal Positif, and Vice Versa |
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menemukan masalah, baik masalah yang super kecil sampai masalah yang terkadang kita tidak mampu untuk memikul dan menyelesaikannya. Dibalik itu semua, rasa-rasanya Tuhan mengajak kita untuk menilik hikmah yang terkandung di dalamnya, dan memberi tanda bahwa hidup sebagai makhluk yang paling sempurna gak lempeng-lempeng terus.
Ujian. Setiap individu pasti pernah merasakan ujian. Ujian itu sebuah momok yang menakutkan bagi yang mendengarnya. Ujian bisa datang disaat kita sudah siap untuk menjalaninya, namun bisa juga datang dadakan disaat kita tidak memiliki persiapan apapun. Tapi, selalu ada janji dibalik ujian. Kita dijanjikan lulus atau tidak lulus dalam menjalani suatu ujian.
Sebenarnya, menurut saya, kita dipersiapkan sebagai problem solver atas peristiwa yang terjadi dalam hidup kita -- yang saya sebut ujian tadi.
Beberapa hari ke belakang, saya merasa hari yang saya lalui cukup berat. Bukan karena beban pekerjaan yang menumpuk, tapi ada masalah-masalah kecil, sedang, dan besar yang harus dicari jalan keluarnya segera. Masalah-masalah itulah ujian. Satu per satu memang sudah ditemukan jalan keluarnya. Namun, dalam perjalanannya, drama ini dan itu bermunculan sebagai bumbu dalam proses kita menggali hikmah.
Harapan saya hanya satu, semoga saya bisa lulus ujian kali ini.
Tujuannya satu, supaya saya bisa lebih luas lagi dalam melihat dunia di depan.
Dec 20th, 2016
When I feel all the burdens surrounded me, I need a hug, a hug but continuously.
But somehow I can't see the opportunity beyond of my imagination, I need an escape.
To meet some people, new people, cool people, great people, in person, out there.
Maybe I need to live my dream again and challenge my own limit.
I think I depressed about the facts that happened to my life lately but the problem is, that I don't please anyone to come and caring me. I don't need it literally, but I still need it in my darkest side.
Dec 21st, 2016
I think that I'm very very happy to see you again as a person.
To start another chit-chat, to ask general question about my appearance, I think it is the way to make an ice breaking with me and I would like to say thanks! But, I dunno, why do I only can say a short answer without asking why and how. I lose the valuable opportunity to make a great conversation with you. I'm busy with my forehead while sweating, with my hand while it is getting cold, with my heart rate while it is running rapidly, when I'm in front of you.
To see you in the luncheon time, and witnessed you as our 'priest (?)' on Dhuhr time, and Ashr time are so priceless.
Dec 22nd, 2016
I prepared myself to ask you about mountaineering, the plan, exercise, recommendation, and bla bla bla. when I fulfilled my bottle with some water in pantry. I knew it is the right time to ask you. I knew your pattern, you often arrived at office at 10.30-11.00 and at this time, you will arrive at the second and entering pantry to take a glass. It is the time, and I already here.
If I'm going to kill you, you can call it as pogrom because it already planned.
But, I'm going to love you, so that you can call it as loving you intentionally. (Apa sih, Ni?)
Well, yeah, I prepared myself with all those questions in my mind, but click! when the door has opened and I saw your face there, at the same place with me, holly sh*t. I'm freezing, like a teenager adoring her senior at school.
Maybe today, I would ask you directly or indirectly. I knew, I knew, the unspoken thing will leave a regret someday and I don't want it happened. At least, I can say those magic words before I'm too late.
Dec 23rd, 2016
Last night, I dream about you. So many chances for us to talk. Even in my dream we didn't make any conversation but we communicated thru our gestures. The eyes, the moves, the steps, and bla bla bla.
I always there wherever you are, and so you are. I felt so close with you even with no words.
Suddenly, I found you on the next door of one of my grandma's room, fell asleep alone and I don't want to wake you up. But, in a second, I saw you open your little eyes when I decided to close the door and leave you sleep tightly. Then, I knew, you already knew what I've done. In a second, I'm awake and your little eyes are still on my mind.
Is it only a dream? Yes, it is. So, could it be a real thing? I dunno, but let's hope!
***
Well, maybe sometimes you'll find this childish-teenager ala-ala's part on myself. Actually, this feeling is good for me at this time to convert all those negative vibes and I used to choose to be happy as I am and enjoy every little moment that makes me happy. He doesn't need to know about this, because I don't expect more. He doesn't need to know that he always plays on my mind, because I know he has his own business as to do lists. I don't mind if someday he fell in love to the other one because as I said before, I don't expect more and let he does all the activities as usual without any disturbances. Whether this feeling will be faded away or not, I'm just okay whatever will happen. But, yeah, just enjoy the moment, and hopefully God guide me to the right path.
And for you, whoever, that will be my future one, if you are reading on this article and you realized that this is not you, pleaseee don't be jealous or going angry or judging me. I really hope you can understand that this is the part of my life in the past. And me, the person who's stay with you now, only an ordinary person, as you are, a person who could be so lost. Someday, I'll thank you so much, because you found me, choose me as your last destination, and loving all my flaws as I am today. Thank you, thank you, thank you. :')





















