(hiatus probability) Acceptance (?)

6:00 PM


Disclaimer: All characters in this story might be are real, might be fictional too. But, the writer's story is real. 




"Kamu kapan nikah?" tanya dokter Budiman.
Lagi-lagi pertanyaan itu, pikirku. Untungnya aku sudah kebal menjawab pertanyaan macam ini. Aku awali dengan menjawabnya lewat senyuman. Dokter Budiman melihat mimikku sambil mempersiapkan peralatannya untuk memeriksaku. Aku dibantu suster untuk naik ke meja periksa pasien.
 "Belum ada lamaran datang atau belum ada yang sesuai, Ni?" lagi-lagi dokter Budiman kepo.
"Ya, begitulah, dok... he he he," tutupku. Lalu dokter Budiman mengambil alat USG dan memeriksa perutku. Hal rutin yang aku lakukan setahun belakangan ini selama dua bulan sekali.

***
Aku datang ke klinik ini selalu dengan pikiran optimis. Tanpa rasa takut, apalagi sedih.
Teringat tahun lalu, aku melihat mimik keluargaku yang panik bahwa aku harus melakukan proses operasi khusus untuk pengangkatan seluruh rahimku. Ada massa padat di dalamnya sebesar 10 x 11 cm dengan CA 125 di atas 5,000.

Aku tak takut, karena fokusku adalah mengangkat massa asing ini segera supaya aktivitas sehari-hari bisa berjalan dengan semestinya. Aku tak takut, ada keyakinan aku bisa melewati ini semua.

Dari proses operasi hingga selesai aku lewati dengan lancar. Bukan sombong, di belakang sana ada orang-orang tersayang yang mendoakan selalu. Terima kasih ya...
Keesokan harinya, dokter Budiman mengunjungi kamarku, memeriksa jahitan dan bercerita sedikit mengenai proses operasi kemarin. Dia mengatakan karena statusku masih single, maka dia dan tim dokter mengusahakan untuk menyelamatkan yang bisa diselamatkan dan tidak mengangkat seluruh rahimku. Akhirnya indung telur sebelah kiri berhasil diselamatkan. Aku dikatakan sebagai wanita yang beruntung karena dalam usiaku, aku bisa melewati proses semua ini.

Walau pada akhirnya, aku menangis juga. Menangis karena bersyukur, ternyata aku masih disayang Tuhan. Aku masih diberikan 1 nikmat yang harus dijaga untuk menghasilkan keturunan. The one and only my left ovary.

Sekarang sudah beberapa kali aku memeriksakan diriku dan datang ke sini. Aku ingin CA 125 ku turun total hingga <35 . Ya, batas aman yang seharusnya.

Kali ini, aku pun semangat memeriksakan diriku datang untuk check up setelah aku menerima hasil lab pada pagi harinya. Hasilnya menunjukkan penurunan drastis, dari beberapa bulan lalu 100, 90an dan hari ini turun hingga 88. Lega rasanya...

***
 Dokter Budiman masih mengobservasiku. Aku tak yakin dengan raut wajahnya.
“Gimana, dok?” tanyaku.
"Ada lagi, Ni... di sebelah sini," kata dokter saat mengarahkan alat USG-nya ke indung telur sebelah kiriku. Dia kemudian menuliskan bahwa besarnya 3 x 2.4 cm, memeriksa apakah massa tersebut memiliki pembuluh darah aktif atau tidak, lalu mencetak hasil USG-nya dan menyudahi pemeriksaan.
Aku terdiam. Sambil membereskan segalanya dan menuju ke kursi konsultasi lagi.
"Kenapa bisa muncul lagi, dok?" pertanyaan ini akhirnya muncul memecah keheningan antara aku, dokter, dan suster.
Dokter Budiman pun menjelaskan bahwa hal yang terjadi padaku adalah proses dari tubuhku sendiri yang membuat alien kecil itu muncul kembali. Tidak bisa disalahkan. Takdir.
Dia hanya bisa mengobservasi, dan melihat perkembangannya.
Mau tahu apakah ada banyak pantangan dari makanan ataupun gaya hidup? Jawabannya tidak banyak. Dokter hanya menyarankan supaya tidak makan ayam potong. Di luar saran dokter, keluarga dan kerabat pun turut memberi tambahan pantangan lain untuk mengontrol makanku supaya tidak makan ini dan itu. Aku pun mengiyakan saja. Karena memang tujuan mereka baik.
Pikirku, diperlukan 5-10 bulan lagi untuk membuatnya menjadi normal di bawah 35. Karena setiap bulan turun 10 poin. Maka, untuk membebaskanku dari segala risiko pada rahimku, aku butuh waktu 10 bulan. Aku tak menyangka, ternyata prediksi dengan hitungan-hitungan matematika sederhana tidak bisa diterapkan untuk hal ini. Dia bisa muncul tiba-tiba, begitu cepat, dan tanpa tanda.
"Kalau begitu, saya mau lihat lagi (perkembangannya) bulan depan ya. Kita lakukan pemeriksaan yang sama dan melihat apakah dia bertambah besar atau tidak."
Aku mengiyakan. Membayar biaya konsultasi, dan berjalan pulang dengan tatapan kosong.

Rasanya tahun lalu aku tak begini. Tahun lalu aku adalah orang yang berani. Seseorang yang berani menghadapi segalanya. Kali ini, aku merasa tidak berani melewatinya. Entah mengapa...

***

 *Bersambung*
 




You Might Also Like

0 comments