Being Certain in Uncertain Times

9:14 AM

Kepekaan untuk membiarkan diri mengekspresikan rasa senang, sedih, jengkel, maupun haru atas hal yang tidak terduga adalah manusiawi. Tindakan kita setelahnya merupakan langkah kecil yang berani untuk memulai hal yang kita sadari adalah baik. Kita punya kontrol atas diri ini. Mari apresiasi diri kita atas langkah yang kita pilih. Tak apa memulai dengan langkah kecil, selama di depan ada muara yang kita tuju.

Setujukah bahwa kondisi pandemi yang terjadi sejak awal 2020 hingga kini menjadikan kita pribadi yang lebih matang?

Kita sempat goyah atau bahkan panik pada mulanya. Kita mungkin mempertanyakan kenapa kondisi ini terjadi pada kita dan lingkungan sekitar kita(?) Kita berpikir lebih keras untuk mencari solusi yang terbaik. Solusi yang bukan hanya untuk kita, tapi kita juga dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan kolektif untuk menghadapi kondisi yang tak menentu di depan. Kita membaca situasi dengan melihat lebih tinggi dari sudut pandang helikopter kita kemudian melihat langkah-langkah terbaik apa saja yang bisa kita usahakan. 
Kita mengalami kondisi tak menentu yang mengubah cara kita hidup sehari-hari. Keadaan ini datang dengan begitu mengagetkan. Ngaku aja, waktu itu belum siap juga, kan?

Aku salah satu yang skeptis dengan keadaan ini pada awal Maret 2020. Banyak kontradiksi dalam pikiranku. Dimulai dari rasa menyesal, sedih, menyayangkan, tapi tetap harus adaptasi dan securing myself. Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan mengenai keputusan eksternal yang terjadi padaku (dan teman-teman yang lain) kala itu serta pikiran-pikiran yang muncul secara internal atas kondisi yang terjadi.
Apalagi saat itu aku baru saja shifting ke industri pekerjaan yang secara ekonomi betul-betul berpengaruh pada kondisi Covid-19 sehingga berpengaruh juga pada kondisi finansial para individu yang bekerja di dalamnya. Lalu, bagaimana cara kita menerimanya? Kecewa dan marah terus-terusan tidaklah baik untuk kesehatan mental, kan?

Aku memilih menerima dan menjalankan.
Meski mangkel dulu beberapa waktu.
Aku memilih untuk menjaga diriku lebih baik, myself-first aja dulu.
Meski kadang masih suka serampangan dan lalai juga sih!
Aku memilih untuk bersyukur dengan apa yang dimiliki
Dengan monolog dalam hati untuk mengungkap rasa terima kasih.
Aku memilih untuk mengontrol apa yang bisa aku kontrol,
dan beradaptasi pada hal-hal yang tidak bisa aku kontrol.

Kondisi-kondisi yang terjadi secara eksternal seperti Covid-19 adalah hal yang tidak bisa kita kontrol (kecuali kita adalah regulator atau decision maker di level eksekutif). Beradaptasi dengan waras adalah hal yang bisa aku pilih untuk dijalani.
Jujur, aku nggak banyak membaca berita tapi mengetahui banyak perkembangan berita dari teman-teman yang bekerja pada bidang penanganan wabah ini dan informasi-informasi umum mengenai regulasi yang diterapkan cukup membantu untuk keep up with the running issues tapi nggak konsumsi media secara berlebihan yang bikin aku jadi paranoid.

Mengatur pikiran (mindset), sudut pandang yang positif, dan output perilaku yang bisa kita pertanggungjawabkan adalah hal yang bisa kita usahakan. Demi kesehatan pribadiku.

Menjalani rutinitas keseharian yang berbeda dari mayoritas orang pada umumnya adalah bentuk penerimaan yang harus dimulai dari dalam. Bila kamu membentengi diri dengan tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sepanjang tahun 2020 dan hingga kuarter tiga 2021 ini, aku membentengi diri dengan "Oke, ayo! Aku berani! Harus berani meski ada risikonya." Intinya, kerja di mana pun tidak mengapa, vitamin ini itu harus jalan terus, prokes jalan, kurangi interaksi dengan keluarga secara fisik karena aku orang yang paling sering keluar-keluar rumah.

Kesimpulannya, our sanity comes from within. Apa yang aku pikirkan dan gimana manage-nya are all that matters. Kesehatan juga penting, tapi kalau pikiran nggak sehat, penyakit apa saja bisa masuk. Jadi, nggak apa-apa egois dulu, myself-first. Karena outputnya untuk kebaikan bersama. Kebaikan aku, kamu, dan orang sekitarku.
Urusan keadaan masa depan yang belum keliatan, gimana nanti aja. 'Kan kita bisa adaptasi.
Harus adaptasi, supaya menang seleksi alam. Hehe


You Might Also Like

0 comments