Kepekaan untuk membiarkan diri mengekspresikan rasa senang, sedih, jengkel, maupun haru atas hal yang tidak terduga adalah manusiawi. Tindakan kita setelahnya merupakan langkah kecil yang berani untuk memulai hal yang kita sadari adalah baik. Kita punya kontrol atas diri ini. Mari apresiasi diri kita atas langkah yang kita pilih. Tak apa memulai dengan langkah kecil, selama di depan ada muara yang kita tuju.
Setujukah bahwa kondisi pandemi yang terjadi sejak awal 2020 hingga kini menjadikan kita pribadi yang lebih matang?

Kondisi yang memposisikan kita dengan perasaan cukup melalui pencapaian hidup yang begitu-begitu saja, membuat kita kerap menjadi auto-pilot. Menerima, bersyukur, tanpa sadar malas menggali potensi lain dari dalam diri. Aku menyadari, kemalasan memang akar dari kebodohan. Hari ini, aku mulai menyimpulkan bahwa kemalasan merupakan akar dari segala degradasi yang ada dalam diri kita. Fatalnya, malas itu mengakar, malas itu mengasyikan, tapi ada kalanya kita berkeringat dingin melihat pencapaian diri yang itu-itu saja. Tidak ada progress signifikan, hanya aku yang gini-gini aja.
Kemudian kita mulai mencari teman yang senasib. Menyuntikkan semangat-semangat senada yang berujung pada pemakluman ketidakproduktivitasan diri yang terbentuk. Kita semakin terbuai dengan stagnasi. Kita memeluk diri kita yang telah bebal, tapi lidah kerap kelu saat menerima pertanyaan, "sudahkah kamu mendapati pencapaian dalam hidup?" Inikah yang benar-benar kamu inginkan, Ni?
Terkadang kamu perlu dipecut, supaya terluka dan paham rasa sakit. Rasa sakit yang menghasilkan pergeseran maju atau bahkan membuatmu berlari. Bukan berlari dari rasa takut, tapi berlari untuk melampaui batasmu yang seharusnya telah kamu capai dari kemarin-kemarin. Apakah kamu terus-terusan mau kerja keras bagai kuda, namun kamu hanyalah moda penggerak Pak Kusir hingga sampai tujuan?
Ni, sebelum kemalasan makin mengakar, ayo bangkit. Lakukan peregangan, bersiaplah berlatih, untuk berlari sekuat tenaga. Bukan untuk menjadi kuda empunya Sang Tuan, tapi menjadi kuda tak bertuan dengan kamulah pemilik diri yang paling hakiki. Tak apa sedikit terlambat, tapi kesungguhan ini, semoga menjadi awal titik baru yang kamu sadari meski telah lebih dari satu kuarter abad kamu menginjakkan kaki di dunia ini.
Aku yang kerap kali monolog dalam balutan kata-kata abstrak
Hari ini aku menyadari bahwa aku adalah pemalas
Bila beberapa tahun lalu aku berharap ditempa
Tahun ini aku berharap mendapat 1 pecutan
Sebelum kemalasan jadi akar penyesalan
Jangan malas kalau tidak mau menyesal
Masih ada waktu, bersiaplah berlari
Jakarta, 29 Maret 2021
@niiakaroon
Flashback ke 18 tahun lalu, di kelas 5 SD, ternyata gue sudah membangun motto hidup yang konsisten gue bawa sampe sekarang. Pas dulu baru bisa bahasa Inggris dikit (sekarang juga nggak jago-jago amat sih), gue ngerasa gue itu perlu jadi choosy tapi nggak mau juga jadi keliatan orang yang cheesy. Sampe akhirnya, kepikiran untuk bikin singkatan ala-ala dengan kependekkan CHOOSC yang berarti clear, hope, open, optimist, smile, and, creative yang kalo dibaca singkatannya ya jadi choosy tadi. Kala itu, gue ngerasa singkatan ini keren banget. Sampe beberapa hari gue hafalin pake jari kata per kata untuk mengurai singkatan CHOOSC itu kepanjangan dari apa aja (paham kan hafalin kayak ngitung pake jari sambil nunjuk jari? Misalnya, jempol untuk C yang artinya Clear, telunjuk untuk H yang artinya Hope, jari tengah untuk O yang artinya Open, dan seterusnya).
Dulu gue ngerasa kalo gue emang ngerasa perlu merangkum beberapa kata sifat yang cukup menggambarkan diri gue sekaligus karakter yang mau gue bentuk di kemudian hari. Gue inget banget, saking ingin internalisasi karakter-karakter ini ke diri gue, akronim CHOOSC ini sempet gue jahit di taplak meja as signature untuk mata pelajaran Kertakes alias Kerajinan Tangan dan Kesenian. Kalau dipikir-pikir sekarang, gue yang dulu kala bisa dibilang cukup visioner dan udah tahu gimana ngebentuk fondasi di diri gue untuk bekal di masa depan tanpa disadari. So, I thank to myself when I was 11 years old. These 6 magic words shaped me. Sedikit banyak 6 kata ini yang jadi pegangan pribadi gue dalam melihat keadaan yang gue udah alami selama 18 tahun setelahnya (sudah tua ya? Memang, tapi I see my age as a number that actualize my existence on this Earth). Enam kata ini juga yang bikin gue bisa recall lagi kalau lagi ngerasa low dan butuh semangat lagi.
Mungkin sebagian dari kalian ngerasa kalau motto hidup itu nggak perlu atau bahkan udah nggak relevan, atau ada juga yang mengambil motto atau falsafah hidup orang kenamaan untuk dipegang jadi acuan pribadi karena relate banget sama diri kalian. Well, entah mengapa, gue yang masih hijau kala itu udah berpikir untuk punya motto diri yang otentik ingin dibangun.
Trus, hari ini kepikiran soal gue yang masih kecil cenderung lebih matang untuk mengetahui apa yang dimau sama diri gue sendiri. Kalau dipikir-pikir, buat apa gue harus punya motto hidup di umur 11 tahun? Buat apa juga nilai-nilai ini perlu gue bawa sampe sekarang? Kalau kita hidup dalam suatu pranata udah pasti dong perlu punya nilai-nilai yang akan diimplementasi semacam nilai sosial, susila, kesopanan, dll dandengan mempraktikkannya sebagai penyerta bahwa lo adalah bagian dari pranata itu. Kalau dibaratin kayak gitu, 6 kata ini adalah nilai dalam pranata yang anggotanya gue sendiri. Tujuannya, sebagai mantra yang menjaga gue tetap waras.
Gue suka banget perhatiin pola perilaku dari orang-orang yang ada di sekitar gue. Tapi, gue kadang malah abai sama pola yang ada di diri gue sendiri. Pas lagi kontemplasi soal 2020, kok gini amat ya, mikir bengongnya tuh sambil liatin profil Instagram gue. Orang-orang pada berubah, circle gue pun berubah. Orang yang sebelumnya adalah sahabat gue trus sekarang jadi strangers-pun banyak, tapi ada satu hal yang berubah dari diri gue: Nia yang sekarang udah heartless, udah nggak terlalu ambil perasaan atau sedih berlarut-larut dengan kenyataan ditinggal orang-orang terdekat. Kehilangan adalah suatu keniscayaan. Kondisi kehilangan orang-orang yang dulunya deket banget karena intensitas komunikasi kita yang berkurang adalah salah satu kemungkinan yang perlu dihadapi semakin kita bertambah umur. Oke sebelum makin ngelantur, kita balik lagi yuk soal perhatian gue mengenai pola perilaku yang suka gue perhatiin. Kali ini, fokusnya ke bio Instagram gue. Di situ tertulis:"𝒄𝒍𝒆𝒂𝒓, 𝒉𝒐𝒑𝒆, 𝒐𝒑𝒆𝒏, 𝒐𝒑𝒕𝒊𝒎𝒊𝒔𝒕, 𝒔𝒎𝒊𝒍𝒆, & 𝒄𝒓𝒆𝒂𝒕𝒊𝒗𝒆". Dari situlah, gue jadi flashback beberapa belas tahun lalu dan akhirnya kerangkai deh kata-kata buat nulis blog ini lagi.
Filosofi untuk berpikiran bersih, penuh harap, tetap terbuka, hidup dalam keoptimisan, melengkapinya dengan senyuman, dan berpikir kreatif secara implisit ngebantu banget diri gue untuk get back on track ke nilai-nilai positif yang udah gue buat. Intinya, as positive self-affirmation. Sekarang, dari 6 kata ini, gue bisa ngeliat diri gue dari sisi yang berbeda. So, here we go...
Aku Anaknya Cenderung Visioner
Gue baru sadar kalau gue ada kecenderungan ini. 5-6 tahun terakhir gue memiliki lebih banyak peran sebagai eksekutor. Orang yang kerjaannya ngejalanin tugas, sampai sekarang masih sih, tapi perannya lebih banyak ke strategi, planning, dan kasih arahan. Makin ke sini mungkin kedengerannya sok bijak, tapi gue meyakini apa yang gue share ke circle teman-teman di kantor, khususnya tim gue, based on empirical experiences. Nggak semata-mata karena gue harus bersikap simpati atau empati, tapi segala masukan, saran, atau tips & trick berdasarkan apa yang pernah gue lakukan, rasakan, dan lewati. Kadang gue ngerasa terlalu matang di umur gue yang sekarang, tapi hal ini juga yang bikin gue jadi maju. So, I embrace it anyway.
I'm appreciating all the thinking process
Butuh 18 tahun buat gue sadar, kalau 6 kata afirmasi ini terbentuk dan terbangun sejak gue SD dan gue konsisten untuk jalaninnya. Bahkan tetep inget itu juga sebuat prestasi personal. Semakin bertambah umur pikiran makin banyak ya, kan? Tapi hal-hal yang sifatnya prinsip atau pegangan nilai yang melekat di diri kita rasanya itu hal yang fundamental ada di diri kita. Bukan berarti gue mendorong buat pembaca blog ini untuk menjadi seperti diri gue, enggaaa. Tapi, tiap orang punya prosesnya masing-masing. Gimana dia memaknai hidup, gimana dia ngeliat suatu hal dan memilah-milah mana nilai yang paling pas buat diri sendiri, mana yang nggak harus diikutin.
Proses mikir sedikit banyak bisa ngebantu kita menyesuaikan penggunaan energi dan skill yang kita punya, trus bisa ngebantu kita untuk fokus ngeliat jalan keluar yang memungkinkan. Tapi balik lagi, proses mikir kita fokus kemana? Kalau fokusnya ke masalah, kita cuma muter-muter di situ doang, blaming someone else or ourselves atau mencari alasan-alasan sebagai justifikasi kalau kita nggak bersalah atas suatu masalah yang terjadi. Beda cerita, kalau fokus kita curahin ke solusi, mungkin kita bisa nemuin pola pemikiran terstruktur untuk mencari jalan keluar dan meminimalisir waktu yang terbuang dari proses mikirin masalahnya doang.
Gue yang di umur 11 tahun, ngeliat bahwa proses mikir sesuatu yang bisa jadi motto hidup yang outputnya adalah 6 kata yang terbentuk itu merupakan potensi yang gue udah punya dan potensi-potensi yang gue bisa kembangin karena pada saat itu gue masih memiliki kekurangan-kekurangan.
Leadershipless leads me to have a leaderships
Gue dibesarkan dari keluarga yang sederhana dan bisa dibilang bukan siapa-siapa. Bukan petinggi atau orang yang punya harta dan tahta. Gue bersyukur dibesarkan oleh ayah yang keras tapi sayang anak dengan caranya yang unik (dulu sih gue bilangnya ini overprotective banget) serta oleh seorang ibu yang kuat dan suportif banget atas segala langkah yang gue ambil. Kontradiksi pendapat antara ayah dan ibu kerap dimenangkan si bapak tapi dibalik itu, ibu selalu tahu apa yang betul-betul anaknya butuhkan sehingga gue nggak pernah merasa ditinggalkan. Gue dibesarkan bukan untuk menjadi orang besar di masa depan, tapi dididik untuk saling mengerti kondisi satu sama lain baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekitar.
Gue bukan orang kerap mendapatkan ilmu kepemimpinan di bangku sekolah. Kalau kalian familiar atau sempat jadi bagian anggota BEM. Gue nggak sama sekali pernah menjadi bagian itu di sekolah. Antara mereka nggak melihat gue memiliki potensi jadi pemimpin dalam proses rekruitmen atau ya gue udah sibuk nyari uang jajan jadi guru privat door to door atau kerja paruh waktu jadi guru bimbel. Hidup itu pilihan ya 'kan. Kalau gue sibuk organisasi, gue nggak bisa nabung beli hape Cina atau bayar cicilan laptop merk Compaq kala itu (masih inget banget ini gue cicil sama owner di bimbel tempat gue kerja).
Dari kehidupan leadershipless ini, gue malah belajar how to lead myself naturally. I'm being my own leader. At least, gue bisa atur diri gue sendiri tanpa harus ngerepotin orang lain.
Sekarang, mungkin karena udah beberapa kali punya pengalaman kerja yang cukup konsisten dan milestones, I'm being the leader of a small team. Sekarang gue malah kebentuk leadershipness itu dengan sendirinya dan gue bangga dengan progress dari hidup gue sejauh ini.
Tugas gue selanjutnya hanyalah gimana caranya stay sane, have a meaningful and joyfulness in life.
Sekarang-sekarang, kita banyak takut untuk berkata, apalagi tanpa data. Katanya hoax, katanya informasi palsu. Kali ini, bukan maksud saya mendukung apa yang disebut-sebut hoax, bukan juga membudidayakan kebiasaan menyebarkan informasi palsu. Tapi ada kalanya bicara itu berupa artikulasi kata-kata, namun banyak kata-kata yang tak harus didukung data-data. Contohnya, lewat gubahan sebuah puisi~
permulaan selalu mampu memacu semangat
ada angan yang ingin disegerakan nyata
ada tujuan terencana yang ingin dipanjat
permulaan ialah babak baru semata
proses selalu berjalan di tengah
dia perantara antara prediksi dan proyeksi
proses pun tak selalu berjalan dengan mudah
kadang sesuai ambisi, kadang menyulut emosi
berkisah tentang seseorang yang dijuluki sayang
dia sumber rasa girang, meski tak pernah sembahyang
girang dan sembahyang tentu tak berkaitan saling silang
keduanya hanya membentuk kontras untuk tayang
sadarkah, sayang...
kita tak lagi saling bertatap?
mengendurkan ikatan, saat pertalian tak lagi mantap
masih adakah rasa sayang?
kita terbentuk dalam pekat,
kini meluntur seiring waktu
meluntur tidak mengurangi sifat pekat
ia hanya membentuk warna yang baru
warna yang tak sempat terselamatkan
termakan akibat gesekan dan penyusutan
warna baru yang tak lagi otentik
akibat waktu yang terus berdetik
Aku dengar Tuhan suka dengan yang ganjil
Mungkin saja manusia dibekali kekuatan oleh penciptaNya
Untuk hidup dengan dirinya sendiri
Atau hidup dalam tiga, atau bisa juga berlima, dan seterusnya (?)
Atau hidup dengan keganjilan-keganjilan
Keganjilan yang mereka ciptakan sendiri
Keganjilan yang mereka suburkan sendiri
Karena pencipta, memang suka yang ganjil-ganjil bukan?
Bumi ini ganjil
Karena cuma satu
Kalau ada dua
Bukankah akan menjadi genap?
Mulai sekarang, cobalah hidup secara ganjil
Karena, ganjil itu bukan sekadar angka
Tapi bisa dipandang sebagai hal yang lain
Seperti:
Cara melihat
Cara memandang yang berani
Untuk menjadi berbeda; melihat yang berbeda
Untuk menyikapi hal yang di luar kapasitas kita
Untuk menyadari tak semua perlu ada jawaban
Untuk belajar bahwa menjadi ganjil itu manusiawi
Dan ilahi menyukai kegasalan semesta
untuk menyempurnakan dan menggenapkannya
dalam sebuah keseimbangan.
***
Beberapa bulan belakangan, aku kerap tergugu. Berkata-kata tapi tak cakap. Mengangguk-angguk seolah udara, dinding, dan pendingin ruangan adalah lawan bicaraku dan mereka sudah paham dengan bahasa bisuku. Saat ini, aku tak punya alasan untuk berpaling; Tak ada alasan untuk memilih yang lain. Aku tertuju pada satu.
Akhirnya... setelah sekian lama, aku menemukan jawaban. Tentu yang membahagiakan. Namun, caraku mengekspresikan perasaan ini sangatlah kontradiksi dengan yang seharusnya aku tunjukkan. Caranya pun selalu sama: menangis.***


"Embrace uncertainty. Some of the most beautiful chapters of our lives won't have a title until much later." - Bob Goff
Disclaimer: Tulisan lama yang tersimpan di-draft, dan baru diselesaikan untuk dipublikasikan. Tulisan ini bukan tentang menceritakan siapa-siapa, tapi mengajak untuk saling berkaca. Ojo baper.
"Sometimes we argue, and sometimes we have made a fallacy. Sometimes we can't think logically in anger, and at the same time, we demand into something that we think it is right but it's not. At that time, we forgot all those moments and realized, only regrets was remain because of bad words that we spitted out."


Disclaimer: All characters in this story might be are real, might be fictional too. But, the writer's story is real.
"Kamu kapan nikah?" tanya dokter Budiman.Lagi-lagi pertanyaan itu, pikirku. Untungnya aku sudah kebal menjawab pertanyaan macam ini. Aku awali dengan menjawabnya lewat senyuman. Dokter Budiman melihat mimikku sambil mempersiapkan peralatannya untuk memeriksaku. Aku dibantu suster untuk naik ke meja periksa pasien.
"Belum ada lamaran datang atau belum ada yang sesuai, Ni?" lagi-lagi dokter Budiman kepo."Ya, begitulah, dok... he he he," tutupku. Lalu dokter Budiman mengambil alat USG dan memeriksa perutku. Hal rutin yang aku lakukan setahun belakangan ini selama dua bulan sekali.
***
Aku datang ke klinik ini selalu dengan pikiran optimis. Tanpa rasa takut, apalagi sedih.
Teringat tahun lalu, aku melihat mimik keluargaku yang panik bahwa aku harus melakukan proses operasi khusus untuk pengangkatan seluruh rahimku. Ada massa padat di dalamnya sebesar 10 x 11 cm dengan CA 125 di atas 5,000.
Aku tak takut, karena fokusku adalah mengangkat massa asing ini segera supaya aktivitas sehari-hari bisa berjalan dengan semestinya. Aku tak takut, ada keyakinan aku bisa melewati ini semua.
Dari proses operasi hingga selesai aku lewati dengan lancar. Bukan sombong, di belakang sana ada orang-orang tersayang yang mendoakan selalu. Terima kasih ya...
Keesokan harinya, dokter Budiman mengunjungi kamarku, memeriksa jahitan dan bercerita sedikit mengenai proses operasi kemarin. Dia mengatakan karena statusku masih single, maka dia dan tim dokter mengusahakan untuk menyelamatkan yang bisa diselamatkan dan tidak mengangkat seluruh rahimku. Akhirnya indung telur sebelah kiri berhasil diselamatkan. Aku dikatakan sebagai wanita yang beruntung karena dalam usiaku, aku bisa melewati proses semua ini.
Walau pada akhirnya, aku menangis juga. Menangis karena bersyukur, ternyata aku masih disayang Tuhan. Aku masih diberikan 1 nikmat yang harus dijaga untuk menghasilkan keturunan. The one and only my left ovary.
Sekarang sudah beberapa kali aku memeriksakan diriku dan datang ke sini. Aku ingin CA 125 ku turun total hingga <35 . Ya, batas aman yang seharusnya.
Kali ini, aku pun semangat memeriksakan diriku datang untuk check up setelah aku menerima hasil lab pada pagi harinya. Hasilnya menunjukkan penurunan drastis, dari beberapa bulan lalu 100, 90an dan hari ini turun hingga 88. Lega rasanya...
***
Dokter Budiman masih mengobservasiku. Aku tak yakin dengan raut wajahnya.
“Gimana, dok?” tanyaku."Ada lagi, Ni... di sebelah sini," kata dokter saat mengarahkan alat USG-nya ke indung telur sebelah kiriku. Dia kemudian menuliskan bahwa besarnya 3 x 2.4 cm, memeriksa apakah massa tersebut memiliki pembuluh darah aktif atau tidak, lalu mencetak hasil USG-nya dan menyudahi pemeriksaan.
Aku terdiam. Sambil membereskan segalanya dan menuju ke kursi konsultasi lagi."Kenapa bisa muncul lagi, dok?" pertanyaan ini akhirnya muncul memecah keheningan antara aku, dokter, dan suster.
Dokter Budiman pun menjelaskan bahwa hal yang terjadi padaku adalah proses dari tubuhku sendiri yang membuat alien kecil itu muncul kembali. Tidak bisa disalahkan. Takdir.
Dia hanya bisa mengobservasi, dan melihat perkembangannya.
Mau tahu apakah ada banyak pantangan dari makanan ataupun gaya hidup? Jawabannya tidak banyak. Dokter hanya menyarankan supaya tidak makan ayam potong. Di luar saran dokter, keluarga dan kerabat pun turut memberi tambahan pantangan lain untuk mengontrol makanku supaya tidak makan ini dan itu. Aku pun mengiyakan saja. Karena memang tujuan mereka baik.Pikirku, diperlukan 5-10 bulan lagi untuk membuatnya menjadi normal di bawah 35. Karena setiap bulan turun 10 poin. Maka, untuk membebaskanku dari segala risiko pada rahimku, aku butuh waktu 10 bulan. Aku tak menyangka, ternyata prediksi dengan hitungan-hitungan matematika sederhana tidak bisa diterapkan untuk hal ini. Dia bisa muncul tiba-tiba, begitu cepat, dan tanpa tanda.
"Kalau begitu, saya mau lihat lagi (perkembangannya) bulan depan ya. Kita lakukan pemeriksaan yang sama dan melihat apakah dia bertambah besar atau tidak."Aku mengiyakan. Membayar biaya konsultasi, dan berjalan pulang dengan tatapan kosong.
Rasanya tahun lalu aku tak begini. Tahun lalu aku adalah orang yang berani. Seseorang yang berani menghadapi segalanya. Kali ini, aku merasa tidak berani melewatinya. Entah mengapa...
***
*Bersambung*


Aku selalu suka hujan. Aku pandangi. Tidak mengapa bila basah. Hujan membawaku pada pikiran-pikiran yang absurd. Pikiran yang terkadang tak sempat terpikirkan. Pikiran yang hanya muncul pada saat hujan.
Dulu hujan membuatku gampang sendu, karena dunia dianggap bubar dan hajat jadi berantakan bilamana hujan datang. Padahal hujan tak pernah salah apa-apa...
Sekarang hujan lebih banyak membuat aku tersenyum bahkan menertawakan hal-hal baru yang belum pernah aku temukan sebelumnya, dan semestinya memang disikapi begitu. Bukankah datangnya hujan harus disikapi dengan kebersyukuran?
Dear hujan,
Mengingat kamu menyisakan senyuman-senyuman kecil yang tak berkesudahan.
Ada kesulitan yang dialami tapi dengan mudah dihadapi dengan konklusi akhir: "Yasudah, mau gimana?"
Mengingat kamu bikin waspada. Mengira-ngira apakah perlu sedia payung sebelum hujan atau membawa jas hujan sebelum basah (?)
Mengingat kamu juga menyisakan cerita-cerita saat sulit dan terjepit, lucunya, tak pernah terpikir untuk menangisi kondisi tersebut dan malah lebih memilih menertawakan kebodohan itu sendiri.
Mengingat kamu mengajarkan bahwa kesabaran menunggu itu akan segera terbayar. Sabar, karena kamu akan segera reda.
Mengingat hujan menyisakan cerita-cerita baru. Tentang kerjasama yang berakhir dengan kebodohan bersama. Tentang kewaspadaan pada jalan yang licin. Tentang bisik-bisik cerita yang sama di antara orang-orang yang berteduh.
Sejauh mata memandang ada jalanan basah akibat derasmu.
Sedekat mata melihat ada hati bahagia akibat genggaman hangat dengan baju setengah basah.
Dear hujan,
Sampai bertemu lagi di lain waktu. Dengan antusias aku nantikan cerita-cerita baru darimu.

