Dari awal muncul, produk ini emang udah nge-hype banget di mana-mana. Aku jadi salah satu orang yang penasaran banget dan ngerasa produk ini jadi salah satu produk wajib coba.
Dari ketiga produk body care Scarlett yang aku coba, aku suka banget sama lotion-nya dan scrub-nya! Kenapa? Aku bakal jelasin satu-satu abis ini. Stay tuned!
Scarlett Body Scrub Coffee
I’m calling out all coffee lovers! Pas pertama kali nyoba, aku langsung suka sama tekstur dari scrub-nya. Soalnya, butirannya halus banget dan nggak kasar, dan pas aku coba ke kulit tekstur keseluruhannya padat dan nggak cair jadi pas di-apply dan scrubbing time bikin sel-sel kulit mati yang ada di kulitku keangkat dengan mudahnya dan nggak bikin gampang iritasi. Say goodbye to daki-daki membandel!
Price: Rp75,000
BPOM: Registered
Repurchase: Yes, ofc!
Untuk shower scrub Scarlett yang aku coba adalah varian coffee. Impresi pertama aku saat nyoba, selain aroma kopinya nggak menyengat dan bau kopinya sopan banget, ada kesan yang ninggalin bau segar setelah pake produk ini. Teksturnya pun pas, nggak terlalu encer dan nggak terlalu kental juga. Tube dan ukurannya juga menurutku pas. Nggak bikin cepet abis dan boros trus worth-it juga!
Price: Rp75,000
BPOM: Registered
Repurchase: Perhaps, karena aku penasaran mau coba varian Scarlett yang lain juga!
Kalau kamu suka harum dari lotion yang calming yet sexy & sweet, bisa pilih varian ini ya!
Harumnya ngingetin aku sama YSL Black Opium dan juga Scent of a Woman Nipplets x HMNS. Sebelumnya aku udah pernah coba yang varian Charming. Nah, kalau varian Charming pas dipake siang hari karena aromanya fresh banget! Sementara varian Jolly selalu aku pake sebelum tidur atau kalau lagi pingin wangi dan bikin calming. Varian ini enak banget, bahkan kalau aku pake pas malemnya sampe pagi harumnya masih ada!
Bentuk botolnya juga pump yang ada settingan untuk lock & unlock sehingga mudahin kita juga kalau mau dibawa kemana-mana. Jadi, nggak gampang keluar kalau nggak sengaja pump-nya kehimpit barang lain saat dimasukkan ke tas (meskipun ukurannya bulky untuk sebagian orang, tapi sabi kok kalau mau bawa traveling karena nggak gede banget (300ml) dan nggak berat banget.
Ada kandungan glutathione yang mampu meregenerasi kulit dan menangkal radikal bebas. Karena kandungan ini pula, makanya kulit kita bisa lebih cerah, warna kulit lebih merata, menjaga kelembapan dan elastisitas kulit, serta merupakan ingredients dengan antioksidan terbaik untuk menangkal radikal bebas dari paparan sinar UV seperti sinar UVA dan UVB.
Price: Rp75,000Itu dia review body care Scarlett yang sudah aku coba! Kira-kira tertarik untuk tahu review produk body care atau skincare lainnya nggak? Terima kasih juga sudah baca sampai selesai, feel free to feedback ya!
BPOM: Registered
Repurchase: Yes, jadi varian favoritku banget!
Kondisi yang memposisikan kita dengan perasaan cukup melalui pencapaian hidup yang begitu-begitu saja, membuat kita kerap menjadi auto-pilot. Menerima, bersyukur, tanpa sadar malas menggali potensi lain dari dalam diri. Aku menyadari, kemalasan memang akar dari kebodohan. Hari ini, aku mulai menyimpulkan bahwa kemalasan merupakan akar dari segala degradasi yang ada dalam diri kita. Fatalnya, malas itu mengakar, malas itu mengasyikan, tapi ada kalanya kita berkeringat dingin melihat pencapaian diri yang itu-itu saja. Tidak ada progress signifikan, hanya aku yang gini-gini aja.
Kemudian kita mulai mencari teman yang senasib. Menyuntikkan semangat-semangat senada yang berujung pada pemakluman ketidakproduktivitasan diri yang terbentuk. Kita semakin terbuai dengan stagnasi. Kita memeluk diri kita yang telah bebal, tapi lidah kerap kelu saat menerima pertanyaan, "sudahkah kamu mendapati pencapaian dalam hidup?" Inikah yang benar-benar kamu inginkan, Ni?
Terkadang kamu perlu dipecut, supaya terluka dan paham rasa sakit. Rasa sakit yang menghasilkan pergeseran maju atau bahkan membuatmu berlari. Bukan berlari dari rasa takut, tapi berlari untuk melampaui batasmu yang seharusnya telah kamu capai dari kemarin-kemarin. Apakah kamu terus-terusan mau kerja keras bagai kuda, namun kamu hanyalah moda penggerak Pak Kusir hingga sampai tujuan?
Ni, sebelum kemalasan makin mengakar, ayo bangkit. Lakukan peregangan, bersiaplah berlatih, untuk berlari sekuat tenaga. Bukan untuk menjadi kuda empunya Sang Tuan, tapi menjadi kuda tak bertuan dengan kamulah pemilik diri yang paling hakiki. Tak apa sedikit terlambat, tapi kesungguhan ini, semoga menjadi awal titik baru yang kamu sadari meski telah lebih dari satu kuarter abad kamu menginjakkan kaki di dunia ini.
Aku yang kerap kali monolog dalam balutan kata-kata abstrak
Hari ini aku menyadari bahwa aku adalah pemalas
Bila beberapa tahun lalu aku berharap ditempa
Tahun ini aku berharap mendapat 1 pecutan
Sebelum kemalasan jadi akar penyesalan
Jangan malas kalau tidak mau menyesal
Masih ada waktu, bersiaplah berlari
Jakarta, 29 Maret 2021
@niiakaroon
Flashback ke 18 tahun lalu, di kelas 5 SD, ternyata gue sudah membangun motto hidup yang konsisten gue bawa sampe sekarang. Pas dulu baru bisa bahasa Inggris dikit (sekarang juga nggak jago-jago amat sih), gue ngerasa gue itu perlu jadi choosy tapi nggak mau juga jadi keliatan orang yang cheesy. Sampe akhirnya, kepikiran untuk bikin singkatan ala-ala dengan kependekkan CHOOSC yang berarti clear, hope, open, optimist, smile, and, creative yang kalo dibaca singkatannya ya jadi choosy tadi. Kala itu, gue ngerasa singkatan ini keren banget. Sampe beberapa hari gue hafalin pake jari kata per kata untuk mengurai singkatan CHOOSC itu kepanjangan dari apa aja (paham kan hafalin kayak ngitung pake jari sambil nunjuk jari? Misalnya, jempol untuk C yang artinya Clear, telunjuk untuk H yang artinya Hope, jari tengah untuk O yang artinya Open, dan seterusnya).
Dulu gue ngerasa kalo gue emang ngerasa perlu merangkum beberapa kata sifat yang cukup menggambarkan diri gue sekaligus karakter yang mau gue bentuk di kemudian hari. Gue inget banget, saking ingin internalisasi karakter-karakter ini ke diri gue, akronim CHOOSC ini sempet gue jahit di taplak meja as signature untuk mata pelajaran Kertakes alias Kerajinan Tangan dan Kesenian. Kalau dipikir-pikir sekarang, gue yang dulu kala bisa dibilang cukup visioner dan udah tahu gimana ngebentuk fondasi di diri gue untuk bekal di masa depan tanpa disadari. So, I thank to myself when I was 11 years old. These 6 magic words shaped me. Sedikit banyak 6 kata ini yang jadi pegangan pribadi gue dalam melihat keadaan yang gue udah alami selama 18 tahun setelahnya (sudah tua ya? Memang, tapi I see my age as a number that actualize my existence on this Earth). Enam kata ini juga yang bikin gue bisa recall lagi kalau lagi ngerasa low dan butuh semangat lagi.
Mungkin sebagian dari kalian ngerasa kalau motto hidup itu nggak perlu atau bahkan udah nggak relevan, atau ada juga yang mengambil motto atau falsafah hidup orang kenamaan untuk dipegang jadi acuan pribadi karena relate banget sama diri kalian. Well, entah mengapa, gue yang masih hijau kala itu udah berpikir untuk punya motto diri yang otentik ingin dibangun.
Trus, hari ini kepikiran soal gue yang masih kecil cenderung lebih matang untuk mengetahui apa yang dimau sama diri gue sendiri. Kalau dipikir-pikir, buat apa gue harus punya motto hidup di umur 11 tahun? Buat apa juga nilai-nilai ini perlu gue bawa sampe sekarang? Kalau kita hidup dalam suatu pranata udah pasti dong perlu punya nilai-nilai yang akan diimplementasi semacam nilai sosial, susila, kesopanan, dll dandengan mempraktikkannya sebagai penyerta bahwa lo adalah bagian dari pranata itu. Kalau dibaratin kayak gitu, 6 kata ini adalah nilai dalam pranata yang anggotanya gue sendiri. Tujuannya, sebagai mantra yang menjaga gue tetap waras.
Gue suka banget perhatiin pola perilaku dari orang-orang yang ada di sekitar gue. Tapi, gue kadang malah abai sama pola yang ada di diri gue sendiri. Pas lagi kontemplasi soal 2020, kok gini amat ya, mikir bengongnya tuh sambil liatin profil Instagram gue. Orang-orang pada berubah, circle gue pun berubah. Orang yang sebelumnya adalah sahabat gue trus sekarang jadi strangers-pun banyak, tapi ada satu hal yang berubah dari diri gue: Nia yang sekarang udah heartless, udah nggak terlalu ambil perasaan atau sedih berlarut-larut dengan kenyataan ditinggal orang-orang terdekat. Kehilangan adalah suatu keniscayaan. Kondisi kehilangan orang-orang yang dulunya deket banget karena intensitas komunikasi kita yang berkurang adalah salah satu kemungkinan yang perlu dihadapi semakin kita bertambah umur. Oke sebelum makin ngelantur, kita balik lagi yuk soal perhatian gue mengenai pola perilaku yang suka gue perhatiin. Kali ini, fokusnya ke bio Instagram gue. Di situ tertulis:"𝒄𝒍𝒆𝒂𝒓, 𝒉𝒐𝒑𝒆, 𝒐𝒑𝒆𝒏, 𝒐𝒑𝒕𝒊𝒎𝒊𝒔𝒕, 𝒔𝒎𝒊𝒍𝒆, & 𝒄𝒓𝒆𝒂𝒕𝒊𝒗𝒆". Dari situlah, gue jadi flashback beberapa belas tahun lalu dan akhirnya kerangkai deh kata-kata buat nulis blog ini lagi.
Filosofi untuk berpikiran bersih, penuh harap, tetap terbuka, hidup dalam keoptimisan, melengkapinya dengan senyuman, dan berpikir kreatif secara implisit ngebantu banget diri gue untuk get back on track ke nilai-nilai positif yang udah gue buat. Intinya, as positive self-affirmation. Sekarang, dari 6 kata ini, gue bisa ngeliat diri gue dari sisi yang berbeda. So, here we go...
Aku Anaknya Cenderung Visioner
Gue baru sadar kalau gue ada kecenderungan ini. 5-6 tahun terakhir gue memiliki lebih banyak peran sebagai eksekutor. Orang yang kerjaannya ngejalanin tugas, sampai sekarang masih sih, tapi perannya lebih banyak ke strategi, planning, dan kasih arahan. Makin ke sini mungkin kedengerannya sok bijak, tapi gue meyakini apa yang gue share ke circle teman-teman di kantor, khususnya tim gue, based on empirical experiences. Nggak semata-mata karena gue harus bersikap simpati atau empati, tapi segala masukan, saran, atau tips & trick berdasarkan apa yang pernah gue lakukan, rasakan, dan lewati. Kadang gue ngerasa terlalu matang di umur gue yang sekarang, tapi hal ini juga yang bikin gue jadi maju. So, I embrace it anyway.
I'm appreciating all the thinking process
Butuh 18 tahun buat gue sadar, kalau 6 kata afirmasi ini terbentuk dan terbangun sejak gue SD dan gue konsisten untuk jalaninnya. Bahkan tetep inget itu juga sebuat prestasi personal. Semakin bertambah umur pikiran makin banyak ya, kan? Tapi hal-hal yang sifatnya prinsip atau pegangan nilai yang melekat di diri kita rasanya itu hal yang fundamental ada di diri kita. Bukan berarti gue mendorong buat pembaca blog ini untuk menjadi seperti diri gue, enggaaa. Tapi, tiap orang punya prosesnya masing-masing. Gimana dia memaknai hidup, gimana dia ngeliat suatu hal dan memilah-milah mana nilai yang paling pas buat diri sendiri, mana yang nggak harus diikutin.
Proses mikir sedikit banyak bisa ngebantu kita menyesuaikan penggunaan energi dan skill yang kita punya, trus bisa ngebantu kita untuk fokus ngeliat jalan keluar yang memungkinkan. Tapi balik lagi, proses mikir kita fokus kemana? Kalau fokusnya ke masalah, kita cuma muter-muter di situ doang, blaming someone else or ourselves atau mencari alasan-alasan sebagai justifikasi kalau kita nggak bersalah atas suatu masalah yang terjadi. Beda cerita, kalau fokus kita curahin ke solusi, mungkin kita bisa nemuin pola pemikiran terstruktur untuk mencari jalan keluar dan meminimalisir waktu yang terbuang dari proses mikirin masalahnya doang.
Gue yang di umur 11 tahun, ngeliat bahwa proses mikir sesuatu yang bisa jadi motto hidup yang outputnya adalah 6 kata yang terbentuk itu merupakan potensi yang gue udah punya dan potensi-potensi yang gue bisa kembangin karena pada saat itu gue masih memiliki kekurangan-kekurangan.
Leadershipless leads me to have a leaderships
Gue dibesarkan dari keluarga yang sederhana dan bisa dibilang bukan siapa-siapa. Bukan petinggi atau orang yang punya harta dan tahta. Gue bersyukur dibesarkan oleh ayah yang keras tapi sayang anak dengan caranya yang unik (dulu sih gue bilangnya ini overprotective banget) serta oleh seorang ibu yang kuat dan suportif banget atas segala langkah yang gue ambil. Kontradiksi pendapat antara ayah dan ibu kerap dimenangkan si bapak tapi dibalik itu, ibu selalu tahu apa yang betul-betul anaknya butuhkan sehingga gue nggak pernah merasa ditinggalkan. Gue dibesarkan bukan untuk menjadi orang besar di masa depan, tapi dididik untuk saling mengerti kondisi satu sama lain baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekitar.
Gue bukan orang kerap mendapatkan ilmu kepemimpinan di bangku sekolah. Kalau kalian familiar atau sempat jadi bagian anggota BEM. Gue nggak sama sekali pernah menjadi bagian itu di sekolah. Antara mereka nggak melihat gue memiliki potensi jadi pemimpin dalam proses rekruitmen atau ya gue udah sibuk nyari uang jajan jadi guru privat door to door atau kerja paruh waktu jadi guru bimbel. Hidup itu pilihan ya 'kan. Kalau gue sibuk organisasi, gue nggak bisa nabung beli hape Cina atau bayar cicilan laptop merk Compaq kala itu (masih inget banget ini gue cicil sama owner di bimbel tempat gue kerja).
Dari kehidupan leadershipless ini, gue malah belajar how to lead myself naturally. I'm being my own leader. At least, gue bisa atur diri gue sendiri tanpa harus ngerepotin orang lain.
Sekarang, mungkin karena udah beberapa kali punya pengalaman kerja yang cukup konsisten dan milestones, I'm being the leader of a small team. Sekarang gue malah kebentuk leadershipness itu dengan sendirinya dan gue bangga dengan progress dari hidup gue sejauh ini.
Tugas gue selanjutnya hanyalah gimana caranya stay sane, have a meaningful and joyfulness in life.
Sekarang-sekarang, kita banyak takut untuk berkata, apalagi tanpa data. Katanya hoax, katanya informasi palsu. Kali ini, bukan maksud saya mendukung apa yang disebut-sebut hoax, bukan juga membudidayakan kebiasaan menyebarkan informasi palsu. Tapi ada kalanya bicara itu berupa artikulasi kata-kata, namun banyak kata-kata yang tak harus didukung data-data. Contohnya, lewat gubahan sebuah puisi~
"Embrace uncertainty. Some of the most beautiful chapters of our lives won't have a title until much later." - Bob Goff
Aku selalu suka hujan. Aku pandangi. Tidak mengapa bila basah. Hujan membawaku pada pikiran-pikiran yang absurd. Pikiran yang terkadang tak sempat terpikirkan. Pikiran yang hanya muncul pada saat hujan.
Dulu hujan membuatku gampang sendu, karena dunia dianggap bubar dan hajat jadi berantakan bilamana hujan datang. Padahal hujan tak pernah salah apa-apa...
Sekarang hujan lebih banyak membuat aku tersenyum bahkan menertawakan hal-hal baru yang belum pernah aku temukan sebelumnya, dan semestinya memang disikapi begitu. Bukankah datangnya hujan harus disikapi dengan kebersyukuran?
Dear hujan,
Mengingat kamu menyisakan senyuman-senyuman kecil yang tak berkesudahan.
Ada kesulitan yang dialami tapi dengan mudah dihadapi dengan konklusi akhir: "Yasudah, mau gimana?"
Mengingat kamu bikin waspada. Mengira-ngira apakah perlu sedia payung sebelum hujan atau membawa jas hujan sebelum basah (?)
Mengingat kamu juga menyisakan cerita-cerita saat sulit dan terjepit, lucunya, tak pernah terpikir untuk menangisi kondisi tersebut dan malah lebih memilih menertawakan kebodohan itu sendiri.
Mengingat kamu mengajarkan bahwa kesabaran menunggu itu akan segera terbayar. Sabar, karena kamu akan segera reda.
Mengingat hujan menyisakan cerita-cerita baru. Tentang kerjasama yang berakhir dengan kebodohan bersama. Tentang kewaspadaan pada jalan yang licin. Tentang bisik-bisik cerita yang sama di antara orang-orang yang berteduh.
Sejauh mata memandang ada jalanan basah akibat derasmu.
Sedekat mata melihat ada hati bahagia akibat genggaman hangat dengan baju setengah basah.
Dear hujan,
Sampai bertemu lagi di lain waktu. Dengan antusias aku nantikan cerita-cerita baru darimu.


"Proses menemukan dan mendapatkan itu bukan sesuatu yang gampang. Terkadang kita suka menggampangkan sesuatu saat sedang emosional. Alhasil, jadi gagal mendapatkan karena kita pikir hal tersebut gampang saja untuk dicapai. Ada pula yang bilang cara yang gampang itu adalah shortcut. Bukankah dengan menemukan 'jalan pintas' kita akan lebih cepat mencapai tujuan? Mempercepat proses menemukan dan mendapatkan memang bukan hal yang gampang, tapi mengetahui seni mendapatkan dengan cara yang tidak rumit adalah kunci."
Ngomong apa sih gue? LOL
Quotes di atas nggak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang mau gue tulis.
Gue hanya ini menyampaikan, "Ini lho tulisan pertama gue di 2018!" hehehehe
Gue berterima kasih sama Tuhan karena bisa sampai di titik ini. Gue berterima kasih sama Tuhan karena diberikan kesempatan hidup yang luar biasa. Padahal, dengan mudahnya Dia bisa ambil nyawa gue Februari 2017 lalu. Tapi, inilah kehendak Dia. Gue dikasih kesempatan. *sujud syukur*
Tahun ini gue punya resolusi untuk menekan diri gue supaya bisa bermanfaat bagi sekitar gue. Salah satunya dengan menulis.
Selama ini tulisan gue hanyalah sebatas kegundah-gulanaan gue soal sesuatu yang abstrak dan random.
Tahun ini (semoga kesampean), gue berencana untuk menulis sesuatu yang berkaitan dengan ranah yang udah gue jalani sejak 4 tahun ke belakang. Ya, tentang media sosial.
Semoga, gue bisa nulis sedikit agak intelek ya dengan topik yang sebenernya selalu gue hindari untuk tulis, karena gue merasa masih jauh dari sempurna, perlu banyaaaaaaakkkk banget belajar, dan masih ngeri dihajar massa karena gue sotoy.
So, yeah!
Welcome 2018!
Btw, ada yang mau baca tulisan gue tentang socmed gak ya? *tetiba ku ngeri sendiri*
Brb


Saat berbagi cerita yang membangkitkan semangat, ada rasa yang aneh tapi gak asing saat merasakannya.
Proses tersebut berlangsung dengan sensasi getaran di bagian kepala dan seakan-akan kepala ini membesar dan membesar dalam arti yang sebenarnya. Ya, bisa dibilang hal tersebut adalah momen yang priceless dan tak tergantikan.
Terlebih, bila momen tersebut bersumber dari sebuah suntikan semangat pada pagi hari dari seorang kawan lama. Ya, momen itu baru saja terjadi saat aku membuka mata. It makes my day!Sebelumnya di blog lainnya, gue sempat bercerita mengenai 'swap stories' antara gue dan sahabat gue, dan beberapa bulan kemudian setelah tulisan itu, gue merasa mungkin momen 'swap stories' itu gak akan pernah terealisasi bersama seorang sahabat gue yang sedang asyik dengan dunianya sendiri,
Dia adalah temen SMP dan SMA gue yang gue gak nyangka akan sangat sibuk di dunia perkuliahan bahkan di dunia kerja. Saat itu, gue merasa optimis kalau kita bisa jadi teman yang baik dan saling dukung, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata inner-circle gue dan dia timpang banget! Gue jadi pesimis, apakah gue yang jelata ini bisa berbaur dengannya kalau-kalau kita kumpul bareng (?)
Dari rasa pesimis itulah, akhirnya gue narik kesimpulan sendiri bahwa the swap stories moment will never ever happen (again)!
Kemarin lusa, sekitar jam 7 pagi, pandangan gue akan hal itu berubah!
Pas gue baru aja melek dan cek handphone, ada sebuah missed called LINE dari dia. Rare moment. Gue tahu mungkin dia mau ngucapin selamat ulang tahun, tapi by calling me? It's a magical
Kalau gue gak salah ingat, terakhir kali dia telepon gue waktu SMA, lagi-lagi dia telepon randomly hanya sekadar tanya lagi apa dan apa kabar. Padahal di sekolah tiap hari juga ketemu. This kind of things that always makes me remember about you, G. In a good way. :)
Tanpa pikir panjang gue langsung chat dan bertanya,
"Hey, how have you been?"
"Did you call me?"
"Hey, I'm doing good."
"Yeah, I called you."
*Then, he calls me again.*
It's around 7 in the morning, and around 10 in the Melbourne.
Dia menyapa gue dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan rentetan doa yang sangat banyak dan gak bisa gue ingat satu-satu, karena fokus gue saat itu bukan pada doa yang baik-baik yang sudah dia sebutkan, tapi, lebih kepada hey, thanks for call me again, you make my day!
Intinya saat itu gue hanya mengucapkan amin, amin, amin, amin, berkali-kali, dan diakhiri "doa yang sama buat lo juga." dan tiba-tiba masih ada lagi doa-doa lainnya, dan gue bilang amin, amin, amin lagi. Too awkward to start a normal conversation and suddenly I asked, "Gimana di sana? Seru?"
Dia bilang di sana seru banget dan gue disuruh cepetan nyusul. Dia bilang karena ini hari spesial gue, dia mau kasih dukungan buat gue. Dukungan buat semangat sekolah lagi, karena kesempatan gak dateng berkali-kali dan mumpung masih muda, ayo dimanfaatin kesempatan itu.
Dia bilang, "Kalau gue bisa, kenapa lo gak bisa? Lo itu lebih pinter dari gue. Come on, lo selalu lebih pinter dari gue sewaktu sekolah. Lo pasti bisa lah. Ayo coba LPDP."
Sungguh, semangat itu masih membara. Tapi, urusan asmara beberapa tahun belakangan cukup menyita waktu gue selama ini. Gue pikir ini saatnya gue bakar lagi semangat terpendam gue dan kick some ass. Toh, urusan asmara itu udah gak ada lagi, So, I can decide what the best for me independently.
Dia lanjut lagi menyuntikkan gue dengan semangatnya, kalau sekolah di luar negeri itu gak selalu dengan urusan lo kudu jago bahasa inggris. Banyak aspek, Ni, yang menentukan. Segeralah ambil IELTS, dia bilang, gak susah kok, bahkan lo ga perlu les, dan sebenernya bisa belajar sendiri.
Gue hanya bisa bilang, "Iya, iya... gue akan coba setelah ini." It's totally cliche like usual. But, this time, I think I'm not gonna be a cliche person at all. I'll do my best, G.
Setelah itu dia cerita keseharian dia di Melbourne, dari yang sebelumnya tinggal jauh dari kota dan harus naik tram untuk menuju ke kampus. Gak bisa balik malam karena tram cuma sampai jam setengah 11 malam saja sampai akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di tengah kota di mana hanya butuh sekitar 5 menit saja untuk menuju kampus. Ah, that's feeling. Campus life. The grass on the university's field. New friends. New knowledge. New experience. Challenging yet amazing. Hati kecil gue nan lembut pun berkata, "Aku mau..... Mau banget jadi mahasiswa lagi!" :)
Dia bilang kalau di sana mahasiswa gak harus datang ke kampus, tapi kita harus tetap memastikan apakah kelas tersebut direkam atau engga, kalau direkam, tinggal lihat saja hasil rekamannya di website kampus. Learn by yourself, do a task by yourself, and complete the assignment by yourself. It's totally demanding an independence, and I got this lesson on the Independence day! Superb.
Sampai pada akhirnya, awkward moment datang lagi, gue dan dia gak tahu harus ngomong apa lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi telepon dan gue mengiyakan. Then the call is ended. Well Done.
Gue berdiam beberapa saat, it's still 7.25 in the morning on Jakarta over my bed and 10.25 in the morning on Melbourne with his new journey. 9 minutes 22 secs length of call; I have spent a time with a quality topic with a quality person, with you, G.
Satu hal yang bisa gue lakukan setelah itu adalah bersyukur.
Sebenarnya, sangat bersyukur.
Karena rasa sayang tuhan untuk tiap umatnya datang dari jalan yang nggak diduga-duga. Mungkin ini isyarat buat gue, bahwa tuhan ingin gue gak buang-buang waktu lagi, dan gak memupuskan impian terpendam gue begitu aja.
So, let's set a plan!
I have a lot of things to do right now!
Let's be a busier person!
Dirgahayu Indonesia! Semoga kamu semakin jaya.
Aku bangga menjadi bagianmu, rakyat Indonesia. Aku bangga menggunakan bahasamu, bahasa Indonesia. Aku bangga berdiri di tanahmu, tanah air Indonesia.
Aku bangga dilahirkan di tanggal dan bulan yang sama saat bumi Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Aku bangga bahwa ada sebuah ikatan yang cukup sentimentil antara aku dan kamu: kita lahir di tanggal yang sama. Bedanya, kamu 71 tahun, aku 25 tahun. Aku tahu kita gak mungkin jadi pasangan yang serasi. Tapi aku yakin kamu pasti punya lebih banyakkkk pengalaman dibanding aku. Ya, kan? Kalau kamu adalah seorang kakek atau nenek yang kaya akan pengetahuan nan pengalaman berharga, jangan lelah untuk menasihati aku dengan petuah bijakmu ya!
Jadi intinya, hari ini adalah hari yang benar-benar memerdekakan bagi kita semua! Khususnya buat gue.
Hari ini, gue udah sampai di level 25. Ibarat main Pokemon-Go, gue udah punya beragam Pokemon ciamik dengan CP yang gede dan gak malu-maluin banget buat dipamerin. Walaupun kenyataannya, sampai saat ini gue masih stuck main Pokemon-Go di level 16. hahaha
Level, menurut gue akan lebih menyenangkan untuk disebut ketimbang umur. Karena umur hanya menggambarkan seberapa lama gue hidup dan seberapa lama lagi sisa hidup gue di dunia ini. Ada tensi demotivasi pada term 'umur'. Sedangkan level lebih menggambarkan seberapa banyak pelajaran (continuously learn) yang telah gue ambil dan maknai selama ini, seberapa banyak variabel kemampuan (skill) yang meresap ke dalam tubuh gue saat ini, seberapa banyak kesempatan hidup (healthy bar) yang telah gue habiskan untuk mencapai level ini, dan seberapa banyak pengalaman (experience) yang telah gue raih (achievement) untuk sampai di level 25 ini.
Bila kenaikan satu level memiliki jangka waktu satu tahun, maka banyak sedikitnya perolehan dan pencapaian yang gue terima saat ini, tergantung dari sejauh mana gue mendedikasikan diri gue untuk menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Berbicara mengenai umur, tepat hari ini, gue seperempat abad! Kalau ini adalah tahun perak, gue menerima untuk ditempa lagi agar nanti bisa jadi logam mulia yang berkilau.
Sebelum hari itu tiba, beberapa hari belakangan, gue bermenung, apa yang udah gue lakuin selama ini? Apa manfaat gue ada di dunia ini?
Dari segi lamanya gue hidup, gue gak merasa gue sudah cukup tua, gue pun juga gak merasa gue masih muda. Gue merasa hari ini adalah hari gue untuk lebih dewasa dan lebih realistis. (Cek blog gue tentang kedewasaan & kerealistisan di sini)
Dari hasil permenungan tersebut, maka gue bisa menyimpulkan, sbb.
1. Gue terlalu banyak buang-buang waktu
2. Gue terlalu banyak plin-plan dalam memutuskan
3. Gue terlalu mudah simpati dan berempati
4. Gue terlalu lembek
5. Gue terlalu banyak berharap orang-orang akan peduli sama gue
6. Gue terlalu naif untuk memikirkan bahwa gue bisa mencapai hidup yang sempurna
But, please slow down. I'm not going to spread negative vibes!
Gue ingin menjelaskan bahwa di level 25 ini, gue perlu berubah menjadi orang yang lebih baik dengan menuliskan beragam kekurangan dalam diri gue dan tantangan yang gue hadapi dari segi eksternal.
1. Gue terlalu banyak buang-buang waktu
Yes, indeed. Gue adalah orang yang gak mau ribet, berpikir semua itu gampang, semua itu pasti ada solusinya.
Sampai akhirnya gue merasa kalau gue adalah seorang problem solver.
Kadang hal itu bermanfaat, tapi beberapa tahun belakangan ini gue berusaha menyelesaikan permasalahan yang pada akhirnya terus-terusan memunculkan permasalahan baru dan permasalahan baru lagi. Begitu terus sampai akhirnya gue tersadar, maybe I need to cut the rope because I know it is a curse and my existence is only make things get worse. So, I cut it out!
Hal yang paling krusial mengapa gue memutuskan itu bahwa gue bukanlah siapa-siapa yang punya hak untuk memutar balikkan kehidupan seseorang. Keyakinan gue awalnya, gue bisa mendukung seseorang all out (dukungan moral, material, dsbg) agar dia bisa menjadi pribadi yang lebih bahagia, dan semoga (anggap aja ini mimpi ala Disney gue) saat kebahagiaan itu menghampirinya, dia akan ingat bahwa gue selalu ada disaat-saat sulit dia dan masih ada disampingnya. Sampai pada masanya kita bahagia bareng-bareng forever after.
But, ZONK!
I realize that I'm wasting my time, my energy, and my soul. It consumed me.
Jadi, ya... sekarang talinya sudah dipotong, dan gue akan lebih bijak lagi dalam menggunakan waktu.
2. Gue terlalu banyak plin-plan dalam memutuskan
Decision maker is a skill that I still try to achieve it! Susah banget ya untuk menjadi seseorang yang bisa memutuskan, karena dalam prosesnya banyak pertimbangan dan rasa takut akan hal-hal yang mungkin terjadi sesudahnya.
Tapi balik lagi seperti blog gue sebelumnya, saat ini gue sudah mencoba menjadi diri gue dalam versi yang paling baik, dalam memutuskan dan realistis. Realistis dalam menghadapi kenyataan apa yang benar-benar terbaik buat gue as a person dan saat berkomunikasi intrapersonal, terbaik buat dia saat berkomunikasi interpersonal, dan terbaik buat kita atau mereka ketika berkomunikasi extrapersonal.
Karena talinya sudah dipotong, jadi ini merupakan awal berkurangnya ke-plin-plan-an gue dan semoga gue bisa menjadi orang yang lebih kritis, realistis, dan lebih baik lagi setelah ini.
3. Gue terlalu mudah simpati dan berempati
Ini agaknya seperti kelebihan dan bisa juga jadi kekurangan bagi gue.
Gue masih inget banget saat gue nangis bareng sama teman kuliah gue di angkot karena dia baru aja kecopetan handphone di bis yang baru aja kita tumpangin bareng. Gue ikut nangis karena I can feel her. Tapi nilai drama tertinggi adalah mengenai kisah dia menjelang detik-detik kehilangan HP priceless-nya itu.
Cerita dimana dia meminta dengan sangatttt kepada ayahnya untuk dibelikan HP yang saat itu dia tahu keadaan orang tuanya gak memungkinkan. Di sisi lain, dia juga ditekan karena ponsel itu sangat dia butuhkan demi berkoordinasi dengan organisasi kampus dan teman-temannya. Cerita di mana dia membentak ayahnya--yang notabene adalah orang yang paling peduli dengan dia-- karena suatu hal saat dia hendak ke Depok untuk ngajar les bimbel dan akhirnya secara gak sengaja dia ketemu gue di bis dengan tujuan yang sama, ngajar les bimbel.
Dan, setelah dia ceritakan segala hal yang dia rasakan, tumpah ruahlah semua, betapa menyesal dirinya atas peristiwa yang dia alami dan atas segala hal yang dia telah lakukan. Gue hanya bisa meluk dia dan ikut nangis; Menggambarkan betapa sedihnya gue karena gue sangat bisa merasakan apa yang dia rasakan. I put my foot on her shoes.
It's only a small story in a short moment. But the memory stay forever.
Gue gak tahu sudah berapa lama nilai simpati dan empati yang gue pupuk terus-terusan ini tumbuh subur atau memang itu sudah tertanam di nilai-nilai keluarga gue. Yang gue sadari, rasa simpati dan empati yang tak terkontrol membuat gue gak bisa berpikir realistis dan terlalu berlarut-larut memikirkan kehidupan dan perasaan orang lain. Rasa empati ini juga yang sudah membuat gue merasa gue bisa bantuin ini itu, dan menyerahkan segala usaha untuk satu-satunya my top of mind person.
So, I need to minimize it. I won't cut the sympathy and empathy because it makes me more human, I'll just control it as it should be.
4. Gue terlalu lembek
Dibesarkan menjadi anak bungsu membuat gue menjadi mudah rentan, karena sampe sebesar ini aja orang tua gue masih menganggap gue anak kecil. Mereka serta merta melindungi, mendukung, dan membentengi gue kalau-kalau ada yang mau menjahati gue atau masa sulit menghampiri gue. Betapa beruntungnya gue, dan gue bersyukur atas itu.
Gue merasa ini juga bernilai positif tapi bisa juga berdampak negatif buat gue.
Negatifnya, gue jadi lembek, ga tahan banting. Padahal gue harusnya perlu sering-sering dilatih agar tahan banting.
Faktanya, saat masa sulit menghampiri gue, gue masih suka mau nangis dan butuh pertolongan tuhan untuk mempermudah semua ini...
Jadi, gue akan lebih membiarkan diri gue untuk merasakan sulitnya sebuah situasi (
One day, I'll realize and be thankful for all the struggles I've been through. They make me stronger, wiser, and humble. I wish, all the struggles won't break me, but it makes me to be a better person.
5. Gue terlalu banyak berharap orang-orang akan peduli sama gue
Ini adalah repetisi. Contoh kecilnya, tahun-tahun sebelumnya gue selalu menanti siapa-siapa saja orang yang akan peduli sama gue pada hari ini, ya tepat hari ini. Lalu gue mulai menghitung siapa-siapa aja yang gak ada untuk sekadar mengucapkan selamat atau menyambut senyum sapaan gue.
Gue gak habis pikir ya, ternyata gue adalah orang dengan versi yang seperti ini sebelum-sebelumnya.
Ya, Allah ampuni hambamu yang gak tahu diuntung ini... T_T
Sekarang, gue buang-buang jauhhhhhhh pikiran macam ini, I knew, by counting and counting unnecessary thingy, I'm wasting my time. A lot.
Setelah gue buang jauh-jauh pikiran macam ini, hasilnya: SUPER LEGA!!!!!
Karena gue tahu, untuk menjadi orang yang dipedulikan orang lain, gue harus mulai duluan. Dan jangan pernah berharap gue akan dipeduliin orang lain, kalo gue sendiri aja gak care.
Jauh sebelum ini gue adalah orang yang sangat egois. Makanya bisa dibilang karena sifat ini, sahabat gue gak banyak, dan ini salah satu penyesalan terbesar gue sebagai generasi bangsa yang harusnya be humble!
Kenapa sih gue gak berteman sebanyak-banyaknya kala gue masih muda? Kenapa sih gue selalu gak available kalau diajakin main sama temen-temen dengan alasan gue anak rumahan, gue gak boleh pulang malem, dan gue harus belajar. Gue bukan menyesali bahwa gue adalah anak rumahan, harus taat peraturan jam malem, dan kewajiban belajar, bukaannn. Poin gue di sini, gue kehilangan banyaakkkk sekali waktu-waktu berkualitas yang sebenernya bisa gue habiskan bareng temen gue kala itu dan hari ini mungkin gue bisa cerita-cerita nostalgia mengenai kekonyolan yang pernah kita lakuin kala itu.
Yeah, life is about choices. My choice at the past & present is the result of my future. Okay. Thanks.
6. Gue terlalu naif untuk memikirkan bahwa gue bisa mencapai hidup yang sempurna
Sebelumnya, gue merasa, gue bisa kok kayak mereka, tinggal nunggu waktu yang tepat aja. Gue bisa kok memiliki ini itu dengan kerja ini kerja itu, nabung ini nabung itu. Gue juga punya sahabat yang baik walau gak banyak. Then, when I got it all, What a perfect life!
No! Meminjam istilah dari temen gue, "Itu hanya khayalan babu belaka."
Gue menyadari, selama apa yang gue ingin dapatkan dan coba raih berasal dari keinginan yang sama setelah melihat isi kuali orang lain, gue gak akan merasa sempurna dan gak akan mendapat kepuasan dari hasil menyontek. Hal itu hanya akan menyakiti orang-orang yang sedang bersama gue. Karena adakalanya gue bisa saja menekan, membebani dan berusaha mengondisikan suatu keadaan, atau mengatakan "Aku ingin bangetttt seperti A, Mama/Papa/Kakak/Om/Tante/Lo/Kamu bisa bantu aku mewujudkannya?"
Jadi, jawabannya untuk hal ini adalah berpasrah tapi juga jangan berhenti berusaha. Intinya usaha gue adalah sesuai dengan kemampuan dan tenaga gue.
Sebenernya, bisa banget buat menjadikan pencapaian orang lain sebagai motivasi, tapi tidak serta merta menginginkan pencapaian yang sama persis atas orang tersebut.
Gue kadang lupa, kalau tiap manusia itu unik, termasuk gue juga unik, lo juga!
Dengan keunikan itu, kita beda. Apa yang gue capai belum tentu sama dengan apa yang lo capai. Walau jalan yang kita tempuh adalah jalan yang sama, tapi hasilnya gak akan identik sama.
Hal yang membedakan kita adalah kualitas yang ada di dalam diri kita. Jadi, gue harus meyakini diri gue bahwa rumput di halaman gue adalah rumput yang lebih hijau dari yang lain, kalau gak hijau gue akan coba lagi bercocok tanam agar rumput gue beneran hijau dan tumbuh subur. :)
Jadi, semangat!
Semoga level 25 akan menjadikan gue pribadi yang dengan bangga menginjakkan kaki di level 26 kelak, karena sejatinya, saat itu tiba, memang gue sudah pantas dan layak mencapai level 26!
Semoga gue menjadi manusia yang kelak bisa jadi kebanggaan buat bangsa ini. Kalau kata bokap nyokap gue sih, gue cukup jadi kebanggaan mereka, dan mereka beruntung punya anak kayak gue. Gue pun beruntung dilahirkan oleh ayah ibu yang super keren! Terima kasih Tuhan. :)
Kalau lo gimana?
P.S. Mungkin yang membaca tulisan ini belum tentu ngerti apa maksud tulisan ini, tapi yaudah gue berterima kasih aja kalau sampe ada yang baca tulisan ini dari awal sampai akhir. :)
Salam,
Nia