Uang Minim, Gak Bisa Beli Buku? Baca Aja Resumenya!

2:14 PM


Resume Buku: Sembilan Elemen Jurnalisme
Karangan Bill Kovach & Tom Rosentiel
Sebagai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Jurnalisme
2010
Untuk Apa Jurnalisme Ada?
Untuk rakyat Polandia dan negara lain tempat demokrasi muncul, jurnalisme hadir untuk membangun kewargaan (citizenship), memenuhi hak-hak warga. Jurnalisme ada untuk demokrasi.
Tujuan jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri. Media membantu kita mendefinisikan komunitas kita, menciptakan bahasa yang dipakai bersama, dan pengetahuan yang dipahami bersama. Pengetahuan yang berakar pada realitas. Jurnalisme juga membantu warga mengenali tujuan komunitas, mengenali para pahlawan dan para penjahat. Media berita bertindak selaku anjing penjaga, membuat orang-orang lebih dari sekadar terpuaskan dan menawarkan suara bagi yang terlupakan.
Jack Fuller, penulis, novelis, pengacara, dan presiden Tribune Publishing Company yang menerbitkan harian Chicago Tribunes menyatakan bahwa tujuan utama jurnalisme adalah menyampaikan kebenaran sehingga orang-orang akan mempunyai informasi yang mereka butuhkan untuk berdaulat. Pernyataan ini juga dijadikan sebagai pijakan dasar pertama pada tahun 1997 bagi orang-orang media. Kode etik dan pernyataan misi jurnalisme menghasilkan kesaksian yang sama pula. Tujuan jurnalisme yaitu “untuk melayani kesejahteraan umum dengan menginformasikan berita-berita kepada orang,” begitu bunyi kode etik American Society of Newspaper Editors, asosiasi terbesar manajer redaksi media cetak di amerika Utara.
Orang-orang yang berada di luar Jurnalisme juga memahami kewajiban sosial dan moral yang luas bagi jurnalisme. Sebagaimana yang dikatakan Paus Johanes Paulus II pada Juni 2000 mengenai pers: “Dengan pengaruhnya yang besar dan langsung kepada opini publik, jurnalisme tidak bisa dipandu dengan hanya kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus. Sebaliknya, jurnalisme harus dihayati sebagai misi yang dalam batas tertentu dianggap suci, bertindak-tanduk dengan pemahaman bahwa cara berkomunikasi yang kuat telah dipercayakan kepada wartawan demi kebaikan seluruh masyarakat.
Banyak informasi yang dibagikan dalam buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” yang kurang lebih membahas mengenai naluri kesadaran pers, kebebasan pers, teori demokrasi wartawan, teori keterikatan publik serta tantangan baru yang dihadapi wartawan pada masa kini sebagai tujuan awal jurnalisme itu ada ditengah-tengah warga. Buku ini juga memaparkan melalui pemahaman prinsip-prisip dalam elemen jurnalisme guna mempertahankan dan mencapai tujuan jurnalisme yang hakiki.


Kebenaran: Prinsip Pertama dan paling Membingungkan
Selama tiga abad terakhir ini, para profesional di bidang jurnalisme telah mengembangkan sejumlah besar prinsip dan nilai tak tertulis untuk memenuhi fungsi penyediaan berita—sebuah pengetahuan tak langsung yang dipakai warga untuk membentuk opini mereka tentang dunia. Yang paling utama dari prinsp tersebut adalah:
Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
Semua orang setuju bahwa wartawan harus menyampaikan “kebenaran”, namun orang berselisih paham dengan apa yang dimaksud dengan “kebenaran”. Berita adalah materi yang digunakan orang untuk mempelajari dan berpikir tentang dunia yang ada di luar diri, maka kualitas terpenting berita adalah dapat digunakan dan dapat diandalkan.
Tujuan pemikir Abad Pertengahan lebih pada kontrol dan bukan pencerahan. Pada saat pers modern mulai terbentuk bersamaan teori demokrasi, maka hal paling awal yang dilakukan suratkabar untuk pemasaran yang paling kuat adalah janji untuk berlaku jujur dan akurat.
Jurnalisme kolonial pertama di Amerika adalah campuran antara esai dan fakta. Terdapat lebih banyak pernyataan maupun opini dibandingkan informaasi yang disampaikan. Pada abad ke-19, jurnalisme penuh akan bumbu-bumbu cerita yang mengandalkan berita-berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal yang menegangkan, dan pemujaan kaum selebritas. Herald milik Hearst, adalah media yang bersalah karena lebih banyak menceritakan hal-hal sensasional dibanding penemuan ilmiah bahkan menyatakan diri sebagai media yang paling jujur. Sun milik Pulitzer beroperasi di bawah “akurasi, akurasi, dan akurasi”, diluar dugaan media ini ternyata lebih dapat diandalkan.
Pada abad ke-20 para wartawan mulai menyadari bahwa realisme dan realitas—atau akurasi dan kebenaran—tak bisa lagi dengan mudah dianggap sama. Pada 1920, Walter Lippman menggunakan istilah kebenaran dan berita yang bisa saling dipertukarkan dalam “Liberty and the News”. Pada 1922, ia menulis dalam Public Opinion, “Berita dan kebenaran bukanlah hal yang sama . . . Fungsi berita adalah menandai suatu peristiwa atau membuat orang sadar akan hal itu. Fungsi kebenaran adalah menerangi fakta-fakta tersembunyi, menghubungkannya satu sama lain, dan membuat sebuah gambaran realitas yang dari sini orang bisa bertindak.”
Kebenaran tampaknya terlalu rumit untuk kita kejar atau bahkan kebenaran itu memang tidak ada, mengingat bahwa individu itu adalah manusia yang subyektif. Kewajiban wartawan terhadap kebenaran juga masih dalam lingkup kebingungan. Wartwanpun masih tak pernah jelas dengan makna kejujuran yang mereka maksud.
Penjelasan konvensional yang diberikan wartawan tentang bagaimana mereka sampai pada kebenaran yang cenderung merupakan jawaban cepat yang diambil dari wawancara atau pidato, atau lebih buruk lagi dari slogan pemasaran.
Pendapat Tom Brokaw yang menyatakan bahwa berita adalah segala hal yang paling layak yang diberitakan pada sembarang hari. Pernyataan ini diasumsikan semakin menunjukkan kepasifan dari wartawan yang lebih menjadikan wartawan sebagai juru catat dibandingkan sebagai seorang yang menyeleksi informasi ataupun redaktur.
Kebenaran juranalistik adalah lebih dari sekedar akurasi—bukan hanya kebebasan bicara dan urusan dagang. Ini adalah pekerjaan sortir yang berkembang antara cerita pertama dan interaksinya di tengah publik, pembuat berita, dan wartawan sepanjang waktu. Prinsip pertama jurnalisme ini—pengejaran kebenaran tidak berat sebelah—adalah yang paling membedakannya dari semua bentuk komunikasi lain.
Proses penyortiran menjadi penting karena warga sebagai individu ataupun masyarakat secara keseluruhan bergantung pada laporan yang akurat dan dapat diandalkan tentang peristiwa yang terjadi, sehingga mereka dapat bekerja dengan baik. Hal ini lah yang dikejar jurnalisme—bentuk kebenaran yang bisa dipraktikkan dan fungsional. Yang terbaik yang dapat dilakukan sebagai wartawan menurut Bill Keller, redaktur pelaksana New York Times, adalah berupaya keras mendapatkan liputan sebanyak mungkin yang bisa dihasilkan untuk member pembaca informasi yang cukup sehingga mereka bisa memutuskan sendiri.
Sekadar akurasi bukanlah hal yang dicari orang. Wartawan Jack Fuller dalam bukunya News Values menjelaskan bahwa ada dua ujian bagi ihwal kebenaran menurut para filsuf yaitu kesesuaian (correpondence) dan konsistensi yang masuk akal (coherence).
Meski begitu, bukan berarti akurasi tidak penting. Justru sebaliknya, akurasi adalah fondasi bagi bangunan di atasnya: konteks, interpretasi, debat dan semua komunikasi publik. Jika fondasinya keliru maka akan terjadi kecacatan pada bangunan di atasnya.
Memahami kebenaran jurnalistik sebagai sebuah proses—atau perjalanan berkelanjutan menuju pemahaman—sebenarnya lebih membantu dan lebih realistis, dan hal ini dimulai dengan berita yang timbul hari pertama dan perkembangan selanjutnya. Wartawan berusaha menyampaikan “kebenaran yang bisa dipastikan” melalui pengumpulan fakta-fakta, mencatatnya dan memeriksa fakta tersebut. Setelah fakta-fakta itu diverifikasi maka para wartawan berupaya untuk menyampaikan laporan yang jujur dan dapat diandalkan dari makna keadian yang valid dan dapat menjadi subjek untuk reportase lebih lanjut.
Proses ini akan berlanjut dari hari pertama hingga hari selanjut-selanjutnya dan jika telah masuk dalam tahap yang lebih kompleks maka akan ada pembahasan yang lebih lanjut pada halaman editorial, bincang interaktif, surat ke redaksi atau penelepon untuk acara radio.
Walaupun mendapati fenomena yang rumit dan kontradiktif jurnalisme tetap bisa sampai paada kebenaran yang ditempuh dengan cara memilah sedari awal fakta dari informasi yang keliru. Sejarawan Gordon Wood menyatakan bahwa kebenaran obyektif tentang masa silam dapat diamati dan diverifikasi secara empiris, ketika seseorang telah merasakan telah dekat dengan kebenaran, saat sumbernya dapat dipercaya, saat penelitiannya seksama dan saat metodenya transparan.
Beberapa wartawan menyarankan kata ganti untuk kebenaran dengan kata-kata yang sering kita dengar yaitu fairness (sikap tidak berat sebelah) dan balance (keseimbangan). Namun, hal tersebut masih memiliki beberapa kekurangan. Fairness terlalu bersifat terlalu abstrak dibandingkan dengan kata kebenaran.
Berdasarkan hasil survei, delapan dari 10 wartawan yang bekerja di media nasional dan tujuh dari 10 wartawan yang bekerja di media lokal di Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka percaya bahwa memang ada laporan yang benar dan akurat mengenai suatu peristiwa. Maka peran pers di era baru ini adalah menjawab pertanyaan: “di mana berita yang bagus?” Verifikasi dan sintesis menjadi tulang punggung peran baru penjaga gerbang yang dimainkan wartawan, yaitu menjadi “penyampai hal yang masuk akal” seperti yang dimaksudkan oleh John Seeley Brown, mantan Direktur Xerox. Agar hal itu terlaksana, maka langkah berikutnya adalah wartawan harus memperjelas kepada siapa mereka menunjukkan loyalitas pertama mereka.
Untuk Siapa Wartawan Bekerja
Setiap tahun setiap eksekutif muda menunggu keputusan penting mengenai: seberapa baik mereka bekerja dan berapa besar bonus yang akan mereka dapat? Hal ini seolah-olah wajar, karena peningkatan program insentif di dalam perusahaan diperuntukkan untuk meningkatkan tanggung jawab para pesertannya. Namun, mengaitkan pembayaran wartawan dengan hal lain di luar kualitas jurnalisme mereka adalah sesuatu yang baru muncul 20 tahun terakhir.
Sekadar menyebut dengan jelas bahwa tidaklah cukup apabila wartawan hanya memiliki kewajiban untuk mencari kebenaran. Kondisi macam apa yang mereka perlukan agar dapat mengetahui kebenaran dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada publikdalam cara yang dipercayai warga? Jawabannya, prisip kedua, yakni persoalan tentang loyalitas.
Loyalitas pertama jurnalisme kepada warga
Komitmen kepada warga (citizen) dengan berita yang akurat tanpa terpengaruh dengan pemasangan iklan, pemilik media, maupun dengan asumsinya sendiri merupakan alasan bagi masyarakat untuk mempercayai sebuah organisasi berita dan merupakan sumber kredibilitas bagi para wartawan. Ringkasnya, hal ini merupakan suatu aset sebuah perusahaan media dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Kesetiaan kepada warga yang sering disebut dengan independensi jurnalistik merupakan sinonim untuk gagasan-gagasan lain, termasuk ketidakterikatan, tidak berat sebelah, dan ketidakberpihakan. Hal ini pun selaras dengan survei yang dilakukan oleh Pew Research Center for the People and the Press dan Committee of Concerned Journalists mengenai nilai-nilai jurnalisme pada 1999 bahwa lebih dari 80% responden menempatkan prinsip inti jurnalisme dengan memenuhi kewajiban untuk mengutamakan pembaca atau prndengar ataupun pemirsa. Nick Clooney, penyiar berita di Los Angeles, juga mengatakan tentang hal yang serupa, “Saya tak bekerja untuk Anda. Anda membayar gaji saya, dan saya sangat berterima kasih. Tapi yang sebenarnya adalah saya tidak bekerja untuk Anda, dan jika sudah sampai masalah loyalitas, loyalitas saya akan hidup kepada orang yang menghidupkan pesawat televisi . . . ” Hal ini selaras dengan Deklarasi yang disampaikan oleh penerbit muda dari Tennesse bernama Adolph Ochs pada 1896.
Dari Independensi ke Isolasi
Saat wartawan berupaya menghormati dan melindungi independensi yang secara hati-hati didapatkannya dari tekanan partai dan kekuatan komersial, mereka terkadang masih harus mengejar independensi untuk kepentingan independensi itu sendiri. Ketidakberpihakan dari luar terhadap mereka dapat membuat mereka terasing dari komunitas dimana mereka berada, oleh karena itu, banyak dari mereka yang hidup tidak tetap dan berpindah-pindah atau bahkan hidup hanya dalam lingkup komunitas jurnalisme semata.
Faktor kedua dalam perkembangan isolasi ini adalah perubahan sifat pemberitaan. Setelah Perang Vietnam, Watergate dan kemudian muncul saluran berita 24 jam, jurnalisme tercatat subyektif dan makin menghakimi. Misalnya, program berita petang jaringan televisi Amerika Serikat selama tahun-tahun pemilu berkurang, dari rata-rata 43 detik menjadi 9 detik dan liputan gambar stand up yang seharusnya reporter bertugas meringkas cerita, menjadi kian panjang dan menghakimi.
Beberapa wartawan pun khawatir akan rekan mereka yang melampaui batas dari skeptisme manjadi sinisme tersebut. Professor University of Pennsylvania, Joseph N. Cappella dan Kathleen Hall Jamieson dalam Spiral of Cynicism: The Press and The Public Good, menyatakan bahwa factor kunci problem tersebut adalah tumbuhnya jurnalisme dengan berfokus pada pejabat publik. Hal ini menggeser pertanyaan pokok “apa” menjadi “mengapa” dan disisi lain, hal ini membuat wartawan menjadi makin terasingkan dari warga.
Serangan Balik dan Keterlibatan
Tahun 1990-an terjadi pertimbangan ulang independensi redaksi. Penyebab utamanya ialah, strategi bisnis yang membidik demografi tertentu yang mulai menyerang balik dengan menyedot iklan sebagai penghasil uang. Hal ini tentu berlawanan dengan kepentingan utama jurnalisme dan warga. Management By Objective adalah salah satu insentif dari pemilik media dalam menciptakan suatu akuntabilitas yakni dengan menetapkan sasaran-sasaran berikut penghargaannya bila sasaran itu tercapai oleh wartawan, sebuah perusahaan dapat menciptakan suatu sistem terpadu untuk koordinasi pemantauan terhadap apa yang dilakukan para eksekutif. Masalahnya, mengikatkan pendapat seorang wartawan dengan kinerja keuangan organisasinya mengakibatkan pergeseran loyalitas wartaawan. Teknik lain yang dilakukan ialah melalui promosi komersial yang dilakukan sponsor utama dengan menyadur produknya tersebut dengan acara-acara yang ada seperti dalam siaran olahraga ataupun ramalan cuaca dan lain-lain.
Warga Bukanlah Pelanggan
Orang yang bekerja dipemberitaan tidak menjajakan produk yang berisi kepentingan pelanggan, mereka membangun hubungan dengan audiensnya berdasarkan nilai-nilai yang mereka anut, pengambilan sikap, kewenangan, keberanian, profesionalisme, dan komitmen kepada komunitas. Dengan menyediakan ini, media menciptakan ikatan dengan publik yang selanjutnya disewakan kepada pemasang iklan. Intinya, bisnis jurnalisme berbeda dengan pemasaran untuk konsumen tradisional. Audiens bukanlah pelanggan. Pengiklan adalah sang pembeli. Namun, pelanggan atau pengiklan harus dinomorduakan dibawah warga (citizen).
Pagar Api
Banyak orang bicara tentang adanya pagar api (firewall) antara pihak redaksi dan bisnis di media. Sayangnya, pengertian wartawan berada di balik pagar api agar bisa melayani warga dengan baik sementara orang pemasaran bebas mencari keuntungan, adalah metafora yang salah arah. Pertama, hal ini akan mendorong terjadinya isolasi. Kedua, jika dua pihak dalam organisasi media benar-benar berjalan ke arah yang berlawanan, jurnalisme cenderung menjadi pihak yang dirugikan.
Jika pagar mistis tak bisa melindungi kesetiaan pertama wartawan kepada warga, maka dipenghujung abad 20 mereka mulai memikirkan membuat hubunga yang lebih terbuka antara redaksi dan bisnis dalam menyediakan berita. Terdapat lima gagasan kunci yang muncul dalam introspeksi tersebut, yaitu:
1. Pemilik atau perusahaan harus menomorsatukan warga
2. Pekerjaan manajer bisnis juga menomorsatukan warga
3. Terapkan dan komunikasikan standar yang jelas
4. Kata akhir berita berada di tangan wartawan
5. angka 1-9Komunikasikan standar yang jelas kepada publik
Jurnalisme Verifikasi
Bagaimana wartawan menyaring rumor, gosip, ingatan yang tak sempurna, manipulasi dan mencoba untuk meenangkap sesuatu seakurat mungkin, yang mungkin harus direvisi mengingat adanya informasi dan perspektif baru? Setiap wartawan seringkali bekerja dengan mengandalkan metode pengujian dan penyediaan informasi yang sangat pribadi—yakni disiplin verifikasi. Namun, apapun namanya, apapun mediumnya, kebiasaan dan metode ini menyangga prinsip ketiga.
Intisari Jurnalisme Adalah Disiplin Verifikasi
Disiplin verifikasi adalah hal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi atau seni. Jurnalisme sejak awal memang berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi setepat-tepatnya, diluar hiburan (entertainment dan infotainment) yang berfokus pada hal-hal yang menggembirakan hati ataupun propaganda yang menyeleksi dan mengarang fakta demi kepentingan yang lain.
Hilangnya Makna Objektivitas
Objektivitas muncul pada 1920-an ketika para wartawan mengalami bias tanpa sadar. Objektivitas meminta wartawan mengembangkan semua metode untuk secara konsisten menguji informasi—pendekatan transparan menuju bukti-bukti—dengan tepat sehingga bias personal dan bias budaya tidak melemahkan akurasi kerja mereka.
Pada abad ke-19, konsep yang sering disebut adalah realisme, bukan objektivitas. Realisme adalah pemikiran jika seorang wartawan menggali fakta dan meruntutkannya secara kronologis, kebenaran akan dengan sendirinya terungkap. Secara bersamaan dengan munculnya realisme, muncul pula dengan apa yang dikatakan dengan piramida terbalik, dimana wartawan menulis berita dengan cara menyusun fakta-fakta yang dianggap lebih penting dan berturut-turut dengan hal yang kurang penting. Hal ini dimaksudkan agar pembaca dapat mengenali bangunan masalah dengan sendirinya.
Untuk menjaga keobyektifannya itu, Lippman menyatakan bahwa metodenyalah yang harus dijaga agar efektif dan bukan menjadikan wartawan agar obyektif. Yang menjadi implikasi penting adalah adanya sikap impartial (tak berpihak) yang digunakan banyak organisasi berita atau yang serng kita dengar dengan sikap netral dalam penulisan, namun hal tersebut harus didukung sengan disiplin verifikasi bagi wartawan. Namun, bagaimanapun jurnalisme mengembangkan beragam teknik dan konvensi untuk menentukan fakta, ia hanya sedikit saja mengembangkan sebuah sistem untuk menguji keandalan interpretasi jurnalistik.
Jurnalisme Omongan Versus Jurnalisme Verifikasi
Budaya pers umumnya semakin mengaburkan metodologi verifikasi wartawan. Teknologi adalah penyebabnya. Kemudahan dalam mengakses data membuat wartawan banyak menghabiskan waktu untuk menambahi beritanya yang lebih banyak dengan unsur interpretasi dibandingkan dengan mencari fakta baru. Hal ini juga dapat membuat wartawan semakin pasif; lebih menjadi penerima daripada menjadi pengumpul.
Fairness (sikap tidak berat sebelah) dan balance (keseimbangan) merupakan sebuah alat yang dapat digunakan oleh wartawan untuk mengembangkan dan melakukan verifikasi laporannya, walaupun bukan merupakan prinsip utama. Ketidakberatsebelahan bermakna bahwa wartawan berlaku adil terhadap fakta dan terhadap pemahaman warga atas fakta-fakta tersebut. Keseimbangan dapat mengantar wartwan pada distorsi, yaitu penyampaian dua sisi fakta berbeda secara berimbang tanpa menunjukkan adanya keberpihakkan pada salah satu pihak.
Terdapat lima prinsip intelektual dari sebuah laporan ilmiah yang mempelajari masukan-masukan para wartawan, para warga dan pihak lain yang memiliki pemikiran akan berita. Prinsip-prinsip itu adalah:
1. Jangan pernah menambahi sesuatu yang tidak ada
2. Jangan pernah menipu audiens
3. Berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi Anda
4. Andalkan reportase Anda sendiri
5. Bersikaplah rendah hati
Teknik Verifikasi
Penyuntingan sekeptis adalah konsep penting untuk dipahami bagi warga dan wartawan. Pendekatan ini melibatkan proses menimbang dan memutuskan sebuah cerita dengan sedetail mungkin. Sasaran dari penyuntingan skeptis ala Oregonian ini adalah untuk menciptakan sebuah atmosfertempat orang-orang bisa mempermaslahkan sebuah tulisan tanpa mempermaslahkan integritas reporter.
Daftar pemeriksaan akurasi (accuracy checklist) kemudian dikembangkan redaktur melalui pertanyaan kepastian lead, narasumber, background masalah, keakuratan kutipan, dan kepastian suatu fakta yang merupakan suatu langkah kuat dalam menuju objektivitas metode. Jangan pernah berasumsi. Jangan mengandalkan ucapan pejabat atau laporan berita. Mendekatlah sebisa mungkin dengan sumber utama. Bertindaklah sistematis. Carilah bukti yang menguatkan.
Verifikasi setiap fakta dengan menggarisi fakta-fakta itu dengan pensil warna ala Tom French juga dapat dilakukan guna benar-benar memastikan kebenaran dari sebuah cerita yang kita buat. Selain itu, wartawan juga dapat menunjukkan ke-valid-an fakta yang mereka punya ketika menghadirkan nama sumber informasi mereka. Pertimbangkan pula apabila harus menggunakan sumber yang anonym dalam cerita kita. Deborah Howell, redaktur Washington untuk jaringan surat kabar New House, mwmiliki dua aturan untuk sumber anonym yang memperkuat aturan Levyveld. Pertama, jangan pernah menggunakan sumber anonim untuk memberikan opini terhadap orang lain dan kedua, jangan pernah menggunakan sumber anonim sebagai kutipan pertama dalam tulisan.
Akar-akar Kebenaran
Jurnalisme memiliki perana dalam membentuk kebenaran. Penerbit dan pemilik harus bersedia secara konsisten untuk mengumandangkan karya jurnalisme yang dilakukan demi kepentingan publik tanpa ketakutan atau keberpihakan. Reporter harus tabah dalam pengejaran mereka, dan berdisiplin dalam upaya mengatasi perspektif mereka sendiri.
angka 1-9 Wartawan harus berpegang teguh pada kebenaran sebagai prinsip utama dan harus setia kepada warga diatas semuanya. Wartawan juga harus menerapkan metode verifikasi yang transparan dan sistematis. Langkah berikutnya adalah menjelaskan hubungan mereka dengan orang yang mereka liput.
Independensi dari Faksi
Gallagher memiliki tiga kriteria yang selalu dipegangnya dalam menguatkan komitmennya untuk menjadi seorang wartawan. Pertama, ia menganut semua prinsip kejujuran dan verifikasi yang dipegang reporter mana saja. Berikutnya adalah sikap terbuka dari pembaca dalam mengoreksi opini wartawan dan ketidaksepakatan akan opini wartwan yang menujukkan suatu bias dalam suatu cerita.
Wartawan Harus Tetap Independen dari Pihak yang Mereka Liput
Bagi mereka yang bekerja dalam ranah politik, kritik dan komentar, independensi semangat dan pikiran harus dipikirkan dengan sungguh-sungguh oleh wartawan. Mendahulukan kepentingan orang yang kita liput di atas kepentingan tempat dimana seorang wartwan tersebut bekerja ialah cara yang harus dilakukan wartawan dalam meyakinkan audiensnya yang sifatnya lebih pragmatisme dibandingkan teori.
Independensi Pikiran
Independensi jurnalistik harus dimiliki oleh para wartawan, seperti memiliki suatu tanggung jawab untuk menyampaikan suatu hal yang terjadi, mengekspresikan opini dan menyampaikan reportase.
Independensi dalam Praktik
Dalam perkembangannya, reporter dan redaktur sering dilarang ikut serta dalam aksi politik. Mereka ada yang dikecam, seperti insiden demonstrasi “Freedom of Choice” yang mendukung hak aborsi, dan ada pula yang dikonotasikan sebagai “jagoan penggerutu negativisme” seperti dalam insiden Greenhouse.
Independensi Dikaji Ulang
Banyak orang yang mempermasalahkan konsep independensi semangat dan pikiran dalam jurnalisme. Mereka cemas independensi jurnalisme masuk dalam penjara yang dipaksakan sendiri oleh para wartawannya dan yang terpisah dari masyarakat umum. Oleh karena itu, dibutuhkan keterbukaan dari warga.
Keterbukaan itu penting. Sebagai warga, kita harus tahu apakah seorang reporter terlibat aktif dalam masalah atau dengan orang yang ia liput. Untuk dapat melihat dengan jelas dan membuat penilaian yang independen, menulis dengan pengambilan sikap secara sadar, menjaga jarak personal tertentu sangatlah penting untuk dilakukan.
Independensi dari Kelas atau Status Ekonomi
Menurut Juan Gonzalez, kolumnis Daily News di New York, warga Amerika masih ada yang “menganga” ketika menerima informasi yang dihasilkan oleh dirinya. Pola wartawan masa kini dibentuk untuk memenuhi kebutuhan dan selera kelas atas. Itulah mengapa informasi semakin meninggalkan kaum buruh dan orang-orang yang berpenghasilan rendah. Penyelesaiannya adalah pembentukan suatu sistem yang merekrut orang-orang yang memiliki latar belakang, kelas dan pengalaman hidup yang berbeda, hal ini dimaksudkan agar berita yang diinformasikan dapat menbghasilkan perspektif yang berbeda yang dapat menjamah seluruh kelas dan status ekonomi.
Independensi dari Ras, Etnis, Agama, dan Gender
Wartawan berusaha untuk menulis berita yang sifatnya tidak rasialis. Menguti pernyataan dari koresponden NBC John Hockenberry, seorang penyandang cacat, “Penghasilan bisa ditentukan berdasarkan demografi, tapi tidak demikian halnya dengan isi . . . Petunjuk darimana datangnya keberagaman adalah bukanlah dengan melihat siapa yang bekerja diredaksi, melainkan dengan mengenali audiens Anda, dan betul-betul menaruh perhatian pada audiens anda dari atas ke bawah, dari kiri ke kanandan dari semua tingkat ekonomi.”
Independensi dari faksi mengisyaratkan adanya jalan untuk menjadi wartawan yang tak terpengaruh pengalaman pribadi maupun menjadi tersandera olehnya. Jurnalisme meminta faksi harus berada di atas semua budaya dan pengalaman pribadi yang dibawa wartawan ke dalam pekerjaannya. Wartawan setia kepada masyarakat dalam cara yang digambarkan Gallagher. Modelnya adalah ketidakberpihakkan. Tidak sinis. Tidak pula terikat. Peran wartawan bermakna ikatan khusus—berdedikasi untuk member informasi kepada publik, tapi tidak memainkan peran langsung sebagai aktivis. Hal ini bisa disebut Independensi yang Punya Kaitan.
Pada akhirnya, memiliki penilaian yang baik dan komitmen abadi pada prinsip kesetiaan pertama kepada wargalah yang membedakan wartawan dari partisan. Punya opini bukan saja boleh dan alamiah, tapi juga berharga bagi skeptisme alamiah yang dimiliki setiap reporter yang bagus saat mendekati sebuah berita. Pentingnya independensi ini menjadi kian jelas saat kita menyimak kewajiban khusus jurnalisme berikutnya, peran jurnalisme sebagai anjing penjaga.
Memantau Kekuasaan dan Menyuarakan Kaum Tak Bersuara
Pada 1964, reporter investigatif mulai ada dan menunjukkan suatu perkembangan dalam jurnalisme di Amerika. Mengangkat suatu skandal—dalam ranah politik misalnya—menjadi alur cerita dalam suatu berita memperoleh popularitas dan daya tarik atas berita tersebut.
Wartawan harus Bertindak Sebagai Pemantau Independen Terhadap Kekuasaan
Peran anjing penjaga terancam oleh jenis baru konglomerasi perusahaan, yang secara efektif bisa merusak independensi yang dibutuhkan pers untuk menjalankan peran pemantauan mereka. Upaya-upaya awal kerja investigative ini akan menjadi salah satu alasan pers diberi kebebasan secara konstitusional. Penerbitan berkala seperti Scout dan Spie, untuk pertama kalinya, membuat kerja pemerintah lebih transparan.
Tepat 200 tahun setelah revolusi Amerika Serikat, Hakim Agung Hugo Black memusatkan perhatian terhadap tanggung jawab anjing penjaga yang dijalankan pers saat ia menulis. Prinsip anjing penjaga tak bermakna sekadar memantau pemerintahan, tapi juga meluas hingga pada semua lembaga kuat dimasyarakat. Tujuan peran anjing penjaga juga berkembang, ia tidak hanya menjadikan manajemen dan pelaksana kekuasaan trransparan semata, tapi menjadikan akibat dari kekuasaan itu diketahui dan dipahami.
Saat praktik jurnalisme investigatif menjadi matang, beberapa bentuk telah muncul. Saat ini ada tiga bentuk utama yang bisa dikenali: reportase investigatif orisinal yang melibatkan si reporter sendiri yang membuka dan mendokumentasikan kegiatan yang sebelumnya tak diketahui publik, reportase investigatif interpretatif yang menyingkap sebuah cara pandang baru tentang sebuah masalah dan membawa audiens ke jenjang pemahaman lain, reportase mengenai investigatif yang merupakan perkembangan dari penemuan atau bocoran informasi dari sebuah investigasi resmi yang sudah dijalankan atau sedang disiapkan pihak lain, biasanya agen pemerintah.
Peran Anjing Penjaga Melemah
Ketika reportase investigatif mulai populer, banyak hal yang membuat reportase semacam ini kian melemah. Salah satu yang memicu kelemahan ini adalah program acara yang tidak lagi memantau elite yang kuat dan memiliki kemungkinan menyalahgunakan kekuasaan. Repostase investigatif ini malah dikembangkan demi menaikkan rating. Pertama, banyak dari konsultan berita televisi yang secara nyata menawarkan naskah, pengambilan gambar, pakar untuk diwawancarai atau wawancara itu sendiri sudah direkam dengan pita rekaman. Problem kedua, membeberkan sesuatu yang sudah dipahami publik atau sesuatu yang sudah dapat diterima akal sehat. Akhirnya, kemampuan pers untuk meminta perhatian publik menjadi berhamburan karena terlalu banyak membahas masalah yang remeh-temeh.
Reportase Investigatif Sebagai Penuntutan
Dapatlah dipahami oleh jurnalisme investigatif bahwasanya reportase investigatif diangkat ke permukaan karena dianggap ada sesuatu hal yang dianggap penting dan ada hal yang salah yang harus diperjelas. Disinilah seorang wartawan harus memiliki bukti yang cukup kuat untuk membeberkan kasus lebih dari berita biasanya. Tingkat kejujuran yang tinggi dapat menghasilkan suatu berita yang luar biasa. Oleh sebab itu, biasanya redaksi atau tim jurnalisme investigatif betul-betul memastikan fakta dan sumber mengenai suatu kasus yang hendak ia beberkan.
Anjing penjaga tidaklah seperti peran lain. Prinsip ini mensyaratkan keterampilan khusus, temperamen khusus, dan rasa lapar yang khusus. Prinsip ini juga mensyaratkan komitmen serius dari sumber, hasrat untuk meliput masalah penting, dan sebuah pers yang independen dari kepentingan apapun kecuali bagi konsumen berita.
Namun, seperti yang akan kita lihat selanjutnya, kondisi jurnalisme yang berkembang sebagai forum public telah membiakkan gelombang baru jurnalisme omongan yang membuat kebutuhan akan kebutuhan jurnalisme sebagai anjing penjaga yang bersemangat dan serius menjadi kian penting. Pada abad berikutnya, pers bukan saja harus mengawasi pemerintah, tetapi juga dunia nirlaba, dunia usaha, dan debat publik yang berkembang yang diciptakan oleh teknologi baru.


Jurnalisme Sebagai Forum Publik
Dari asal-usulnya di pasar Yunani sampai kedai minum Amerika di masa kolonial, jurnalisme selalu menjadi forum untuk menjadi wacana publik. Hutchins Commission pada 1947 menempatkan misi ini sebagai kewajiban utama dari profesi wartawan, di urutan kedua setelah menyampaikan kebenaran. “Badan-badan besar komunikasi massa seharusnya menganggap diri mereka sebagai pembawa bersama diskusi publik,” tulis komisi ini.
Inilah prinsip keenam atau tugas pers:
Jurnalisme Harus Menghadirkan Sebuah Forum Untuk Kritik dan Komentar Publik.
Semua bentuk medium yang dipakai wartawan sehari-hari bisa berfungsi untuk menciptaka forum dimana publik diingatkan akan masalah-masalah penting dan membuat warga terdorong untuk memberikan penilaian dan mengambil sikap. Maka, jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan opini publik. Disamping itu, diskusi publik juga harus dibangun diatas prinsip-prinsip jurnalisme: kejujuran, fakta, dan verifikasi.
Pada era-era berikutnya, jurnalisme berjalan untuk terus menghidupkan pemikiran forum terbuka dengan publik. Ketika akhirnya punya “berita” untuk dikabarkan, halaman editorial menjadi tempat diskusi komunitas melalui penerbitan surat-surat pembaca dan belakangan, halaman belakangnya (opposite editorial page) ditulis oleh penulis non-wartawan surat kabar tesebut.
Ada perbedaan antara sebuah forum dan pertempuran untuk berebut makanan, atau antara jurnalisme yang menengahi debat dan jurnalisme-semu yang memanggungkan debat artifisial untuk mengusik dan memprovokasi orang. Budaya Argumen bukanlah murni keinginan audiens, hal ini dikarenakan adanya kemudahan dalam melontarkan kata-kata atau berbicara. Banyaknya situs web, buletin, chat room, radio, televisi dan lain-lain membuat sistem komunikasi mendominasi, setelah kita memperlihatkan keinginan untuk berkomentar, maka keinginan untuk memverifikasi akan tergantikan. Dengan menciptakan “pakar”, media tersebut tak mencerminkan debat public yang sesungguhnya, mereka menciptakan debat artifisial mereka sendiri yang dibuat untuk televisi.
Organisasi berita menggunakan teknologi yang kian maju bukan untuk mengejar berita melainkan menguranginya karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam memperluas cakupan diskusi publik. Konsekuensinya adalah pembahasan akan permasalahan yang penting dan menghadang bangsa ini hilang. Momen-momen penting seperti konvensi politik lebih diserahkan kepada televisi kabel yang hanya beroperasi pada pemukiman tertentu.
Berdahl akhirnya berpendapat atas fenomena dari problem Budaya Argumen ini, pers perlu dipahami bahwa sekalipun independen, ia tak lepas dari masyarakat. Mereka independen tapi jelas punya banyak hal yang dipertaruhkan. Ringkasnya, debat publik harusnya tidak menjadi adu teriak—pelemparan telur busuk politik atau argument sebagai hiburan pers punya kewajiban bahwa diskusi itu inklusif, bernuansa, dan merupakan cerminan akurat dari debat yang benar-benar terjadi di masyarakat.
Teknologi tidaklah menciptakan sikap bagi mereka yang berpartisipasi. Mesin tak mengubah sikap manusia. Masalahnya, apa yang terjadi pada dunia media lainnya. Apakah forum itu isinya kaya atau kosong, mereka tak bisa pencarian fakta dan konteks yang dihadirkan oleh jurnalisme verifikasi tradisional. Jika mereka yang mengumpulkan dan kemudian yang mengirimkan berita tak lagi menghabiskan waktu dan uang untuk melakukan reportase, verifikasi, dan sintesis—jika mereka mencemaskan bahwa penerapan penilaian adalah tindakan elitism, atau bahwa teknologi kini membebaskan mereka dari beban-beban lama—maka hanya Free Republiclah yang kita punyai.
angka 1-9Maka pertama, forum jurnalistik harus taat pada semua prinsip jurnalistik yang lain, dan kedua, ia berkaitan langsung dengan pernyataan James Madison mengenai peran utama kompromi dalam masyarakat demokratis. Namun jika peran utama forum untuk memerangi bukannya memanas-manasi, bagaimana caranya wartawan mengikat audiens? Hal itu adalah elemen jurnalisme berikutnya.
Menarik dan Relevan
Karya Robert Caro dalam sebuah buku yang berjudul The Power Broker: Robert Moses and Fall of New York setebal 1.100 halaman mendapatkan penghargaan Hadiah Pulitzer 1975 dan Hadiah Francis Parkman. Sebuah buku yang mendapat pujian “mengasyikkan”, “tak bisa diletakkan”, dan “karya seni myang menggetarkan” mencoba menjelaskan Moses sebagai maksud menjelaskan hal yang lebih besar. Apa yang dilakukan Caro dengan cerita birokrat sepanjang hayat ini adalah sesuatu yang coba dilakukan wartawan setiap hari pada skala yang lebih kecil. Hal tersebut menjadi prinsip ketujuh:
Wartawan harus Membuat Hal yang Penting Menjadi Menarik dan Relevan
Cara klasik mengajukan pertanyaan yang enak dibaca adalah dengan sebuah distorsi. Bertutur dan berinformasi bukanlah hal yang berlawanan. Mereka lebih baik dipahami sebagai dua bagian dalam sebuah rangkaian komunikasi. Tugas wartawan adalah menemukan cara membuat hal-hal yang penting menjadi menarik untuk setiap cerita dan menemukan campuran yang tepat dari yang serius dan kurang serius yang ada dalam laporan berita. Mungkin pemahaman yang terbaik adalah sebagai berikut.
Jurnalisme adalah bertutur dengan sebuah tujuan. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan orang dalam memahami dunia.tantangan pertama adalah menemukan informasi yang dibutuhkan orang untuk menjalani hidup mereka. Kedua adalah membuatnya bermakna, relevan dan enak disimak.
Serangkaian masalah menghaadang dalam penyampaian berita yang memikat: ketegesaan, ketidakpedulian, kemalasan, formula, bias, tak paham budaya. Menulis yang baik diluar piramida terbalik membutuhkan waktu. Pada akhirnya, yang perlu dilakukan adalah latihan strategis yang melibatkan lebih dari sekadar menjejalkan fakta ke dalam kalimat pemberitahuan pendek. Dan waktu adalah kemewahan yang dirasa kian kurang saja dirasakan wartawan saat ini. Ironisnya, anjuran konvensional tentang apa yang diinginkan atau diharapkan warga dari jurnalisme mengantar kita menyusuri jalur perusakan diri sendiri, seperti godaan infotainment dan beberapa pendekatan inovatif.
∙ Godaan Infotainment
Problema yang mucul dari godaan ini adalah apabila pers menyuapi orang-orang dengan masalah sepele dan hiburan, maka pers akan memudarkan selera dan pengharapan orang terhadap sesuatu yang lain. Kedua, problem jangka panjang dengan strategi infotainment adalah menghancurkan otoritas organisasi berita untuk menyampaikan berita yang lebih serius dan menjauhkan audiens yang menginginkannya. Akhirnya strategi infotainment keliru sebagai rencana bisnis karena ketika pers mengubah berita menjadi hiburan, maka mereka bermain dengan menggunakan kekuatan media lain dean bukan menggunakan kekuatan media sendiri.
∙ Beberapa Pendekatan Inovatif
1. Definisi baru dari siapa yang menjadi karakter, apa yang menjadi plot, dimana tempat adegan berlangsung, mengapa menjadi motivasi atau alasan penyebab, dan bagaimana narasi atau cara agar semua elemen sesuai satu sama lain dan menjadikannya lebih bermakna.
2. Bereksperimen dengan teknik penceritaan baru yang berbeda dari yang umumnya.
3. Inovasi “jam pasir”, dengan memulai untuk menyebutkan berita, menyebutkan apa yang terjadi, yang kemudian ditempatkan pada situasi yang lebih daramatik.
4. Masa depan bentuk tanya jawab, yang memungkinkan audiens untuk memindai sebuah berita dan memasukinya kapan saja mereka ingin , ketimbang harus membacanya dari atas ke bawah.
5. Menjadikan berita sebagai pengalaman.
6. “Berlaku “sok pintar”, yakni dengan memberitahu bukannya memperlihatkan; menguliahi; ataupun menggurui tentang hal yang sudah diketahui adalah hal yang membosankan” ungkap Doug Marlette.
Bagaimana menjaga berita agar tidak sok pintar? Caranya ialah dengan gambaran pikiran yaitu membantu orang membangun gambaran di benak mereka sendiri dan janganlah mencoba untuk menggambarkan kepada mereka, menghubungkan berita pada tema yang lebih dalam: penyingkapan yang menurut John Larson yankni dengan melakukan penyingkapan yang terbaik melalui membawa audiens pada tingkat yang hakiki—membaawa kepada kebenaran—karena suatu berita,, karakter dan detil dalam berita merupakan hal yang penting untuk membawa audiens untuk masuk ke dalam suatu berita, menemukan metafor atau struktur tersembunyi dalam setiap berita agar berita bisa dikenang dan orisinal, dan narasi dalam melayani kebenaran dengan maksud untuk berpegang teguh pada akurasi dan kejujuran.
Akhirnya, prinsip menarik dan relevan ini membantu kita mengarahkan bagaimana setiap berita diperlakukan. Prinsip berikutnya menempatkan hal ini dalam konteks yang lebih luas: Bagaimana kita memutuskan berita mana yang perlu diliput?
Jadikan Berita Komprehensif dan Proporsional
Jika prinsip menarik dan relevan membantu menjelaskan bagaimana wartawan bisa secara lebih efektif mendekati berita mereka, prinsip yang mengikutinya menginformasikan berita apa saja yang perlu diliput. Apa sajakah berita itu? Dengan keterbatasan ruang, waktu, dan sumber daya, apa yang penting dan yang tidak, apa yang disertakan dan apa yang harus ditinggalkan? Dan dimasa internet yang kian merambah, suara siapa yang perlu didengar?
Pertanyaan-pertanyaan ini menginformasikan prinsip kedelapan yang dibutuhkan warga terhadap pers:
Wartawan Harus Menjaga Berita Dalam Proporsi dan Menjadikannya Komprehensif
Mengumpamakan jurnalisme sebagai pembuatan peta membantu kita melihat bahwa proporsi dan komprehensivitas adalah kunci akurasi.
Pendapat Keliru Tentang Demografik Sasaran
Konsep pembuat juga membantu pers untuk memahami lebih baik ide keberagaman dalam berita. Jika kita memikirkan jurnalisme sebagai kartografi sosial, peta tersebut harus meliputi berita dari seua komunitas, bukan hanya dengan demografik yang atraktif atau punya daya tarik kuat untuk pengiklan. Bila hal ini tidak dlakukan, hasilnya adalah sebuah peta yang punya bolong-bolong di seluruh area.
Setelah 25 tahun kehilangan audiens dan pengiklan yang beralih ke televisi dan media lain, surat kabar memutuskan bahwa memang ada batas struktural sampai seberapa banyak tiras yang dapat mereka miliki di masa video ini. Akibatnya, surat kabar memutuskan mediumnya untuk kalangan yang lebih terdidik, dan efisiensi biaya. Karena, suratkabar menjual beritanya dengan keadaan merugi. Akhirnya, perancang strategi bisnis suratkabar melakukan rasionalisasi dengan mengarahkan sirkulasi mereka pada kelompok yang berpengaruh.
Namun, seperti halnya perusahaan jurnalisme membidik demografik elite dan melakukan efisiensi biaya, industri sebagai tatanan umum pun tidak berupaya melebarkan audiensnya. Konsep kesalahan pembuatan peta ini jelas yaitu dengan menghasilkan peta untuk lingkungan tertentu dan bukan yang lain. Siaran berita yang mengabaikan komunitas juga menciptakan masalah bagi komunitas tersebut yakni menjadikan audiensnya miskin informasi karena begitu banyak yang ditinggalkan. Akhirnya, hal ini mengancam kelangsungan hidup organisasi berita—lembaga dengan kebutuhan terbesar akan kewargaan yang berminat (interested citizenry).
Saat komunitas yang utuh ditinggalkan, muncul pula problem jurnalisme yang memberikan terlalu banyak detail pada grup demografik. Berita menjadi makin panjang dan makin berlimpah ruah. Koran kadang-kadang terbit lebih dari 100 halaman dalam satu hari dan menghabiskan waktu seharian untuk membacanya. Kesalahan ini mungkin bisa diperbaiki. Namun, jurnalisme harus bertindak cepat untuk menemukan cara melayani komunitas yang beragam—yang merupakan bagian dari komunitas secara utuh.
Keterbatasan Metafor
Seperti halnya dengan semua metafor, perbandingan pembuatan peta juga memiliki keterbatasan. Proporsi dan komprehensivitas dalam berita subjektif sifatnya. Meskipun begitu,kerumitan dua hal tidak berarti menjadikanny kurang penting dibandingkan jalan yang lebih objektif dip eta. Sebaliknya, upaya keras untuk mendapatkan dua hal ini sangat penting bagi popularitas jurnalisme—dan kesehatan finansial. Elemen kunci kredibilitas adalah motif wartawan yang transparan, tak mengharapkan kesempurnaan, dan mengharapkan niat baik yang disebut dengan kesetiaan kepada warga.
Tekanan Untuk Melebih-lebihkan
Pada momen ketika budaya media berita mengalami perubahan yang cepat dan disorientasi, tampaknya ada tekanan untuk melebih-lebihkan dan membuat sensasi yang dianalogikan dengan prinsip “tubuh telanjang dan gitar”. Jika kita ingin menarik audiens, maka bertelanjanglah di ujung jalan, mungkin dengan ini pers dapat menarik perhatian orang-orang. Atau tariklah perhatian audiens dengan bermain gitar di ujung jalan, mungkin jumlah orang yang mendengarkan tak seberapa di hari pertama dan mungkin saja pendengarnya bertambah di hari kedua, hal ini tergantung atas kemahiran dalam bermain gitar. Hal inilah yang menjadi pilihan media ketika teknologi memperbanyak jumlah media dan tiap organisasi melihat audiensnya menyusut.
Pemasaran Versus Pemasaran
Banyak pemikiran terkini tentang pasar, yang didasarkan hasil populer dari riset pasar. Riset pasar yang tradisional meminta konsumen memilih alternatif yang sudah diperkirakan. Namun, berbeda dengan berita yang berlawanan dengan hasil riset pasar yang tradisional—yang menguji semesta dengan pilihan yang statis—karena berita berubah setiap hari.
Riset pasar terbukti efektif dalam menyingkap bagaimana membuat struktur yang terbaik dalam prime-time magazine. NBC mendapati bahwa cara tunggal paling signifikan untuk membawa pemirsa mengikuti beritanya pada pukul 23.00 adalah dengan memperlihatkan gambar hari ini atau gambar pekan ini di akhir siaran tiap acara.
Namun disisi lain, muncul pertanyaan mengenai riset seperti apa yang berharga? Wartawan, warga, dan periset bersama-sama menawarkan jawaban: riset yang membantu wartawan membuat penilaian, bukan riset yang menggantikan penilaian mereka. Dengan kata lain, periset perlu berhenti menggunakan riset pasar yang memperlakukan audiens sebagai konsumen dan berhenti bertanya kepada mereka mengenai produk apa yang mereka suka.
Riset dengan pertanyaan terbuka atas kecenderungan minat warga yang beragam merupakan hal yang memungkinkan redaktur untuk mamahami bagaimana merancang sebuah paket berita yang komprehensif dan proporsional untuk komunitas dan kebutuhan mereka. Hal semacam ini juga tengah dikembangan oleh Valerie Crane di Research Communication Limitede di Massachusetts yang meliputi dua pendekatan yang luas. Pertama, menggelar survey yang lebih besar lewat wawancara yang mendalam dan mengidentifikasi apa kebutuhan mendasar warga yang dipenuhi oleh berita yang mereka dapatkan—sebuah cara yang kuantitatif untuk menilik kembali fungsi berita. Kedua, mempelajari bagaimana orang di komunitas mana pun menjalani hidup mereka, menggunakan sebuah versi yang oleh sejumlah orang disebut dengan riset gaya hidup dan kecenderungan.
Apabila jurnalisme telah kehilangan jalannya, sebagian besar alasannya adalah ia sudah kehilangan makna dalam kehidupan orang, bukan hanya audiens tradisionalnya tapi juga generasi berikutnya. Pers telah kehilangan kepercayaan dirinya untuk membuat berita yang komprehensif dan proporsional, seperti halnya peta kuno yang menyisakan sebagian besar dunia sebagai daerah yang tak dkenal. Audiens dewasa ini menghadapi jurnalisme dengan ruang kosong serupa di tempat grup demografik yang tak menarik atau topic yang terlalu sulit untuk dikejar.
angka 1-9Jawabannya bukanlah kembali kemasa wartawan yang murni berdasarkan naluri. Mengembangkan perangkat untuk menggambarkan cara orang-orang menjalani kehidupan mereka hari ini dan kebutuhan akan berita yang dihasilkan dari kehidupan ini merupakan alat yang paling penting yang dibutuhkan organisasi berita untuk merancang laporan yang lebih komprehensif dan proporsional yang dapat meanarik audiens, bukan menjauhkannya. Dengan semua hal ini, masih ada satu elemen lagi yang mengikat semuanya menjadi satu. Hal ini berkaitan dengan apa yang terjadi di redaksi itu sendiri.
Wartawan Bertanggung Jawab Pada Nurani
Pada akhirnya, jurnalisme adalah masalah karakter. Mengingat tak ada hukum jurnalisme, tak ada peraturan, tak ada surat izin, tak ada pengaturan diri yang resmi, dan mengingat tak jurnalisme bisa eksploitatif, beban berat terletak pada etika dan penilaian dari wartawan dan organisasi secara individu tempat wartawan itu bekerja. Hal ini merupakan tantangan berat bagi setiap profesi.
Yang makin membuat rumit keadaan, bahkan di masa internet ini, sebagian wartawan masih tergabung dalam lembaga yang masih dikuasai oleh sejumlah kecil orang karena terjadinya penggabungan besar-besaran organisasi berita yang komprehensif. Struktur top-down oligarkhi biasanya makin menyulitkan individu-individu untuk didengar dalam persoalan abstrak, seperti halnya etika atau maaslah nurani.
Kita sadar atau tidak mengenai pentingnya karakteristik ini, pada hakikatnya apa yang kita pilih pada saat menyeleksi sebuah majalah, program televisi, sebuah situs internet, atau sebuah koran adalah otoritas, kejujuran, dan penilaian dari wartawan yang membuatnya. Konsekuensinya, ada sebuah prinsip terakhir yang harus benar-benar dipahami wartawan tentang pekerjaan mereka. Ini adalah prinsip yang paling sulit, tapi inilah yang menyatukan semuanya.


Wartawan Punya Kewajiban Terhadap Nurani
Setiap wartawan—dari redaksi hingga dewan direksi—harus memiliki etika dan tanggung jawab personal sebagai panduan moral mereka. Terlebih lagi mereka punya tanggung jawab untuk menyuarakan sekuat-kuatnya nurani mereka dan membiarkan yang lain melakukan hal yang serupa.
Agar hal ini dapat terwujud, keterbukaan redaksi adalah hal yang penting untuk memenuhi semua prinsip yang dipaparkan dalam buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” ini. Halangan yang tak terhitung jumlahnya menyulitkan untuk memproduksi berita yang akurat, adil, imbang, berfokus pada warga, berpikiran independen dan berani. Oleh karena itu, kita perlu wartawan yang bebas bahkan tersemangati untuk angkat suara dan bicara. Hanyalah di ruang redaksi di mana semua orang dapat membawa pandangan mereka yang beragam dan mampu menghasilkan berita yang mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi secara akurat. Praktisnya, pers harus mengakui adanya kewajiban pribadi untuk bersikap beda atau menentang redaktur, pemilik, pengiklan, dan bahkan warga dan otoritas mapan jikalau kejujuran dan akurasi mengharuskan mereka berbuat itu.
Etika teranyam dalam setiap elemen jurnalisme, dan warga biasanya lebih cepat merasakan dibandingkan wartawan itu sendiri. Nurani adalah sesuatu yang dipercayai dalam-dalam oleh banyak orang termasuk wartawan. Jurnalisme adalah sebuah tindakan moral dan tahu bahwa semua latar belakang dan nilai yang mereka miliki bisa mengarahkan pada apa yang akan mereka kerjakan dan atau tidak mereka kerjakan dalam membuat berita. Bagi banyak wartawan dimensi moral memiliki pengaruh yang sangat kuat karena hal inilah yang menarik mereka untuk menekuni profesi ini. Wartawan-wartawan sangat peduli dengan dimensi moral karena tanpa hal ini mereka akan mengalami kebingungan dalam menentukan wilayah abu-abu keputusan etis.
Sebagai seorang audiens kita dipandu oleh keputussan yang dibuat oleh wartawan tentang apa yang mereka laporkan dan bagaimana hal ini dilaporkan, dan kita juga terpandu dalam pilihan kita mengenai paket berita oleh kombinasi halus alasan-alasan, tapi moral juga merupakan bagian darinya. Audiens memang mencari informasi, tapi kita juga mencari validasi, otoritas, kejujuran, dan sebuah keyakinan bahwa wartawan sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan kita.
Persoalan karakter yang dihadapi wartawan bukanlah hal yang asing bagi kita saat mengonsumsi berita, dan kita mencari karakter ini dalam pengambilan keputusan tentang siapa yang omongannya benar dan bisa dipercaya.
Budaya Kejujuran
Kemampuan wartwan untuk mengikuti nurani jauh lebih penting daripada apapun yang mereka percayai atau kepercayaan apapun yang mereka bawa ke dalam pekerjaan mereka.
Keberagaman Intelektual Adalah Tujuan Sesungguhnya
Secara tradisional, konsep keberagaman ruang redaksi umumnya didefinisikan dalam pengertian jumlah sasaran yang berkaitan dengan etnik, ras, dan gender. Industri berita terlambat mengenali bahwa ruang redaksi mereka harus lebih mencerminkan budaya secara umum. Sekalipun demikian, dilihat dalam konteks yang lebih luas dari nurani pribadi, definisi konvensional keberagaman ini, walau memang penting, terbatas sifatnya. Hal ini beresiko membuat bingung antara cara dan tujuan. Mempunyai minoritas lebih banyak di ruang redaksi adalah target, bukan tujuan, dari keberagaman. Tujuannya adalah organisasi berita yang lebih akurat. Kuota etnik, gender, dan ras adalah sebuah cara untuk mendekatinya, namun tak sesuatu pun yang bisa dicapai dengan kuota ini jika budaya ruang redaksi mensyaratkan bahwa orang-orang yang berasal dari latar belakan berbeda ini semuanya harus bersatu dalam mentalitas tunggal.
Tujuan keberagaman seharusnya tak hanya membentuk ruang redaksi yang mirip keberagaman masyarakat, tapi juga ruang radaksi yang terbuka dan jujur sehingga keberagaman ini bisa berfungsi. Ini bukanlah keberagaman rasa atau gender, bukan pula keberagaman ideologi dan keberagaman jumlah. Ini adalah apa yang kita sebut dengan keberagaman intelektual, dan ini membimbing dan memberi arti untuk semua keberagaman yang lain.
Tekanan Terhadap Nurani Individu
Problem lain yang dapat muncul adalah kelemahan birokratis yang melekat pada setiap organisasi. Kelemahan ini mendorong orang dalam situasi apapun untuk melakukan yang normal-normal saja. Rutinitas adalah surga yang nyaman, ini terjadi karena organisasi berita—dengan bisnis mereka, komunitas, produksi, dan kepentingan-kepentingan lainnya—bersifat kompleks dan hierarkis. Sangat mudah untuk masuk ke dalam proses yang mungkin bisa melemahkan dan menciutkan langkah nurani individu.
Sejumlah wartawan selalu bekerja di luar organisasi yang hanya dibimbing oleh komitmen personal mereka, orang-orang ini mengejar berita dengan tujuan yang tak terbagi, terkadang terbagi dengan tabiatnya, dan secara teratur menyingkap kebenaran yang tidak populer yang diabaikan orang lain atau yang betul-betul tidak dilihat.
Membangun Redaksi Tempat Nurani dan Keberagaman Bisa Berrkembang
Mungkin tantangan terbesar bagi orang yang memproduksi berita adalah mengenali bahwa kesehatan jangka panjang mereka tergantung pada kualitas redaksi mereka, bukan pada efisiensi semata. Kepentingan jangka panjang menarik seseorang menuju budaya redaksi yang lebih kompleks dan lebih sulit. Kualitas seorang pemilik, seorang redaktur, atau menajer yang mana saja pada umumnya ditentukan oleh tingkatan yang mereka tangani selama jangka waktu tertentu.
Peran Warga Masyarakat
Elemen terakhir ini juga terletak sebanding sebagaimana anggota komunitas, warga pun menjadi bagian dari proses berita. Wartawan harus mengundang masuk audiens mereka kedalam proses produksi berita mereka. Mereka harus merelakan diri untuk membuat diri dan karya mereka transparan saat mereka berkukuh menjadikan warga dan lembaga kekuasaan menjadi liputan mereka. Sebenarnya, pendekatan semacam ini menjadi awal hubungan jenis baru antara wartawan dengan warga. Inilah hubungan di mana orang-orang di dalam audiens diberi kesempatan untuk menilai prinsip yang dipakai wartawan dalam menjalankan pekerjaannya. Mereka dilengkapi dengan informasi yang mengundang mereka untuk membandingkan prinsip ini dengan nilai lain yang tersedia serta memberi dasar bagi pembaca untuk menilai apakah jurnalisme semacam ini yang ingin mereka dorong.
Dalam pengertian ini warga menanggung sejumlah tanggung jawab. Mereka harus menepikan prasangka, dan menilai kerja wartawan berdasarkan apakah tulisannya menyumbang pada kemampuan mereka untuk ambil bagian dalam membentuk masyarakat mereka. Cara wartawan untuk merancang karya mereka untuk mengikatkan diri dengan publik tidaklah cukup dengan menyajikan isi yang dibutuhkan semata, namun juga sebuah pemahaman terhadap prinsip mereka dalam menyelesaikan pekerjaan jurnalistik itu. Dengan cara ini wartawan akan menentukan bisa tidaknya publik menjadi sebuah kekuatan untuk mendukung jurnalisme yang bagus.
Elemen jurnalisme menjadi milik masyarakat, bukan milik wartawan, karena alasan sederhana, seperti yang kami katakan pada permulaan, bahwa prinsip-prinsip tersebut tumbuh dari fungsi yang dimainkan berita dalam kehidupan orang, dan bukan keluar dari etos profesional tertentu. dalam pengertian ini, elemen jurnalisme adalah pernyataan hak-hak dasar sebuah masyarakat sekaligus menjadi pernyataan tanggung jawab wartawan. Maka, perlu sekali menghitung berapa banyak kita sebagai warga untuk dapat mengenali apakah elemen jurnalisme muncul dalam berita yang kita terima.
∙ Pernyataan Hak-Hak Dasar Masyarakat
♪ Mengenai Kejujuran
Kita punya hak untuk berharap bahwa bukti integritas reportase bisa terlihat jelas. Ini berarti bahwa proses verifikasi—bagaimana orang berita membuat keputusan mereka dan mengapa—harus transparan. Mereka harus menjadi indikasi yang jelas dari pengkajian yang menggunakan pikiran terbuka. Kita harus bisa menakar nilai dan bias informasi bagi diri sendiri.
Hal ini sebagai imbalannya, menyiratkan proses dua arah. Warga punya kewajiban untuk mendekati berita dengan pikiran terbuka dan bukan hanya dengan hasrat bahwa berita menguatkan opini yang sudah ada.
♪ Mengenai Kesetiaan Kepada Warga
Berita harus menjawab kebutuhan warga dan bukan hanya menjawab kepentingan dari para pemain politik atau ekonomi. Ini juga berarti ada upaya yang ditunjukkan untuk membahayakan komunitas selanjutnya.
♪ Mengenai Independensi
Kita punya hak untuk berharap bahwa komentator, kolumnis, dan wartawan opini melayani kepentingan debat masyarakat dan bukannya kepentingan sempit sebuah faksi atau hasil yang sudah ditentukan terlebih dahulu.
Independensi tidak ditemukan dalam komentar-komentar yang seirama dengan faksi atau kepentingan pribadi. Mengingat bahwa kesetiaan pertama wartawan adalah pada kebutuhan warga, hal itu juga mengisyaratkan bahwa , sementara wartawan sendiri harus bersikap netral, kita juga bisa berharap loyalitas mereka tak terbagi.
♪ Mengenai Pemantauan Kekuasaan
Kita punya hak untuk mengharapkan adanya pemantauan terhadap pusat kekuasaan yang paling penting dan paling sulit. Sementara pemantauan ini meliputi pemerintah, ada lembaga lain dan orang-orang di masyarakat yang punya kekuatan ekonomi, daya paksa, sosial, moral, dan daya bujuk besar yang setara atau bahkan melebihi pemerintah.
♪ Forum Publik
Kita seharusnya mengharapkan penyedia berita yangmemungkinkan kita berinteraksi dengan mereka yang dapat dilakukan melalui saluran email, surat, kontak telepon, dan lain-lain serta ruang untuk menulis kolom opini. Yang tersirat didalam hak-hak adalah tanggung jawab. Kita sebagai warga memiliki sebuah kewajiban untuk mendekati berita dengan pikiran terbuka, bersedia menerima fakta baru dan mengkaji pandangan baru saat mereka dihadirkan.
♪ Mengenai Proporsionalitas dan Daya Tarik
Kita punya hak untuk mengharapkan wartawan sadar terhadap dilemma dasar kita sebagai warga: bahwa kita mempunyai kebutuhan akan pengetahuan mendalam yang hadir tepat waktu dari masalah-masalah penting dan tren di komunitas kita, tapi kita kekurangan waktu dan cara untuk mengakses sebagian besar informasi yang krusial ini.
Kita punya hak untuk berharap wartawan menggunakan akses unik mereka pada peristiwa dan informasi untuk menempatkan materi yang mereka kumpulkan ke dalam sebuah konteks yang akan menarik perhatian kita, dan dari waktu ke waktu, menyajikan tren dan peristiwa dalam proporsi yang sesuai dengan nilai penting mereka yang sebenarnya dalam hidup kita.
Peradaban telah menghasilkan sebuah ide yang lebih kuat dari ide yang lain dan ide ini pun telah menghasilkan sebuah teori informasi yang biasanya tidak terartikulasikan untuk mempertahankannya, teori ini bernama jurnalisme. Buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” merupakan sebuah upaya untuk mengartikulasikan teori tersebut. Namun, kebebasan kita di zaman modern ini sangat tergantung pada kemampuan kita untuk tak melupakan masa silam, atau teori tentang bagaiman suatu berita di produksi, dalam gelombang keyakinan akan teknologi dan kelahiran kembali korporasi. Kita berperang dalam dua perang dunia konvensional dan Perang Dingin yang tertutup pada abad lalu, dan kini kita berperang melawan semacam utopianisme teknologi. Mungkin kita tidak akan selamat di perang berikutnya.
Sumber Resume Buku: Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2001. “Elemen-Elemen Jurnalisme”. Jakarta: ISAI.


You Might Also Like

0 comments