No, I Don't Think It Is Too Risky, I Only Think That I Need To Do It. So, I Just Do It. ✔

5:35 PM

This is the time that I start to manage my life again. My life. Not our life, my previous life with him. It's about my life and (maybe, it's only my dream to be) with a new person that I called him.
In the middle of August, I officially do what I want, do what I think it's the best for me, do some actions directly, get a (new) life, get in touch with my friends, and sink into a new world (again).
I started by transferring my energy into a positive things, such as, do some exercises (and successfully loss my weight, almost 4 kgs in two weeks), pray on time (I don't want to be late anymore), talk more often to God in the middle of night, read Qur'an again (after long-longggg time I thought that I have no time to touch it, but I have; I'm just a lazy one. Pardon me, it's my bad!), visiting some friends, entertain my family, and thinking about anything as long as it makes me happy, not sad. The point is, I am is I am as a real person, as a dynamic person, at level 25. Superb!

That's the feeling!
Gue seneng, gue bahagia, dan berbangga hati. Gue berterima kasih masih punya keluarga dan teman yang masih mendukung dan menemani gue dalam keadaan apapun.

Dalam blog ini, gue sekadar mau sharing, kebiasaan gue yang telah gue lakukan akhir-akhir ini. Intinya sih hanya sekadar mentransfer energi negatif menjadi sesuatu yang positif (menurut gue hehe) serta membuang pikiran yang sekiranya bisa bikin gue sedih menjadi memikirkan hal-hal yang bikin gue merasa senang, dan agak hiperbola gitu bahagianya...

Alkisah, dimulai dari kebiasaan gue nonton K-Drama My Girlfriend is a Gumiho sejak awal Agustus dan akhirnya kelar tepat di pertengahan Agustus 2016. Agak ketinggalan jaman sih... Tapi, gue suka!

Trus, tiba-tiba gue notice ada seseorang yang menurut gue sangat mirip dengan aktor pemeran series ini, yaitu Lee Seung-Gi.

Sebenernya orang ini juga sering banget gue lihat tapi gak pernah notice sama sekali dan angin lalu aja gitu. Cuma, entah kenapa karena demam Lee Seung-Gi ini, kok ada reaksi kimia dalam tubuh gue ketika melihat lelaki yang menurut gue mirip dengan Lee Seung-Gi.

Karena (menurut gue) timing-nya juga lagi tepat, gue sedang bersedih hati dan berusaha banget untuk menyibukkan diri dan dalam proses move on, jadilah gue ber-lala land memikirkan Lee Seung Gi ala-ala ini. Gue berpikir kayak judul blog ini, I don't think it is too risky, I only think that I need to do it. So, just do it, Nia. ✔

So, ya... I put a notice day by day only for him, literally for him. I put it on my Twitter account. I tweeted some notes about my experience when I met him. Just because i don't want to miss a thing. It's kinda weird, like a code, but it's not! It's only the real thing that I want to express but I don't want to bother him. Actually, if he knows about my weirdo actions, I'm just okay if he has no feeling with me. He has his own choice. I'm not forcing him to put an attention and suddenly like or love me as a special one.

But, if he has the same feeling, I would be so happyyyyyyy! Super HAPPY!

Oke, dimulai dari tweet ini:
Di sini gue seneng banget, karena ternyata ada perasaan berbeda dengan dua huruf sederhana: Hi.
Lalu, dilanjutkan dengan tweet ini.

Di sini, gue merasa cukup hiperbola. Kemungkinannya sih dia staring at me kayak liat orang pada umumnya aja gitu. Tapi, emang dasar guenya yang lebay! Kontak mata sama dia aja, sudah cukup membuat gue lupa atas hal-hal sedih yang gak seharusnya gue pikirin. Jadi, ya aku sangat senang...hehe I really intend to feel happy in anything you do, happy invisibly.

The next day...


He officially called my nickname. The second notice, he looks good on his shirt. Rectangular pattern shirt or plain shirt are really suit with him. I'm lovin' it.
Terus, gak tahu kenapa, tiba-tiba my ex Whatsapp gue, mencari-cari topik yang sekiranya memunculkan perdebatan dan uraian panjang. Sungguh melelahkan...
Jadilah gue curcol bahwa realitanya sekarang sangat sangat sulit untuk balik lagi kayak dulu.

Gue sudah mengikhlaskan dan gue pun selalu mendoakan dia untuk mengikhlaskan juga serta kita bisa sama-sama bahagia di jalan kita masing-masing.

Intinya, dia mempertanyakan kenapa gue cepet banget melupakan segalanya. Gue gak cepet lupa cuy, gue hanya mengonversi energi yang bikin gue demotivasi menjadi sebuah energi yang jadi bikin gue semangat. Kalau lo bilang gue lupa, itu salah. Karena normalnya, gak semudah itu melupakan hal-hal yang pernah terjadi dalam kehidupan kita. Gue hanya memutuskan untuk tidak mau memikirkannya lagi. Begitu.



Tweet-tweet di atas hanya sekadar penguatan diri aja sih, karena gue gak mau berlarut-larut lagi dan ingin lebih fokus memikirkan masa depan.
Sebab misi gue saat ini, memperhatikan dia dengan totalisme gue. Alasannya, ya karena gue butuh mentransfer energi. Mencurahkan energi ke tempat lain biar gak mikirin hal-hal di masa lalu yang sebenernya gak diperluin dan gak ada faedahnya buat dipikirin lagi. :)

Trus, beberapa hari selanjutnya, gue mulai cariin si Lee Seung-Gi ala-ala ini. Sungguh, perasaan ini mulai gak jelas...
It's the first time I'm searching for him. Padahal mah ga perlu-perlu amat dicariin, besok juga ada lagi orangnya... Ya, namanya juga namanya ya... maklumin aja ya hehehe (ngomong apa sih gue?)

Di sini, gue makin kepo. Ingin tahu kehidupan dia. Maka, dimulailah pencarian gue mengais-ngais data yang ada di mbah Google. Akhirnya ditemukan fakta bahwa gue ternyata gak sejago apa yang dikatakan temen satu divisi gue, bahwa gue ternyata bisa menemukan jalan buntu juga dalam mengobservasi profil seseorang.
Actually, I'm good in observing a person thru internet. And, you are the exception. I have the limitation data to know about you deeper. Basically, I found some data about you, but I can't crack the code! It makes me quite frustrating.

Sampai akhirnya, yaudahlah gue beres-beres lemari aja. Udah lama banget gue gak beres-beres. Yeah, my kind of Saturday would be like this...
Yang ini gak ada hubungannya sih, cuma mau kasih tau aja kalau ini my first Saturday night spending time with myself. Just ignore it.

The next day, gue menyadari kodrat cewek itu tercipta centil ya... (yang ngebedain cuma kadar kecentilannya: tinggi atau rendah. Kalau gue sih terhitung sedang cenderung rendah ya...hehehe). Akhirnya gue memberanikan diri kirim sebuah chat sambil meremin mata pas tekan tombol "Send".
Ini pertama kalinya gue memberanikan diri mengirimkan pesan ke dia. Pesan standar sih, ucapan thanks sudah menjadi teman di media sosial tertentu. Pesan ini bertepuk sebelah tangan karena tak kunjung dapat balasan. Hal positif yang bisa dipetik adalah dia bukan tipikal orang yang suka ngobrol lewat media sosial atau aplikasi berbasis pesan. Asumsi sementara, dia orangnya real life banget! Kalau mau ngomong sama dia, ya ngomong langsung aja! (Kebalikan banget sama gue).

Tapi setelah itu, ada momen yang gak pernah bisa gue lupa. Melihatnya dari dekat dan menyentuhnya secara langsung. Duh, semacam gue ketemu artis idola terus gemeteran gak bisa ngapa-ngapain.
Ini nih yang paling BOOM. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, ada seorang teman yang baru gue kenal tiba-tiba minta dianterin dan dikenalin ke dia untuk urusan pekerjaan. Jadilah gue nganterin temen gue ini dan datengin dia.

Saat gue datengin, dia lagi sibuk dengan dunianya sendiri, dengan musiknya sendiri, dan gue... (deg-deg-an) mencoba manggil dia, tapi dia cukup budek saat itu karena dia lagi pake headset. Jadilah gue, menyentuh (iya... menyentuh) punggungnya, dan panggil dia sekaligus kasih tahu kalau ada orang yang lagi nyariin dia, dan orangnya itu ada di samping gue. Tapi... dia cukup gelagapan, sambil say Hi dengan sumringahnya beberapa kali ke gue.

Gue pun mengulang kalimat gue sebelumnya, "Ini ada yang cari untuk bla bla bla....". Dia masih liatin gue dan tetep say Hi sambil senyum. Akhirnya dia realize bahwa ada orang lain di samping gue yang dari tadi juga lagi liatin dia gelagapan. Dia pun akhirnya diajak ngobrol sama temen yang baru gue kenal itu. Terus gue ngacir deh sambil nahan ekspresi kesenengan. Akhirnya gue dapet space lompat-lompat sendiri di toilet. Sungguh adegan ini adalah bagian yang sangat sangat tidak penting sama sekali tapi cukup berarti bagi gue. (blushing)

Lompat-lompat ga jelasnya kayak gini deh kurang lebih...
Untung aja saat itu lagi sepi. :')

Dan... gue merasa kalau yang gue lakuin ini sudah sampai klimaksnya, dan gue masih merasa gak berisiko kok! Iya, ga?
Saat itu gue merasa kalau yang gue lakuin itu tidak berisiko untuk gue maupun untuk dia. Gue bisa bahagia sementara waktu, dan dia gak perlu merasa terbebani dengan sikap bahagia gue ini karena gue berusaha tidak menunjukkannya di depan dia. I'm invisible man.

Ya, lebih ke invisible sih bukan pengecut. Karena gue gak ada niatan untuk mengatakan sesuatu yang berarti ke dia dalam waktu dekat ini. Toh, gue pikir ini hanya sementara waktu hingga gue kembali jadi individu yang mandiri seutuhnya dan gak kembali ke seseorang yang ada di masa lalu gue.

Ini juga bukan maksud memanfaatkan dia atau semata-mata menjadikan dia sebagai pelampiasan/pelarian dengan jadiin dia sebagai orang yang gue suka saat ini. Sungguh, bukan!
Gue sama sekali gak banyak interaksi sama dia, dan bisa dipastikan ini aman juga buat dia. Gak gangguin kehidupan dia, dan dia nggak perlu merasa keganggu dengan my weirdo thingy.

Sampai akhirnya, rasa rindu itu mulai datang dan aku mulai sebal!
Di sini gue mulai mengumpat ke diri gue sendiri. Karena rasa rindu yang gak seharusnya sudah mulai muncul. :(
Akhirnya, gue chat gak jelas ke dia. Chat apa aja yang kepikiran saat itu, yang penting perasaan ini segera legaaaaa....
Gue mengontaknya melalui platform yang lain dengan menanyakan hal yang sangat gak penting dan berujung jawaban satu dua patah kata darinya. WTF@#$? hahahaha

Gue juga sih yang bodoh, kenapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya bakalan singkat. Jatuh cinta itu memang bisa bikin orang pinter jadi bodoh, bikin orang rasional jadi gak logis.

Oke, bagian ini kelar. Satu pertanyaan cukup dan gak ada pertanyaan lanjutan. THE END.
Tapi sayangnya gue malah jadi tambah gregetan dan gak bisa berbuat banyak karena gue gak tahu lagi harus nanya apa. Jalan buntu. Gue nunggu timing yang tepat aja deh kalo gitu. (Kalooooo~ masih adaaaa....)

Keesokan harinya, dia terlihat sungguh tampan. Mirip banget Lee Seung-Gi kalau lagi pake kemeja putih.
Ini nih yang bikin gue sangat bereaksi kimia, kemeja putih dan dia. IT IS SOOO LEE SEUNG-GI~  Mirip!
Padahal gue juga baru banget tahu itu Lee Seung-Gi dari film series Korea, dia gak kenal gue, kita tinggal di negara yang beda, tapi gue sukaaa dia. Dilihat dari peran yang dimainkan, membuat gue merasa akan senang banget kalau karakter dia itu beneran ada, walau andaikata di kehidupan nyata si Lee Seung-Gi ini marah-marahin gue, gue gak apa-apa banget. Marahin aja aku mas.... Aku udah siapin mental!
Ya, dia marah-marah aja keliatan cute banget. Pokoknya, aku padamu mas...

Nah, kembali lagi pas lihat dia pake kemeja putih. Gak beda jauhlah sama Lee Seung-Gi... (Nia mulai maksa mirip-miripin!)
Di marahin sama dia pun gue gak apa-apa. Toh, dia masih kelihatan manis dengan kemeja putihnya itu. :)
Tapi sih kalo bisa jangan dimarah-marahin, disayang-sayang aja... (Aciyeeeeeeee)

Sampai akhirnya, datanglah weekend....
Ini adalah momen yang paling gak penting.
Gue merasa hampir kehilangan energi positif karena gak ada aksi lanjutan antara gue dan dia. Sampe hopeless karena udah hampir weekend waktu itu. Gue gak rela kalau akhirnya weekend gue berakhir tanpa ada bumbu-bumbu bahagia yang layak untuk dibayangkan dan ujung-ujungnya gue malah mikirin orang yang bikin gue gagal move on. Untung aja pas gue balik, gue sempet noleh ke belakang dan saat itu tatapannya seakan-akan lagi ke arah gue.

Sekali lagi, gue bodo amat sih dia mau liatin apa yang terpenting itu arah pandangnya ke gue. Jadi, gue bisa punya alasan merasa bahagia dan punya stok memori mengingat mukanya di kala weekend.hehe

Yang pasti, gue gak mau mikirin yang dulu-dulu dan berakhir gue jadi menye-menye inget kenangan masa lampau. Gak banget! Duh, gue lagi secure hati banget agar jauh-jauh sama perasaan model gitu. I'm not too fragile, but I need to secure my heart by not thinking about it. Ngerti lah, maksud gue...

Terus, Senin pun datang. Seperti biasa, di pagi hari, gue mulai mencari dia lagi di tempat yang sama. Berharap ada kontak mata lagi yang terjadi hari ini. Sekadar buat penambah energi positif buat gue pagi ini...
Hello Monday! Rasanya gue makin sulit kontrol diri setelah melewati weekend yang cukup menyenangkan. Bisa dibilang reaksi kimianya meletup-letup. Tau deh dicampur zat kimia apa bisa jadi begitu...
Intinya, gue memulai Senin pagi gue dengan melihat dia yang lagi sarapan dadar gulung. Saat gue jalan ngelewatin dia, dia liatin gue juga. Tiba-tiba gue jadi deg-degan kayak anak SMP ketemu kakak kelas ganteng lewat depan kelas. Cupu banget gue! Gue gak berani untuk negur. Jadi, gue senyumin aja.

Padahal mah, abis lewatin dia, gue atur napas biar jantung gue gak lompat!

Siangan dikit, gue pun mendapatkan kesempatan ngeliat dia lagi, saat pake sepatu dan ngiket tali sepatu.

At the same day, at the real moment, lagi-lagi gue gak berani negur duluan, akhirnya dia yang negur duluan. (Nah, yang ini boleh deh lo katain gue pengecut!)

Dia negur gue, dan gue bales sekenanya. Abis itu dia masih liatin gue agak lama, di pikiran gue, mungkin dia berharap akan bercakap-cakap apa gitu. Karena gue lagi gak bisa kontrol diri, gampang banget deg-degan, alhasil gue langsung nyelonong aja... Bodohnyaaa Nia... (Boleh kok kalo lo mau ngatain gue pengecut lagi, gak apa-apa, gak apa-apa :'))

Yeah, I know... I know... I'm thinking too much!
Pas malemnya, gue mikir. Gue itu emang kebanyakan mikir. Pengen ngobrol aja pake mikir. Mau nyapa aja pake mikir. Jadilah gak ada aksi apa-apa dari gue. Padahal ya di pikiran gue udah banyak banget angan-angan Cinderella yang ingin gue lakuin sama dia. (ih najis lu, Ni!)

Di kesempatan lain, gue ketemu dia lagi. Berpapasan. :)
Gue menemukan dia di tempat yang sama. Posisinya gue mau keluar lewat sebuah pintu, dia baru mau masuk. Seperti biasa, hanya kata sapaan andalan yang mampu gue ucapkan, "Mas!"
Gue mengucapkannya tanpa suara, hanya gerakan bibir dengan harapan dia akan mengerti bahasa kalbu gue. Sangat memprihatinkan.

Di hari yang sama pula, gue sangat excited ngeliat dia ngajar ala-ala gitu. Dia emang pinter sih. Cuma gue gak tau sih dia sepinter apa. Yang gue tahu saking pinternya, dia kayaknya anaknya kurang teliti deh. Hal itu terlihat dengan struktur kalimat yang ditulis gak EYD dan sering typo. Cuma hipotesis sih! Lagian bahasa percakapan gak perlu EYD, Niaaaaaa...
Saat dia menghilang sesaat, gue agak mencari-cari di mana dia berada. Eh, dia lagi ngajarin timnya.
Entah ya, laki-laki pintar itu kadang selalu terlihat seksi. Jarang sih gue berpikir begini. Selama ini laki-laki humoris itu yang sungguh seksi! Tapi yang ini pengecualian. Dia memang seksi di mata gue. wkwkwkwkkw  (Najis lu, Ni!)

Tapi pas pulang kerja, mukanya kayak lelah gitu. Kasian... :(

Gue melihat wajah lelahnya itu saat gue mau ikut latihan cardio untuk pertama kalinya...

Ini program gue untuk menurunkan berat badan, dan mengalihkan diri dari realita. Gue bener-bener gak kasih otak gue space untuk memikirkan masa lalu. Super secure!

Aeorbic tiap minggu udah gue jalanin, dan sekarang cardio. Dalam 15 hari ke belakang aja gue udah turun 3 kilogram dan gue masih ngejar target biar bisa 45 kilo. Lumayan tinggal turunin sekilo lagi. Semangat!

Bahkan gue berencana juga ikutan Zumba di kantor gue tiap Senin dan nambah aerobic tiap Sabtu di daerah rumah gue. Dobel deh tuh aerobic Sabtu-Minggu.

Balik lagi ke dia, pas gue lagi mau latihan cardio, gue lihat dia lagi. Saat itu, gue lihat tatapannya aneh gitu. Mungkin dia gak suka kali ya liat cewek-cewek pake baju tipis dan celana ketat. Tapi gue pake celana panjang dan kaos kok. Warna gelap dan ga tipis-tipis amat cuma paling ya kunciran rambut di bagian poni gue aja yang bikin gue keliatan kayak anak PeA. Please don't mind my thought hehe

Pas balik cardio, gue inisiatif chat dia, karena ingin banget chatting lagi. Seperti biasa, pertanyaan paling gak penting diluncurkan. Alhasil, seperti biasa, berujung kentang.

Gue mulai memberanikan diri untuk chat lagi, karena kepikiran muka dia yang kelihatan lelah banget gitu. (Cuma perasaan berlebihan gue aja sih, padahal mah mungkin dia gak lelah-lelah banget kayaknya...)
Mungkin dia kebanyakan kerja dan kebanyakan mikir hari ini. Makanyaaaa, tong, kalo kerja jangan diforsir. Lanjutin besok lagi aja. (Ngomong ke diri sendiri, Nia?)

Dengan inisiatif chat duluan, tujuan awal gue sih ingin menunjukkan rasa perhatian gue ke dia, tapi pas diimplementasi dan "Send the chat" malah gak nunjukin perhatian sama sekali. Setelah terkirim dan dia bales agak lama, gue jadi merasa kalau chat yang gue kirimin tadi terkesan gengges (ganggu -red) dan berakhir supa dupa potato alias kentang banget! :(

Di akhir chat sih dia bilang makasih, tapi pas gue bales lagi gak dibaca lagi. Mungkin dia mikir, apa sih nih orang random banget! wkwk

Yaudahlah ya, nasib! THE END PART II.

Hari ini, pagi sekali, setelah curhat sama Tuhan dan diberikan sedikit petunjuk dan mendapat hidayah, akhirnya gue mengambil keputusan.
Kilas balik ke belakang, sejak tanggal 15 itu, secara sadar gue jadi makin rajin sholat, baik yang wajib atau yang gak wajib. Gue bahkan merasa senang walau kegiatan rohaniah ini menuntut gue bangun di pagi buta. Padahal mah dulu-dulu, boro-boro dah... Bangun subuh saja ku sulittt. :(

Gue jadi sering ngobrol sama Tuhan (Lebay mode on nih! Macam Tuhan sahabat karib gue :'))
Untuk bagian ini, tolong jangan pandang gue sebagai manusia yang riya'. :(
Gue hanya ingin menuliskan detail bahwa ada sesi bicara heart to heart sama Sang Pencipta. Adakalanya gue butuh petunjuk atas perasaan dan jalan hidup yang selama ini telah dianugerahkan ke gue baik dalam bentuk nikmat maupun dalam bentuk cobaan. Jadi, kalau lo menganggap bagian ini seperti 'pamer', gue minta maaf karena kesempurnaan hanya milik tuhan dan kesalahan hanya milik gue.

Iya, gue jadi lebih sering curhat sama Tuhan. Gue curhat bahwa gue merasa terlalu hiperbola mengkamuflasekan perasaan gue. Gue juga gak mau kalau akhirnya cuma baper (bawa perasaan -red) doang. Jangan sampe gue jadi semacam jatuh cinta sama tiang listrik. Gak lucu, kan ya, gue heboh lalala yeyeyeye, dianya diem aja. Tak berbalas. :(

Jadi, dari hasil curhat gue sama tuhan, gue mendapatkan suatu tanda dan akhirnya memutuskan untuk menyudahi permainan ini, menurunkan kadar dophamin dan serotonin gue, serta lebih mengontrol diri kalau dia itu hanya orang biasa. Bukan Lee Seung-Gi yang gue bayangkan. Gue pun hanya orang biasa yang gak serta merta bisa melet dia hari ini terus besoknya dia sudah jatuh ke pelukan gue. Gue tahu semua itu butuh proses. Intinya, I stop my weirdo actions!

Kalau emang kita sama-sama ada kans (chance), biar dia aja deh yang lebih banyak nunjukkin. Gue gak mau kebanyakan lompat-lompat kegirangan, takut keseleo. Toh, andaikata dia punya perasaan yang sama dan sudah terang-terangan, off course, I'll say I do. (NGAREP ABIS SUMPAH!)

Kalau emang kita sama-sama ada kans, biar kita mulai ini semua sebagai teman, sebagai manusia normal. Kalau selama ini kan, dianya normal, guenya kayak orang gak waras di belakang layar. hahahahaa

Kalau emang kita gak ada kans, itu gak apa-apa buat gue. Seengganya gue sudah menyelamatkan hati gue agar kadar baper gak makin tinggi. Karena gue sadar gue udah mulai baper, jadi akan lebih bijak kalau gue mengontrol diri agar menjadi semestinya aja dan secukupnya.

Jadi, per hari ini. Bertepatan dengan ditulisnya blog ini. Gue memutuskan ini: (Sekali lagi gue menegaskan)
Semoga ini adalah jalan terbaik yang tidak akan menyakiti siapapun.

Gue rasa, gue sudah siap untuk menjalani semuanya sendiri. Thanks! :)




You Might Also Like

0 comments