Guilty Pleasure #1: Bahagia Karena Tidak Menguasai Sesuatu

8:19 PM

Dominance is a burden. I admitted it.
I am a dominant and curious person about everything that really matter for me, myself, and I and you and him and her and anything else related with me, mostly about something not important. But, to be honest, several weeks ago, I got a moment when I have a crush with a guy who has an expertise on a subject that I'm not expert in.
#Flashback, after more than 4 years had a good relationship with the last one, I realized, my dominant character is one of some aspects which may caused it end. Sorry.
At that time, I thought that I knew, I thought that I can help, I thought that I can gave him some advises, I thought that I can help to solve his problems, I thought that I could make him to be a better person but I'm not, I'M NOT. I'm totally wrong!
Dominance is an interruption action to cut others creativity while they are thinking about some ideas or creating something. Suddenly, when someone is trying to lay the ideas out, we can't wait the process patiently, our mind thinking faster while waiting our chance to speak, we are not listen carefully, and then, CUT! We thought that our words is more important than anything else in this world. Then, we spoke. Unconsciously, we owned the show, we owned it. We dominated the show.
Our impolite way might forces them to follow our advises. Consciously or unconsciously. 
Dominance is a burden. I admitted it.  
So that, I'm trying to reduce it. 
For a better version of me. For a better upcoming relationship. For a better upcoming networking. For a better interaction to each others. For a better future.
And... for the first time, I feel so happy to know my little crush is expert on subject that I don't know exactly what it is. I knew, but only knew the term. For the Theory and practical implementation? I have no idea. 
But, I enjoyed it. Because, I knew I'm not going to interrupt him. I enjoyed the art of unknowing of something.
 Yak!
Ada masanya ketika gue merasa nggak perlu tahu segalanya.
Ada masanya ketika gue merasa nggak perlu hebat dalam segala bidang.
Karena nggak semua orang bisa jago dalam segala bidang, kecuali itu mukjizat.

Kita cuma bisa memilih:
1. Apakah kita hebat dalam satu hal dan tidak terlalu hebat dalam hal lainnya, atau
2. Tahu segala hal tapi tidak terlalu hebat dalam semua hal itu

It's up to us!

A great man who has more than 20,000 employees ever said, "I don't know anything, if I knew it all, I don't need you for running this company. Because I don't know of anything, I'm having you here, and get success together."

Jadi, menurut menafsiran bebas gue, sukses itu bisa dicapai ketika kita gak sotoy atas segala sesuatu dan menyerahkan hal yang kita gak tahu itu kepada orang yang ahli atau orang yang sudah punya ilmu dasar akan hal yang kita nggak tahu itu.
Setuju, nggak?

Poinnya, gue bukan mau cerita tentang hal di atas tadi sih hahaha
Gue mau cerita betapa gue menikmati momen saat menyukai orang yang punya keahlian yang gue gak bisa sama sekali.

Ternyata makin gue nggak tahu, gue makin nggak bisa menginterupsi dan mendominasi. Alhasil, gue menjadi pendengar yang baik atau sekadar menjadi pengamat yang baik.

Sisi positifnya, gue bisa jadi pendengar yang baik dan mengenyampingkan ego gue untuk menginterupsi. Toh, nggak mungkin diinterupsi juga, orang gue nggak ngerti yang dia kerjain itu apa.

Di sisi lain, gue jadi pendengar yang sangat baik saat hal yang nggak gue ngerti itu dijabarkan langsung sama dia. Walaupun gue tetep nggak ngerti, gue merasa bersyukur ada hal baru yang gue ketahui dan gue nggak minat-minat banget untuk mendalami.

Kurangnya minat untuk mendalami tersebut, gue rasa ada nilai positifnya, karena gue nggak gatel untuk cari literatur penunjang atau sekadar googling ini itu untuk mencari tahu lebih detil dan mendalami dunia yang dia kerjakan. No, gue ga butuh itu saat ini.

Karena, semakin gue banyak tahu, kecenderungan untuk menjadi sok tahu bisa aja muncul tanpa disadari. Jadi gue mengontrol diri gue untuk " Hold on, Ni, just enjoy the moment."

Semoga sih, ke depannya, gue bisa lebih menahan diri untuk tidak terlalu dominan sama siapapun dan dalam kondisi apapun atau secara sadar menahan diri untuk nggak motong pembicaraan orang begitu saja.

Sebab, menurut gue, hal tersebut memang terjadi secara spontan, saat kita merasa pikiran kita berlari terlalu cepat dan ada dorongan untuk segera memuntahkan isi kepala sesegera mungkin sebelum isinya menguap begitu saja akibat short term memory.

Padahal sebenernya, dominasi dan interupsi bisa dikendalikan kalo kita mau berusaha mengendalikan itu.
Serta bisa menyesuaikan penggunaan interupsi dan menunjukkan sikap dominasi secara tepat sasaran dan sesuai tempatnya. Misalnya saja menginterupsi dan mendominasi lawan bicara di ajang Debat Bahasa Inggris/Indonesia Tingkat Nasional & Internasional.
Tul, nggak?

You Might Also Like

0 comments