Asrama Putri Aceh “Pocut Baren”: Tempat Tinggal Murah Bagi Muslimah (Mahasiswi Depok, Jawa Barat)

1:45 AM

Artikel berikut dipaparkan dalam bentuk deskripsi ya teman-temanku. :D



Setelah hampir dua tahun tinggal di Asrama Putri Aceh “Pocut Baren” yang terletak di sekitar Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, baru kinilah terasa nikmatnya. –Nurmala Dewi
Asrama Putri Aceh Pocut Baren terletak
di Jalan Kedondong, Margonda Raya.


Embun selalu membasahi rerumputan setiap pagi. Udara berembus segar merasuk ke sukma. Burung-burung selalu berkicau sebelum adzan subuh berkumandang. Gema adzan membangunkan para penghuni asrama  untuk berwudhu dan sholat berjamaah. Tak lupa pula untuk bertadarus beberapa ayat.
“Saya masih ingat ketika kami masih berjumlah 12 orang dalam satu lantai, kami sholat subuh dan isya berjamaah. Berbicara kesana-kemari, dari politik, budaya, hingga agama. Sampai-sampai begadang untuk ujian pun tak terasa kantuk apabila bersama-sama,” kenang Nurmala Dewi, mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) yang tinggal di asrama Aceh sejak Februari 2009.
Matahari mulai genit mengintip, menandai hari sudah mulai terang. Penghuni asrama hiruk pikuk melakukan rutinitas. Ada yang membeli sarapan, mencuci baju, menyetrika, piket harian, piket membuka pintu gerbang, mengerjakan tugas, dan mandi. Suasana islami memang cukup kental disini.
Setiap pukul 06.45 WIB, bel akan berbunyi dari sekolah di seberang asrama. Penghuni asrama lari terbirit-birit mengantri untuk mandi. Ada pula yang menyantap sarapan pagi bagi penghuni yang sudah mandi. Hampir semua dari penghuni asrama, berangkat setiap pukul 07.30 WIB.
Aula dijadikan sebagai
 sarana berkumpul dan diskusi
Bangunan asrama putri Aceh yang bergaya minimalis ini terdiri dari empat lantai. Bagian bawah terdapat aula yang cukup luas untuk berkumpul, membaca buku di perpustakaan sederhana, rapat besar kegiatan-kegiatan mahasiswa, dan menggelar pengajian setiap Kamis malam.
“Biasanya para mahasiswa menyewa aula Rp 30.000; untuk rapat kegiatan mahasiswa karena ingin mencari suasana baru selain di kampus,” kata Ibu Yani, pengelola Asrama Aceh “Pocut Baren”.
Jangan heran bila pertama kali melihat asrama ini, mungkin lebih mirip villa empat lantai. “Tinggal di sini kayak tinggal di apartemen. Untung masih mahasiswa jadi bisa tinggal di sini,” tandas Nurmala, yang kerap disapa Mala. Hampir semua penghuni merasa senang dan puas terhadap fasilitas yang ada di asrama ini.
Dari muka, dapat dilihat dua balkon yang terbuat dari besi dan bercat hitam. Sebagian temboknya tersusun atas batu koral dan tembok lainnya bercat krem.
Halamannya cukup luas, dan memungkinkan beberapa mobil pribadi dan sepeda motor parkir di halaman.
Setiap tahun, penghuni asrama dapat menikmati buah dari pohon yang ada di halaman. Pepohonan yang tumbuh subur dan berbuah setiap tahun itu adalah pohon belimbing, sawo, rambutan, dan mangga. Pohon hias seperti cemara pun juga menambah keasrian asrama ini.
Asrama ini tidaklah sepadat seperti kawasan kost-an yang ada dalam lingkungan Universitas Indonesia (UI), Depok. Asrama Aceh diapit oleh kebun kosong yang ditanami jagung, dan jembatan yang di bawahnya terdapat parit yang cukup bersih. Aliran air di parit cukup deras. Beberapa penduduk sekitar sering memancing di pinggir parit dari matahari terbit hingga senja tiba.
Para penghuni juga tak perlu repot-repot mencari makan karena telah tersedia kantin di asrama ini. “Selain itu jajanan kuliner di sini juga banyak, apalagi kalau malam. Ada bubur ayam, bubur kacang hijau, bakso, mie ayam, nasi goreng, sate padang, roti Bandung, cakwe, roti bantal, ayam bakar, dan masih banyak lagi,” jelas Laresesae Oryza Sativa, penghuni lantai tiga, ekspresif.
Asrama milik Yayasan Rahmania Fortuna dibangun di atas tanah seluas 1.000 meter persegi. Setiap lantai (lantai sering disebut unit) terdiri dari empat kamar. Tiap kamar dihuni oleh tiga orang. jika semua unit terisi penuh, maka penghuni asrama berjumlah 48 orang, namun hingga kini jumlah penghuni 26 orang. Mereka banyak yang berasal dari Aceh, Jakarta, Sumatera, dan Jawa.
Suasana kekeluargaan juga dibangun dengan baik di sini. “Kita punya ruang untuk berkumpul di tiap unitnya, kekerabatan juga terasa. Karena satu kamar tiga orang, kita belajar untuk menghargai dan berbagi dengan teman sekamar, disitulah pembelajaran dan pendewasaan terbentuk.” Jelas Mala.
Selaras dengan pernyataan Mala, Winda Eriska merasakan menemukan keluarga baru ketika tinggal di asrama. “Say, kan, anak rantau, jauh dari keluarga. Kalau saya tinggal di kost pasti saya hanya sosialisasi di kampus saja, makanya saya pilih tinggal di asrama. Nah, disinilah saya mendapatkan keluarga baru,” jelas Winda, mahasiswi asal Lampung yang berkuliah di FIK UI.
Rak buku sekaligus
 lemari dan meja belajar
Fasilitas di dalamnya pun juga cukup memadai. Tiga kasur dengan satu bantal, tiga meja belajar sekaligus rak buku dan rak baju. Ada pula empat kamar mandi serta ruang makan yang sering dijadikan sebagai tempat bercengkrama dengan penghuni. “Di sini kami seperti menjaga dan merawat rumah sendiri. Ada piket kebersihan, piket mengunci pintu gerbang, dan lain-lain. Program-programnya pun bermanfaat dan membuat saya lebih disiplin.” Ucap Marhammatunnisa, penghuni unit empat sembari mengelap wastafel dengan lap basah.
Ada yang unik di asrama ini. Dari empat lantai, jumlah televisi yang disediakan asrama hanyalah dua unit saja. Jadwal pemindahan TV digilir untuk tiap unit yang dilakukan setiap bulannya. Misal, pada awal Januari TV berada pada unit ganjil dan bulan Februari, TV berada pada unit genap, begitu seterusnya.
“Tujuan penyediaan dua unit TV untuk empat unit agar para penghuni bisa menjalin tali silaturahim dengan saling berkunjung antar unit layaknya berkunjung ke rumah tetangga atau saudara.” Tutur Ibu Yani.
Suasana pengajian
Asrama juga memiliki program rutin yang dibentuk dari yayasan yang didirikan oleh Bapak Rahman ini. Setiap Kamis malam adalah jadwal untuk pengajian, Jum’at pagi dilaksanakan sholat tahajud dan sholat subuh berjama’ah. Imam sholat pun digilir. Misal, minggu pertama imam sholat tahajud dan subuh dari Unit satu, minggu kedua dari Unit dua, dstr.
Menjaga kesehatan bagi para penghuni juga selalu dilakukan dengan senam, olahraga, dan permainan tim yang dilakukan hari Sabtu di minggu pertama awal bulan. Begitu halnya dengan kerja bhakti membersihkan asrama. Buka puasa bersama para pengelola asrama, anak yatim, dan masyarakat sekitar asrama juga menjadi agenda rutin setiap tahunnya
Tak perlulah merogoh kocek terlalu dalam untuk membayar iuran asrama per bulannya. Mahasiswa hanya perlu mengeluarkan uang sekitar Rp 150.000,00 per bulan. Apabila dibandingkan dengan biaya kost-kostan pada umumnya yang berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 1.000.000, asrama ini terhitung cukup ekonomis. Namun, jarak dari Kampus UI Depok memang menjadi kendala. Dari asrama, para penghuni masih harus naik kendaraan umum untuk mencapai kampus.
Mahasiswa UI yang tinggal di sini rata-rata dari Fakultas Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik.
Selain di Depok, asrama dari Yayasan Rahmania Fortuna ini juga tersebar di Kota Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Malang. Yayasan Rahmania Fortuna yang berkantor pusat di Benhil, Jakarta Selatan memang bergerak di bidang sosial. Mereka juga turut menyantuni anak-anak dan fakir miskin di daerah Bantar Gebang serta mengadakan pelatihan akademik bagi guru-guru Madrasah di Depok dan Jakarta.
Penghuni asrama juga tak boleh pulang terlalu larut, karena pintu gerbang dan teralis akan ditutup setiap pukul 22.00 WIB. Batas menerima tamu laki-laki hanya sampai sebatas aula. “Apabila melanggar akan ditegur hingga tiga kali dan apabila melewati batas toleransi, maka akan dikenakan sanksi hingga dikeluarkan dari asrama.” Tutup Ibu Yani.
Lorong tangga untuk menuju setiap unit
Banyak mahasiswi yang tidak tahu mengenai keberadaan asrama ini, karena letaknya memang jauh dari kampus yang ada di Depok, seperti Universitas Indonesia dan Gunadharma.
Kebanyakan para penghuni asrama mengetahui dari teman se-fakultas yang sedang atau pernah tinggal di Asrama Aceh. Ada pula yang mengetahui asrama ini setelah mengikuti rapat kegiatan mahasiswa di sini. “tadinya, sih, ikut rapat kegiatan keagamaan dari kampus yang diadain di sini. Dilihat-lihat tempatnya enak juga, jadi tertarik tinggal di sini. Apalagi letaknya juga gak terlalu jauh sama FIK,” ungkap Marhamatunnisa.
Suasana saat Idul Adha
Setelah dua tahun di sini, barulah terasa bahwa asrama Aceh memiliki kelebihan: fasilitas yang memadai, Iman yang bertambah, dan biaya hidup yang tak perlu terlalu dipusingkan.

You Might Also Like

0 comments