Elemen-Elemen Dalam Etika Jurnalisme

10:18 PM


Elemen-Elemen Dalam Etika
Jurnalisme
Agus Nia
Jurnalisme-Ilmu Komunikasi
UI 2009


Jurnalisme ada diawali dengan sikap ingin tahu. Jurnalisme tidak bermula dan berakhir dengan berita. Jurnalisme muncul karena sikap keingintahuan kita akan informasi. Inilah yang melatarbelakangi tujuan utama jurnalisme, yaitu menyediakan informasi yang diperlukan orang agar bebas dan bisa mengatur diri sendiri.
Ketika dunia jurnalisme mulai dicampuradukkan dengan bisnis—perhitungan untung rugi--, masyarakat mulai tidak percaya dengan berita dan informasi yang disajikan wartawan. Pada 1999, hanya 21 persen warga Amerika yang berpikir bahwa pers peduli terhadap rakyat, hanya 58 persen yang percaya bahwa peran pers sebagai watchdog, dan hanya 45 persen yang berpikir bahwa pers melindungi dekokrasi.[1] Rendahnya tingkat kepercayaan warga terhadap media karena pada saat itu telah terjadi komersialisasi media pada masa itu.
Jurnalisme ada untuk menyampaikan informasi yang independen, dapat diandalkan, akurat, dan komprehensif yang dibutuhkan masyarakat untuk hidup merdeka. Untuk itulah Comitee of Concerned Journalists membuat pengujian sistematis dengan melakukan survei terhadap lebih dari 300 wartawan mengenai pengalaman dan kesaksiannya dalam mengumpulkan berita serta tanggung jawabnya sebagai wartawan. Hasil dari pengujian sistematis ini membuahkan hasil berupa identifikasi prinsip-prinsip yang hakiki dalam jurnalisme yang dituangkan dalam sebuah buku Elemen-Elemen Jurnalisme karangan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Elemen yang pertama, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka dapat hidup merdeka dan mengatur hidupnya sendiri. Oleh karena itu journalistic truth dibutuhkan sebagai disiplin profesional seorang wartawan dalam pengumpulan dan verifikasi fakta. Sikap skeptis dalam mengumpulkan data dapat menghantarkan sorang wartawan untuk mem-verifikasi atau me-re-check berita atau informasi yang ia miliki hingga mencapai keakuratan. Akurasi ini menyangkut dalam hal konteks (isi berita), interperetasi (interpretasi wartawan akan fakta), komentar (dari narasumber), analisis, kritik, dan debat.
Selanjutnya, elemen jurnalisme tertuang pada loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat. Yakni menyampaikan berita tanpa rasa takut atau memihak (fear or favor) kepada kelompok kepentingan tertentu. Prioritas komitmen kepada warga masyarakat adalah basis kepercayaan sebuah organisasi berita dalam membentuk audiences yang luas, karena kepercayaan warga terhadap organisasi berita adalah aset terpenting dalam organisasi tersebut. Dalam memmpertahankanindependensinya terhadap warga, seorang wartawan harus membebaskan dirinya dari tekanan-tekanan politik, bisnis, dan bahkan tekanan dari perusahaan medianya.
Inti jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Seorang wartawan berfokus untuk menceritakan fakta setepat-tepatnya; seakurat-akuratnya (zero mistake). Ketika mendapatkan suatu informasi, seorang wartawan akan bersikap skeptis kemudian me-re-check fakta tersebut dengan mencari saksi, menyingkap sebanyak mungkin sumber atau bertanya kepada berbagai pihak terkait untuk dimintai komentar akan kebenaran fakta tersebut. Elemen ini tentu saja tetap berpegangan dengan nilai fairness dan balances yang bermuara dengan keyakinan untuk tidak menambahi sesuatu yang tidak ada pada fakta berita, tidak menipu audiens, dan berlaku se-transparan mungkin.
Elemen yang ke empat, para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput. Kebebasan disini memiliki arti bahwa seorang wartawan harus jujur dalam menyampaikan informasi tanpa adanya tekanan atau rasa loyal terhadap kelompok tertentu (kelas,status ekonomi, ras, etis, agama, dan gender tertentu).
Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebaas terhadap kekuasaan. Disinilah peran wartawan sebagai watchdog atau anjing penjaga, yaitu membuat segala tindak tanduk dan kebijakan penguasa menjadi transparan dan diketahui serta dipahami warga. Selain itu, peran wartawan disini juga sebagai pemantau kekuasaan serta penyampai aspirasi dari kaum yang tak bersuara agar penguasa dapat mendengar aspirasi mereka melalui media dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam mebuat kebijakan.
Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik. Peran publik ialah menilai dan mengambil sikap terhadap suatu fenomena sosial, serta menciptakan kompromi publik. Adakalanya kritik dan komentar publik dapat menimbulkan debat kusir yang tak berujung. Oleh karena itulah forum jurnalistik harus taat pada semua prinsip jurnalistik dan menghayati peran utama forum publik, yaitu untuk melakukan kompromi dan menciptakan masyarakat demokratis.
Jika tujuan forum publik untuk menerangkan yang gelap, maka elemen jurnalisme selanjutnya adalah harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan. Jurnalisme adalah story telling with a purpose, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat dalam memahami dunia. Oleh karena itu, dalam penyampaiannya, diperlukan kemampuan menulis informasi seperti bertutur. Kualitas dari berita yang dibuat, diukur dari sejauh mana karya yang dibuatnya melibatkan audiens dan mencerahkan hal yang gelap atau buram. Tugas wartawan adalah menemukan cara membuat hal-hal yang penting menjadi menarik untuk setiap cerita dan menemukan campuran yang tepat—dari serius ke kurang serius—dalam laporan berita sebagai color. Tanggung jawab wartawan bukan sekedar menyediakan informasi, tapi menghadirkan sedemikian rupa dengan fakta-fakta yang relevan sehingga orang tertarik untuk menyimak.
Elemen yang ke delapan ialah wartawan harus menjaga agar berita proporsional dan komprehensif. Jurnalime adalah kartografi modern. Ia menghasilkan sebuah peta bagi warga untuk mengambil keputusan bagi kehidupan mereka. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme tergantung pada kelengkapan, proporsionalitas dan komprehensivitas yang merupakan kunci akurasi.
Elemen terakhir yang mengikat semua elemen-elemen jurnalisme di atas menjadi satu adalah wartawan memiliki kewajiban terhadap suara hatinya. Disinilah suara hati berperan sebagai penjaga nilai etik dan tanggung jawab (as moral compass). Kita harus mau, bila rasa keadilan dan akurasi mewajibkan untuk menyuarakan perbedaan dengan rekan kita, baik di dalam ruang redaksi maupun di luar ruang redaksi. Seorang penyiar berita Carol Marin kepada Comitee of Concerned Journalists menyatakan bahwa wartwan harus memiliki keyakinan yang membuat mereka sanggup untuk meninggalkan pekerjaan demi keyakinannya itu.[2] Oleh karena itu, suara hati dijadikan kompas moral untuk mempertahankan kebenaran yang berpihak pada warga karena ada tanggung jawab didalamnya yang menyangkut kekauratan berita dan prinsip etika jurnalisme.
Sumber:
Kovach, Bill-Tom Rosenstiel. 2001.Elemen-Elemen Jurnalisme. Jakarta: ISAI.
Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar.Jakarta: Kompas.



[1] Kovach, Bill-Tom Rosenstiel. Elemen-Elemen Jurnalisme. 2001. Jakarta: ISAI. Hal.3.
[2] Ibid. Hal. 234.

You Might Also Like

0 comments